Travelling

Surga Toleransi Bernama Lasem #1

Puas memotret pintu-pintu rumah tua, kami lanjut menyusuri gang di Kampung Karangturi, Lasem. Tak lama, di ujung Karangturi Gang II tampak satu bangunan kecil berwarna merah menyala.

Saya pikir, tak lama lagi kami akan sampai di Klenteng Gie Yong Bio. Ternyata tebakan saya salah, kami justru sampai di pesantren!

Ada pesantren di Pecinan?

Ya, Pondok Pesantren Kauman Lasem. Cerita tentang pesantren ini sebenarnya sudah pernah saya dengar sebelumnya. Gambar Gus Zaim, pengasuhnya, yang sedang berinteraksi dengan sesama warga Lasem beretnis Tionghoa banyak beredar di media. Namun sungguh saya tak menduga, pondok ini benar-benar berada di dalam wilayah Pecinan Karangturi.

Ada perasaan setengah tak percaya. Wow.

Untuk saya yang tinggal di Jakarta, dan merasakan sendiri bagaimana suasana di kota ini pasca pilkada tahun 2017 kemarin, rasanya seperti menemukan oase.

Saya dan kawan-kawan makin penasaran. Namun kami sadar diri, memgingat sedang tak berpakaian pantas untuk berkunjung, kami hanya berniat melihat-lihat dan mengambil foto.

Saat kami celingak celinguk mencari pada siapa kami harus ijin, tiba-tiba seorang perempuan menyambut kami dengan gesture dan suara ramah, mempersilakan kami masuk. Agak ragu, pakewuh. Namun ajakan ramah ini tentu saja tak mungkin kami tolak. Rupanya yang menyambut kami tadi adalah Umi Aci (Fatimah Asri), istri dari Mbah Bedug, kemenakan Gus Zaim.

Kami dipersilakan duduk di beranda rumah berarsitektur Tionghoa yang tidak diubah sedikit pun. Bahkan tulisan dengan huruf Tionghoa di daun pintu utama tak dihilangkan. Suasana berandanya sangat adem, kontras dengan suasana Lasem yang panasnya cetaaarrrr khas pantura. Umi Aci menemani kami ngobrol, salah satunya adalah tentang bangunan merah tadi, yang ternyata adalah poskamling.

Tak lama senampan teh hangat tersaji, membuat kami makin merasa tak enak hati, kuatir merepotkan.

Sambil mengobrol, saya mengamati suasana sekitar, pandangan mata saya kemudian tertumbuk pada benda yang tergantung di kayu penyangga atap beranda, yang seketika membuat saya meleleh.

Lafadz Ar Rahmaan tertulis di sebuah lampion yang biasanya kita lihat saat perayaan Imlek saja. Suasana adem di beranda yang teduh ini, semakin terasa adem.

Ar Rahmaan artinya Yang Maha Pemurah.

Ah, Allah memang Maha Pemurah. Dilimpahinya saya banyak kesempatan melihat dengan mata kepala sendiri. Bagaimana perbedaan tak perlu dipermasalahkan. Agama dan etnis yang berbeda tak menghalangi warga Karangturi berbagi ruang dengan damai.

Pelajaran pertama hari itu.

Pelajaran tentang toleransi yang sebenar-benarnya dari Lasem.

….bersambung….

1 thought on “Surga Toleransi Bernama Lasem #1”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *