Travelling

Museum Kereta Api Ambarawa

Dalam rangkaian perjalanan pas-pasan (pas sekalian ada kerjaan, pas sekalian ajak anak lanang survey kampus 😁😁) 10 Juli 2019 lalu, akhirnya saya berhasil juga mengunjungi Museum Stasiun Ambarawa alias Indonesian Railway Museum. Spot yang bertahun-tahun ngga kecoret-coret dari wishlist, meski seeeeering banget ke Jogja atau Semarang.

Seperti biasa, roadtrip Jogja-Semarang via Secang. Rute ini semakin nyaman dilalui. Saat saya melintas kemarin, sempat ketemu beberapa proyek pelebaran jalan. Wah, dalam beberapa waktu ke depan sepertinya akan semakin nyaman menempuh perjalanan di jalur ini. Museum juga dengan mudah dapat ditemukan, saya benar-benar mengikuti panduan gmaps saja.

Dari informasi yang pernah saya baca, KA Wisata hanya beroperasi di akhir minggu. Maka saya sama sekali tak berharap akan bisa mencoba naik kereta jadul ini. Tiba di museum pukul 12.20, langsung beli tiket masuk dan surprise surpriiiiiseeee… karena hari itu adalah hari terakhir musim liburan, makna di hari Rabu pun KA Wisata Locomotive Diesel Vintage beroperasi!

Beruntung, saya datang sebelum pukul 13.00, jadwal terakhir keberangkatan. Dan pas-nya lagi, setelah saya dapat dua lembar tiket, pengunjung setelah saya bermaksud membeli delapan tiket, langsung sold out! Wuaahhh, bener-bener perjalanan pas-pasan kan?! 😂.

Sambil menunggu, saya berjalan ke arah belakang, menyusuri lorong panjang yang di dindingnya tersimpan cerita perjalanan perkembangan kereta api di Indonesia.

Ada juga display lokomotif tua yang beberapa sempat saya dokumentasikan.

Dan lorong ini berakhir di area tempat memajang bekas halte kereta api yang pernah ada di Pulau Jawa.

Halte Cicayur yang terletak di jalur Duri-Rangkasbitung, Banten.

Halte Kronelan, Takeran dan Kepuh yang terletak di jalur aktif Solo-Wonogiri, Jawa Tengah.

Semua halte yang terbuat dari kayu itu bangunan asli lho, semua dibawa utuh, langsung dari tempat asalnya. Kondisi halte di tempat asalnya, sebagian bisa dilihat di sini.

Dari sisi belakang, menyusuri rel, saya menuju bangunan utama stasiun.

Wuaahhh, perasaan saya membuncah gembira memandang bangunan megah yang dulu dikenal dengan Stasiun Willem 1 ini.

Berada dalam naungan atap tinggi,

menatap detil-detil bangunan stasiun,

seperti biasa saya berusaha menembus ruang waktu. Seperti apa ya suasana aktivitas stasiun ini berpuluh tahun yang lalu?

Puas menikmati suasana stasiun, tak lama peluit tanda kereta wisata akan berangkat berbunyi.

Saya naik kereta dulu ya!

Cerita perjalanan saya naik kereta akan saya lanjutkan lagi nanti..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *