Culinary, Cultural, Travelling

Lontong (dari desa) Tuyuhan

Hari ketiga dan terakhir di Lasem.

Saking penuhnya kegiatan tak terduga akibat perkenalan dengan sosok-sosok istimewa, saya sampai tak sempat blusukan kulineran. Padahal kegiatan ini biasanya jadi salah satu agenda rutin saya tiap berkunjung ke satu daerah. Apalagi daerah yang baru pertama kali dijelajahi.

Wisata kuliner versi saya tak pernah hanya sekedar perkara icip-icip, perut kenyang, foto-foto, tapi sebuah perkenalan terhadap satu produk budaya, makanan. Maka dari itu, saya lebih memilih mencari kuliner legendaris alias klangenan di suatu daerah, daripada ke tempat-tempat yang sedang hits.

Dari hasil baca-baca, kuliner Lasem punya beberapa item menarik, salah satunya sudah saya coba, Kopi Lelet. Karena waktu yang terbatas, pilihan saya jatuh ke Lontong Tuyuhan untuk diincip sebelum pulang. Di homestay tempat kami menginap, makanan ini sebenarnya sudah disajikan sebagai salah satu menu sarapan. Tapi tentu saja kurang afdhol kalau belum incip langsung ke warungnya.

And here we go

Makan Lontong Tuyuhan langsung di tempat asalnya, Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kab. Rembang. Langsung jelas ya, kenapa namanya Lontong Tuyuhan.

Di sinilah kami makan, Sentra Lontong Tuyuhan, yang sebenarnya hanya deretan warung sederhana, tak lebih dari sepuluh warung, yang dibangun di tengah hamparan kebun tebu di Jalan Japerejo, Tuyuhan. Justru di situlah asiknya, kita bisa makan sambil menikmati pemandangan.

Lokasinya sudah listed di Google Maps, kamu tinggal ikuti panduannya. Saya kemarin lewat Jl. Jatirogo, lurus ke selatan hingga ketemu plang penunjuk arah belok kanan menuju Tuyuhan.

Setiba di lokasi, agak keheranan, kok sepi banget, belum semua warung buka. Ternyata, kami datang kepagian! 😂😂 Kami tiba sekitar pukul 10.00, semantara warung baru akan ramai menjelang pukul 12.00. Tapi lumayan lah, udah ada yang buka, mari kita coba!

Yang didisplay di etalasenya hanya ini… simpel ya?

Dua baskom ayam, yang saya duga harus dipisahkan dari kuahnya supaya ngga hancur kelamaan dipanasi, lontong dan tumpukan piring.

Karena paginya sudah ngemil di Warkop Jinghe, lalu sarapan di homestay, sebenarnya saya masih cukup kenyang. Oke, tuntaskan penasaran saja, pesan satu porsi berdua!

Saat pak penjual meracik pesanan, saya perhatikan, bentuk lontongnya beda dengan di Jakarta. Di Jakarta saya terbiasa melihat bentuk lontong seperti tabung memanjang. Di Tuyuhan, lontongnya kerucut memanjang. Bentuk lontong seperti ini ada juga di Surabaya, khususnya di pedagang Lontong Balap, entah sekarang masih sama atau tidak.

Dan ini lah penampakan seporsi Lontong Tuyuhan. Terdiri dari potongan lontong, sepotong ayam dan sepotong tempe. Untung saja pesan sepiring berdua, porsinya lumayan besar ternyata.

Mirip opor ya?

Bedanya, kalau opor berwarna putih, ini ada merah-merah yang berasal dari cabe merah dan rawit. Menurut saya, rasanya lebih enak ini. Rasa sedikit pedas mengurangi rasa eneg santan. Dan santannya pun cukup ringan, tidak terlalu kental. Well, saya memang bukan fans berat santan.

Seporsi Lontong Tuyuhan ini bisa ditebus dengan 12 ribu rupiah saja. Udah lah, liburan di Lasem memang ngga bikin kantong bolong, semua murah meriaaahhh!!

Tuntas rasa penasaran saya terhadap makanan khas Lasem satu ini. Tapi PR masih banyak, masih ada Sate Srepeh, Nasi Tahu, Nasi Semur, Kelomrico, Urap Latoh, Sirup Kawis, Soto Ringin, Duren Criwik, Warung Yu Temi, dan laon-lain!

Belum lagi blusukan ke Pasar Lasem, berburu tempe godhong jati, kopi lelet, dan oleh-oleh khas Lasem. Harus seminggu kayanya… 😂😂

Lasem, tunggu ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *