Cultural, Travelling

Inspirasi Toleransi di Gie Yong Bio Lasem

Di catatan sebelumnya, saya pernah sampaikan betapa dan bagaimana Lasem sangat kental dengan budaya Tionghoa. Di kota sekecil ini, ada tiga klenteng tua dengan jarak berdekatan. Cu An Kiong di Dasun, Po An Bio di Karangturi dan Gie Yong Bio di Babagan. Kalau dilihat di peta, serius, jaraknya sangat berdekatan!

Dari ketiga klenteng tersebut, saya sudah berniat sejak dari Jakarta, Klenteng Gie Yong Bio ini yang wajib saya kunjungi.

Berkunjung ke sini semacam membuka sebuah buku ajaib yang akan menarik kita masuk ke sebuah pusaran kisah sejarah lama tentang Perang Kuning di Lasem. Serangkaian perlawanan rakyat Lasem terhadap VOC pada tahun 1741-1750, yang dipicu oleh peristiwa Geger Pacinan di Batavia. Cerita tentang Perang Kuning salah satunya bisa dibaca di sini.

Apa hubungan Perang Kuning dan Klenteng Gie Yong Bio?

Gie Yong Bio didirikan pada tahun 1780, di mana salah satu versi sejarahnya menyebutkan bahwa klenteng ini dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, Raden Panji Margono, keturunan Adipati Lasem yang memilih untuk tidak menjabat dan menyerahkan tampuk kepemimpinan Lasem pada sahabatnya yaitu tokoh kedua, Oei Ing Kiat, seorang etnis Tionghoa Muslim keturunan Bi Nang Un, salah satu juru mudi Laksamana Cheng Ho. Dan Tan Kee Wie, pengusaha dan ahli kungfu di Lasem.

Perang Kuning Lasem memang tidak diakhiri dengan sebuah kemenangan, karena kuatnya pertahanan VOC saat itu.

Namun perjuangan tiga serangkai ini masih menjadi inspirasi bagi, bahkan hingga ratusan tahun sesudahnya.

Gie Yong Bio dianggap sebagai satu-satunya klenteng di Indonesia yang memiliki kongco pribumi. Ini adalah bukti persahabatan leluhur kedua komunitas.

Menariknya lagi, selain rupangnya dibuat dengan kostum Jawa, altar khusus Raden Panji Margono pun dipisah dari ruang utama.

Ini adalah suasana altar di ruang utama.

Pada saat saya berkunjung, kebetulan ada acara doa, meja persembahan pun nampak penuh.

Ini lah alasan mengapa saya amat terkesan, sudah lah dijadikan sebagai tokoh yang dihormati, dipisahnya altar Raden Panji Margono bukan karena etnis yang berbeda. Melainkan karena RM Margono adalah seorang Muslim, jangan sampai menerima persembahan yang kadang mengandung makanan yang tak halal. O my God, kita semua harus belajar menanamkan spirit saling memuliakan seperti ini.

Inspirasi lain saya dapatkan dari kisah Raden Panji Margono memilih menyerahkan jabatan pada seorang Tionghoa, ini mengajarkan saya tentang prinsip the right man in the right place, dan Oei Ing Kiat membuktikannya dengan menjalankan tugas sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.

Di depan altar ini, meski tanpa ritual doa, saya sempatkan berterima kasih pada mereka tiga serangkai pejuang Perang Kuning yang telah mengajarkan, apa pun etnis/suku, warna kulit, agama, apa pun, bukan alasan untuk tidak bisa bersatu, bersama-sama memperjuangkan kehormatan bangsa.

Sampai di sini cerita inspirasinya?

Belum, masih ada lagi. Tunggu ya…. 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *