Cultural, Travelling

Kampung Kemasan Gresik

Saat tau saya lagi #exploregresik, temen-temen langsung merekomendasikan obyek-obyek wiskul khas Gresik. Dan ngga satu pun menyebut ini, Kampung Kemasan, yang udah lama masuk daftar wajib kunjung saya kalau ke #jawatimur.

Kalau denger namanya, dapat dengan mudah ditebak, ini dulunya pasti tempat produksi (perhiasan) emas. Yappp, pengrajinnya bernama Bak Liong. Namun, sepeninggalnya, kawasan ini beralih ‘dikuasai’ oleh Haji Oemar, pengusaha kulit dan walet nan sukses dan kaya raya.

Rumah-rumah megah ini dibangun sebagai simbol kemakmuran pemiliknya. Sama halnya dengan Gresik, yang juga sempat sangat berjaya sebagai kota pelabuhan, sebelum Tanjung Perak di Surabaya berdiri. Selepas itu, Gresik perlahan meredup, demikian juga usaha kulit yang sempat diteruskan oleh ahli waris H. Oemar.

Saya tak berhenti berdecak kagum, melihat jejak sejarah tersimpan di sebuah gang kecil. Sekaligus merasa miris, membayangkan bagaimana rumah-rumah ini menjadi saksi bisu perubahan jaman.

Sebagian rumah ini masih dimanfaatkan. Ada yang jadi pesantren, balai warga, hunian para ahli waris. Ada juga yang dibiarkan kosong. Salah satu pemilik rumah, mempersilakan saya masuk melihat2 suasana dalam rumah.

Keren, panasnya Gresik yang cetaaarrr, mendadak lenyap ditelan kesejukan rumah. Kerennya lagi, rumah-rumah ini menyimpan rahasia lho. Ngga semua deretan pintu dan jendela itu asli. Sebagian hanya jebakan alias decoy, untuk mengelabui maling. Kebayang ngga sih, udah susah-susah nyongkel, si maling nemu jalan buntu alias tembok!! 😂😂.

Saat menyusuri gang di Kampung Kemasan ini, rasanya campur-campur. Semacam lagi ada di pecinan Lasem, Kota Tua dan Ampel.

Teman-teman yang berlatar belakang ilmu arsitektur pasti lebih bisa menjelaskan dengan baik. Saya cuma bisa menangkap kesan, bangunan bergaya barat ini dapat sentuhan Tionghoa lewat warna-warna gonjrengnya, dan sentuhan Arab/Islami di detil-detilnya.

Masuk akal sih, rumah-rumah ini dibangun di masa kolonial Belanda, berada di kampung yang dulunya dihuni komunitas Tionghoa, namun pemiliknya yang notabene dari kalangan Islam yang cukup religius ingin menampilkan identitasnya juga.

Proses yang biasa ya, saat satu kelompok dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur kebudayaan baru/asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan yang sudah ada. Akulturasi.

Yang jelas, siapkan waktu/kostum yang oke/batere kamera full, tergantung interesmu 😁😁. Karena saya pastikan, kamu akan berhenti di tiap pintu, bahkan jendela untuk motret.

Berkunjunglah ke sini, mereka senang kok dikunjungi. Berharap, semakin banyak pengunjung, maka semakin besar pula perhatian pihak terkait. Mengingat mengurus bangunan cagar budaya ini tak mudah (baca: mahal)

Kampung ini terletak di Jl. Nyi Ageng Arem-arem gg. III. Saya tidak menemukan kesulitan dalam menemukannya dengan bantuan google maps.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *