Cultural, Society

Orang Jawa Timur Kasar? Eits, Nanti Dulu…

Setiap kali berkenalan, dan menyebut daerah asal, yang adalah Surabaya. Sebagian besar respon yang saya terima adalah, wah, bonek. Yang kemudian ujungnya adalah, orang Jawa Timur itu kasar ya. Hehehehe…

Pemikiran ini tidak salah juga, tapi tidak sepenuhnya benar.

Orang Surabaya yang lebih lazim disebut sebagai Arek Suroboyo, sebenarnya tidak kasar. Karena di kultur arek, Bahasa Jawa yang dipergunakan pun masih mengenal kasta, ngoko, kasta terendah untuk percakapan dengan yang seusia. Dan kromo madyo, digunakan dalam percakapan dengan lawan bicara yang lebih tua atau dihormati secara sosial. Memang jarang ditemukan penggunaan kromo inggil, kasta tertinggi Bahasa Jawa, dan itu sesuai dengan karakter kultur arek yang egaliter dan lugas.

Kelugasan inilah yang kadang dipersepsi sebagai kasar, karena tak jarang, kami arek-arek Suroboyo, sering nyeplos gitu aja tanpa tedeng aling-aling dalam menyampaikan isi kepala. 😁

Dan jangan salah, Jawa Timur itu tak hanya diisi oleh Arek.

Jawa Timur punya empat tlatah (wilayah) kebudayaan besar. Arek, Mataraman, Madura dan Pandalungan. Juga 6 tlatah kecil, Jawa Panoragan, Osing, Tengger, Madura Bawean, Madura Kangean dan Samin (Sedulur Sikep).

Coba sekarang cek temanmu yang asalnya dari Kediri, Madiun, Ngawi dan kota-kota di wilayah barat Jawa Timur, sampai ke utara, di Tuban dan selatan, Pacitan. Sama-sama orang Jawa Timur, tapi mereka bicaranya halus, gaya bahasanya beda, cara bicaranya juga ngga selugas arek-arek. Mereka lebih mirip orang Jawa Tengah. Kenapa?

Karena mereka orang Jawa Mataraman. Tepat, kalau kamu menebak, mereka ini jejak peninggalan Kerajaan Mataram. Karakter budaya mereka mirip dengan Jogjakarta dan Surakarta.

Peta Pembagian Tlatah Budaya Jawa Timur – 📷 GoodNewsFromIndonesia

Di peta ini, wilayah Mataraman ditandai dengan warna coklat muda, dan wilayah Arek ditandai dengan warna kuning. Coba tebak, wilayah kuning itu bekas wilayahnya siapa? 😁😁

Cuma bahasanya saja kah yang berbeda?

Nggak dong, produk budaya yang paling mudah dikenali ya bahasa. Selain bahasa, makanan, karakter orang-orangnya juga berbeda. Semakin ke barat, makanan semakin manis, khas makanan Jawa Tengah. Makin barat karakter juga makin ‘kalem’ 😁.

Wilayah hijau, adalah tlatah Madura. Dengan produk budaya yang berbeda lagi. Makanannya banyak kering-keringan, jarang sayur, mereka tipe penjelajah sejati, semua karena alasan yang sama, kondisi alamnya tak sesubur wilayah Jawa Timur lainnya. Kebanyakan dari mereka merantau, termasuk ke bagian timur Pulau Jawa, yang ditandai dengan warna biru. Hidup berdampingan dan melebur dengan budaya Jawa, membentuk tlatah budaya baru, Pandalungan, perpaduan antara Jawa Madura. Contoh gampangnya adalah Mas Anang! Meski tak selalu berbahasa Madura, aksen Maduranya kental sekali 😁😁.

Ini baru Jawa Timur. Nanti kita akan oprek-oprek wilayah lain di Pulau Jawa ya. Dengan mengenal karakter orang yang kamu hadapi, kamu bisa lebih leluasa menyesuaikan diri. Kan judulnya tak kenal maka tak sayang..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *