History, Travelling

De Tjolomadoe, Karanganyar, Solo

Colo artinya gunung. Maka nama Colomadu adalah semacam harapan, agar hasil produksi pabrik gula yang didirikan tahun 1861 oleh Mangkunegaran IV ini menghasilkan gunungan hasil produksi. Dan harapan ini tak salah. Pabrik ini pernah berjaya, bahkan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Namun pergerakan jaman membawa banyak perubahan. Kawasan sekitar pabrik yang dulunya tanah subur penghasil tebu, mulai beralih menjadi kawasan industri dan pemukiman.

Suplai bahan baku sulit. Ditambah lagi, kondisi perekonomian Indonesia yang mengalami guncangan besar saat itu. Tahun 1997, pabrik resmi tak beroperasi.

Dua puluh tahun mangkrak, PG Colomadu direvitalisasi. Dan saya melihat sinar kejayaan kembali muncul. Bukan sebagai produsen gula, melainkan obyek wisata sejarah berkualitas sangat, sangat, sangat, baik.

Begitu masuk, area pertama yang saya jumpai adalah Stasiun Gilingan.

Dari namanya sudah pasti, ini adalah area penggilingan tebu, lengkap dengan mesin-mesin buatan Jerman berusia tua. Mereka yang tak pernah berurusan dengan mesin (baca: saya), pasti lah terkagum-kagum sekaligus terbingung-bingung ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ.

Karena beberapa bagian mesin sudah ngga ada, awalnya saya agak kesulitan membayangkan prosesnya. Tapi jangan sedih, di bagian selanjutnya, ada maket stasiun gilingan, lengkap dengan figurine pekerja dan tebu-tebunya. Mulai proses diangkut masuk pabrik sampai sisa penggilingan.


Bagian ini jadi favorit saya banget, informatif dan instagrammable. See for yourself, abis itu pasti langsung pengen berangkat dolan ke Solo.

Yang mengesankan lagi dari De Tjolomadoe adalah detil-detil yang membuat saya nyaris tak ingat waktu. Rasanya betah dan mau aja menghabiskan waktu berjam-jam di sana, sampai tutup kalau perlu.

Museum ini dipersiapkan dengan sangat baik untuk memberikan kesan mendalam pada pengunjung. Bagaimana tidak, dibalik gedung yang megah dan nampak baru, tak lupa disisakan potongan-potongan jejak tua untuk bisa dirasakan (kembali) sekarang.

Penggila masa lalu, penjelajah dimensi waktu, bisa bermenit-menit menghabiskan waktu menatap kagum potongan dinding bata, besi-besi mesin tua, tegel asli, bahkan sisa rel lori yang dibiarkan tetap ada. Wuaahhhhh!

Sudah jelajahi seluruh bagian dalam bangunan? Saatnya beranjak keluar. Tampilan bangunan dari luar tak kalah cantik dengan bagian dalam.

Bagian dalam sudah, baฤฃian luar sudah.. capek? ๐Ÿ˜

Jangan kuatir, pengunjung bisa istirahat dulu. Mau duduk santai sambil makan bisa, mau belanja oleh-oleh ada gerai yang menjual produk-produk craft khas Jateng. Saya memilih duduk santai sambil ngopi, di Goelamadu Cafe. Kopinya lumayan enak dan harganya masuk akal.

Tempat selengkap ini tentu saja akan makin sempurna kalau fasilitas penunjangnya juga bagus kan ya? Dan saya puasssss banget lihat papan pemandu arah, toilet, tempat parkir, musholla yang bersih dan rapi.

Dan semua ini bisa kita nikmati hanya dengan membayar tiket masuk seharga Rp 25.000/orang.

Saya berikan apresiasi tinggi untuk penggagas berdirinya De Tjolomadoe ini. Ngga cuma cocok untuk penggila sejarah, tempat ini cocok buat yang suka fotografi, suka difoto, mau bikin event (mulai musik sampai wedding).

Solo patut berbangga lah, Indonesia patut berbangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *