Cultural, History, Travelling

Dari Pasar Bogor ke Pulo Geulis

Tetiba, jadwal meeting saya ditunda, jadwal kelas pak suami kosong. Jadi lah, hari Senin gabut 😁😁. Kerjaan rumah beres, orderan beres, dapur beres, mulai gatel kaki saya. Mumpung ada temennya, yuk, mblusuk!

Saya sih bisa-bisa aja blusukan sendirian, area yang saya kunjungi kali ini juga sebenarnya tidak terlalu baru, cuma di seputaran kawasan Suryakencana. Namun karena memasuki wilayah pasar kok rasanya akan lebih aman dan nyaman untuk bawa bodyguard 😁.

Tujuannya?

Kali ini kami mau blusukan ke Pulo Geulis, Bogor. Kalau melihat peta, saya merasa Pulo Geulis ini bisa dijangkau dari banyak arah, dan sore tadi saya memutuskan untuk start dari Pasar Bogor, Jalan Roda.

Pasar Bogor, Babakan Pasar

Kami parkir mobil di Pasar Bogor. Kalau dilihat sekilas, tak ada yang istimewa dari pasar ini. Bau khas pasar, luberan pedagang hingga ke badan jalan, tumpukan sampah, menjadi hal yang biasa, khas pasar tradisional. Tapi dalam konteks sejarah, Pasar Bogor bukan sekedar pusat perdagangan, tetapi bagian dari memori sejarah kota.

Pasar Bogor adalah pasar tertua di Bogor, dan merupakan satu titik pertama di mana masyarakat non-Eropa diizinkan berkegiatan di kawasan elite Eropa.

Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para elite yang tinΔ£gal di kawasan yang dulu bernama Buitenzorg, tak jauh dari istana tempat tetirah Gubernur Jenderal Hindia Belanda a.k.a Istana Bogor.

Kami mulai berjalan kaki ke arah selatan, menyusuri Jalan Roda. Tak satu pun jawaban saya dapatkan, saat mencari tahu, kenapa jalan ini bernama Jalan Roda. Suatu saat akan saya ubek-ubek lagi.

Sebenarnya saya juga bermaksud mencari ex Hotel Pasar Baroe, hotel pertama di Bogor yang nasibnya tak sebaik Hotel Salak. Namun karena hari sudah terlalu sore, saya putuskan untuk lewatkan dulu.

Berjalan ke selatan kurang lebih 500 meter, melewati SDN Roda di sebelah kiri, bangunan gereja berwarna pink, yang tak sempat saya baca namanya di sebelah kanan. Tak lama saya menemukan sebuah gang kecil, di sebelah Poskamling. Gang Angbun namanya, patokannya di seberang toko alat tulis Terus Jaya.

Gang Angbun

Waini, beneran blusukan ini namanya. Gang akses masuk ke Pulo Geulis ini lebarnya kurang lebih hanya satu meter. Kalau ada motor yang akan melintas, saya harus benar-benar menepi.

Gang Angbun

Dan serunya lagi, jalanannya menurun cukup curam. Di beberapa bagian, ada yang dibuat seperti anak tangga. Para penghuni kampung pasti sehat-sehat nih, tiap hari cardio!

Turunan curam di Gang Angbun

Sekitar 300 meter kami menuruni Gang Angbun. Tibalah kami di gerbang barat Pulo Geulis, sebuah jembatan warna-warni yang melintang di atas aliran Sungai Ciliwung yang terbelah.

Jembatan Sungai Ciliwung

Yuk, nyebrang!Ada apa di seberang sana, bersambung ya… πŸ˜‰

1 thought on “Dari Pasar Bogor ke Pulo Geulis”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *