-

Masjid Agung Banten #2

Kalau kemarin saya sudah membahas bagian luar Masjid Agung Banten, sekarang mari kita berkenalan dengan bangunan utamanya.

Bangunan utama tentu saja masjid berdenah segi empat dengan beberapa undakan anak tangga menuju tempat sholat dan atapnya merupakan atap bersusun lima.

Masjid berusia 463 tahun ini, dibangun pada tahun 1556 oleh Maulana Hasanudin, sultan pertama Banten, yang juga putra Sunan Gunung Jati. Arsiteknya seorang Tionghoa, Tjek Ban Tjut, itulah kenapa atapnya mengingatkan kita pada bentuk pagoda China.

Bangunan-bangunan ini tidak dibangun secara bersamaan. Awalnya hanya bangunan induk masjid, lalu menara, lalu serambi di sisi-sisinya, yang disebut Tiyamah.  Arsiteknya juga beda-beda, pantas saja desain masjid dan bangunan-bangunan tambahannya tampak lumayan ‘beda gaya’.

Di sisi depan, sebelum memasuki serambi, kita akan bisa melihat kolam air. Dulunya, kolam-kolam ini yang digunakan untuk bersuci sebelum masuk masjid.


Sekarang, area wudhu telah dipindah ke bagian belakang. Namun kolam masih difungsikan.

Umumnya, orang akan melaksanakan ibadah sholat di ruang utama masjid. Kayu-kayu penyangga atau soko guru ruang ini masih asli, wuaaahh, sampai saya elus-elus itu kayu, saking terkagum-kagumnya.


Dimana untuk memasukinya kita harus melalui pintu-pintu di serambi. Pintu-pintu ini seperti halnya bangunan-bangunan suci di Jawa, sengaja dibuat rendah, agar yang hendak melewat, harus membungkukkan badannya. Simbol, untuk menghadap ke Yang Maha Kuasa, manusia harus merendah.


Di serambi tersimpan beduk besar, yang dibunyikan dengan cara yang sangat menarik sebagai pertanda waktu sholat. Saya beruntung sempat melihat dan mendengarnya.

Serambi di waktu-waktu sepi juga boleh digunakan untuk beristirahat. Namun tetap harus terjaga kesuciannya, karena di saat pengunjung membludak, area ini digunakan juga sebagai area sholat.

Selain beribadah, kita juga bisa sekalian ziarah ke beberapa makam Sultan Banten yang berada di komplek masjid. Tapi jangan cari makam Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten yang paling termasyhur namanya, karena makamnya tidak berada di sini. Seperti halnya beberapa sultan lain yang dimakamkan di luar komplek masjid.

Untuk menuju makam-makam, kita akan menyusuri lorong-lorong berlantai keramik, di kanan kirinya terdapat deretan tempat duduk.

Dan meski akan kita jumpai banyak kotak-kotak sumbangan untuk masjid atau anak yatim, kita akan tetap bisa menemukan oknum-oknum pengemis yang secara terbuka meminta sedekah atau berdalih menjual kantong plastik untuk wadah sepatu/sandal. Jangan kuatir, pihak masjid sudah berupaya menertibkan dan menyediakan tempat penitipan alas kaki, agar pengunjung nyaman beribadah atau berziarah tanpa repot membawa kantong berisi sandal. Hehehe…

Pengunjung juga akan melihat sumber air yang diyakini bisa menjadi penawar sakit atau untuk obat awet muda.

Pengelola masjid juga sudah memompa dan menyalurkan lewat kran-kran air agar pengunjung tak perlu repot mengambil airnya.

Sekedar saran, lebih baik kunjungi masjid ini saat pagi atau sore hari, karena di siang hari, teriknya matahari tidak hanya akan memanaskan kepala. Kita akan kesulitan hunting foto atau leluasa melihat-lihat menara masjid, karena lantai plazanya akan sangat panas terbakar matahari. 

Tapi ya, mau panas kaya apa juga. Siapa yang kuasa menolak keindahan menara ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *