-

Jejak Jayakarta di Jakarta

Gegara sering roadtrip, saya perhatikan hampir semua kota -baik besar atau kecil- di Jawa, punya alun-alun. Ini sesuai dengan prinsip Catur Gatra Tunggal dalam konsep tata ruang tradisional Jawa, yaitu empat elemen dalam satu unit pusat kota. Ditandai dengan sebuah alun-alun, yang disekelilingnya terdapat keraton (di kota yang lebih kecil, ada kabupaten/karesidenan/kawedanan), masjid, pasar dan (terkadang) penjara.

Lalu, saya perhatikan lagi, hampir semua kota punya wilayah bernama Kauman, yang kadang disebut juga dengan Pekauman/Pakauman, sebuah wilayah yang banyak dihuni oleh warga Muslim. Kauman biasanya terletak di sebelah barat alun-alun dan dapat ditandai dengan adanya masjid di daerah tersebut. Nama ini diduga berasal dari kata “kaum imam”.

Nah, lebih dari sepuluh tahun hidup di Jakarta, saya ngga pernah nemu alun-alun dan Kauman. Satu-satunya daerah yang mengandung kata “kaum” di Jakarta ya ini, Jatinegara Kaum, kampung tertua di Jakarta!

Lokasinya masuk wilayah Pulogadung. Cek di google maps aja biar lebih jelas.


Saya sengaja mengunjunginya tahun lalu, dalam rangka menyambut HUT Jakarta.


Jadi begini ceritanya, setelah Jayakarta (saat itu posisimya ada di seputar Kota Tua Jakarta) dibumihanguskan oleh VOC dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen pada tanggal 30 Mei 1619, Pangeran Jayakarta ‘mengungsi’ ke arah tenggara, tepatnya di tepi Kali Sunter, yang saat itu bernama Sodong.


Kemudian, daerah itu disebut sebagai Jatinegara alias Jatina Nagara alias negara sejati. “Silakan ambil keraton dan wilayah lama, tapi sejatinya ‘negara’ Jayakarta tetap ada dan berpusat di sini”, begitu mungkin dulu yang ada dalam benak Pangeran Jayakarta. Versi lain menyebutkan nama Jatinegara diambil karena di wilayah itu dulu merupakan hutan jati yang sangat lebat.

Setahun kemudian, terinspirasi dari Rasulullah yang membangun masjid pasca hijrahnya ke Madinah, didirikanlah Masjid Assalafiyah ini. Masjid ini dikenal juga sebagai Masjid Pangeran Jayakarta.


Kalau dilihat dari ceritanya, harusnya masjid ini menjadi masjid tertua di Jakarta. Tapi ternyata yang ‘diakui’ sebagai masjid tertua di Jakarta adalah Masjid Pekojan di Jl. Pengukiran yang dibangun pada 1648.

Kenapa demikian? Karena hingga kini, tidak ditemukan bukti tertulis mengenai berdirinya masjid ini, satu-satunya sumber sejarah adalah cerita turun temurun. Naahhh, ya kan? Dari sini kita bisa belajar, bahwa menulis atau membuat dokumentasi itu penting 😉.

Berikutnya, tambahan kata Kaum disebabkan karena selama beberapa generasi sesudahnya, wilayah ini adalah wilayah tertutup. Yang hidup/tinggal di wilayah ini hanya keturunan Pangeran Jayakarta dan pengikutnya.

Karena ini ‘hanya’ tempat pelarian, maka wajarlah Jakarta tak punya alun-alun seperti kota-kota lain di Jawa.

Oya, meski judulnya kampung tertua, jangan salah kira penduduknya adalah Suku Betawi. Mereka orang Sunda Banten. Sampai sekarang, generasi tua Jatinegara Kaum masih berbahasa Sunda. Nama-nama khas bangsawan Banten seperti Tubagus, Raden, Raden Ateng, masih bisa ditemui.

Saya cantumkan infografis dari tirto.id untuk mempermudah memahami urutan sejarah dari Sunda Kelapa menjadi Batavia.


Di belakang masjid, terdapat area pemakaman yang diyakini sebagai makam Pangeran Jayakarta.


Kalau ngobrolin Makam Pangeran Jayakarta, maka akan muncul banyak versi. Ada yang bilang di Katengahan, Serang. Ada yang bilang di Jatinegara Kaum. Ada juga yang bilang di Jl. Pangeran Jayakarta, Mangga Dua Jakarta. Ada pula yang bilang makamnya tidak diketahui keberadaannya. Hayoooo..mana yang bener?

Biar ngga bingung. Saya cerita dulu hasil penerawangan (eh, hasil penelusuran literatur) saya 😁.

Jadi gini.
▪1527-1570, Sunda Kelapa berhasil direbut oleh Fatahillah, diubah namanya menjadi Jayakarta.
▪1570-1596, Fatahillah digantikan oleh Tubagus Angke.
▪1596-Februari 1619, Tubagus Angke digantikan putranya Pangeran Sungerasa Jayawikarta.
▪Februari 1619- 30 Mei 1619, Jayawikarta digantikan putranya Achmad Jaketra.

Daaaann, keempatnya bergelar Pangeran Jayakarta. Jadi, Pangeran Jayakarta itu gelar, bukan merujuk ke satu orang tertentu.

▪ Fatahillah (P. Jayakarta I), dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon.
▪Tubagus Angke (konon) dimakamkan di wilayah Tambora, saya belum dapat informasi yang pasti.
▪Jayawikarta kembali ke Katengahan hingga wafat dan dimakamkan di sana.
▪ A. Jaketra, yang saya kunjungi, dimakamkan di Jatinegara Kaum.


Lalu mengapa nama jalan Pangeran Jayakarta ada di wilayah Mangga Dua?
Karena ada petilasan Pangeran Jayakarta (dalam hal ini pasti lah Achmad Jaketra), yang sempat mengelabui Belanda di masa pelariannya ke tenggara, dengan cara melemparkan jubahnya ke dalam sumur. Belanda menembaki jubah tersebut, dan meyakini A. Jaketra tewas di sana.

Yang mana yang benar?
Wallahu a’lam.. sejarah memang selalu punya banyak versi kan?.


Btw, Pangeran Lahut, yang makamnya bersebelahan dg ayahnya, Achmad Jaketra, (Pangeran Jayakarta IV) sudah tak bergelar Pangeran Jayakarta. Karena Jayakartanya sendiri sudah tamat di masa kepemimpinan ayahnya. Achmad Jaketra sempat memimpin upaya-upaya merebut kembali Jayakarta dari tangan VOC, namun hingga akhir hayatnya tidak berhasil.

Kalau ke Jatinegara Kaum, yang akan kita lihat bukan hanya Makam Pangeran Jayakarta.
Di bagian utara dan selatan ada makam warga yang konon masih merupakan keturunan Pangeran Jayakarta IV. Masih digunakan hingga sekarang. Saat saya berkunjung kemarin, ada makam baru yang sedang digali.


Di bagian barat, ada makam Pangeran Sanghyang. Ia adalah bangsawan Banten yang datang ke Jatinegara, bergabung dengan Achmad Jaketra untuk merebut kembali Jayakarta. Di sekeliling makamnya, seluruhnya makam tua, tak lagi dipergunakan untuk makam warga.


Komplek makam P. Jayakarta ini masih ramai dikunjungi. Oleh orang awam setiap malam Jumat, setiap HUT Jakarta dan setiap ada politisi yang berniat mencalonkan diri jadi Gubernur DKi. Niatnya apa, tentu hanya mereka masing-masing yang tahu.

Kalau saya, niatnya belajar sejarah Jakarta. Semua memang bisa dibaca di buku. Tapi menyaksikan dan merasakan sendiri suasana tempat yg merupakan saksi perjalanan kota Jakarta adalah pengalaman yang tak bisa didapat dengan (sekedar) membaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *