Society

Making Judgement atau Judgmental?

Hari ini saya menjadi pengamat isu konde. 😁
Mengamati yang mengomentari.

Semakin ke sini, saya merasa media sosial semakin kejam ya. Orang berlomba-lomba berpendapat tentang seseorang atau sesuatu, seakan pendapatnya itu penting dan sangat diperlukan. Namanya berlomba ya pasti cepat. Namanya cepat ya kadang kurang pertimbangannya.

Berawal dari sini saya jadi teringat diskusi dengan seorang teman, tentang making judgement dan judgmental. Saya berusaha mencari padanan dua kata ini dalam Bahasa Indonesia, yang paling deket dengan making judgment mungkin membuat penilaian ya? Kalau judgmental saya belum nemu.

Sering kita denger orang bilang, “jangan suka ngejudge orang”. Lalu apakah mungkin kita hidup setiap hari tanpa ngejudge? Saya rasa kok ngga mungkin. Otak kita memang sudah didesain untuk membuat judgement kok, karena kita memang perlu membuat keputusan-keputusan setiap hari.

Yang perlu kita pahami adalah membedakan making judgement dan being judgmental.
Kalau kita lihat definisinya di kamus, kita langsung paham lho harusnya.

judg¡ment
noun
  • : an opinion or decision that is based on careful thought
judg¡men¡tal
adjective
  • : tending to judge people too quickly and critically

Cukup jelas itu kan?

Selanjutnya kita pelajari aja gimana caranya supaya kita ngga jatuh ke jenis judgmental?
Gregg Henriques, Ph.D., profesor di James Madison University di Virginia, menulis di Psychology Today tentang kunci-kunci penting untuk membuat penilaian/making judgement.

1. Empati
Sangat penting untuk memahami dulu secara utuh tentang seseorang sebelum membuat penilaian. Siapa dia, darimana dia berasal, bagaimana kondisi keluarganya, pengalaman hidupnya, dll dsb. Sebanyak mungkin informasi tentang hal yang menjadikan dirinya saat ini, hal yang memunculkan sikap/perilakunya.

2. Perspektif ttg nilai / value
Setelah paham tentang individu ybs, maka kita akan menimbang untuk melihat dari kacamata siapa. Kacamata kita, kacamata dia atau kacamata yang berlaku umum?

3. Situasi
Pertimbangkan juga situasi/kondisi yang menyertai sikap/perilaku yang kita nilai.

4. Orang / perilaku?
Pernah dengar kan, “judge the sin not the sinner”. Nah, idealnya begitu..

5. Pengetahuan/keahlian
Kita sebenernya ngerti ngga sih tentang apa yang kita judge? Jangan sampai judgement cuma berdasar pada suka atau tidak suka pada si pelaku. Terus, kalau misal kita sudah membuat penilaian, lalu kita punya data/informasi baru. Seterbuka apa kita akan membuat perubahan pada penilaian tersebut.

6. Efek
Penting untuk mengukur apa efek yang akan timbul saat kita membuat penilaian. Terutama kalau kita punya cukup pengaruh. Ngga harus jadi policy maker lho untuk punya pengaruh. Para influencer di media sosial, di berbagai levelnya, juga bisa mempengaruhi para follower-nya. Inget, segala hal yang kita buat, ada pertanggungjawabannya.

Ribet ya?
Iya lah. Ngga semua orang bisa jadi hakim. Sudah jadi hakim pun kadang masih salah.

Jadi?
Nampaknya kita (baca: saya) perlu banyak berhati-hati untuk main hakim-hakiman ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *