Cultural, History

Kelenteng Phan Ko Bio, Pulo Geulis, Bogor

Setelah menyeberangi jembatan Pulo Geulis yang saya ceritakan kemarin, kami berjalan menyusuri jalan kampung dan tak lama berjalan kami sampai di icon wilayah ini, Kelenteng Phan Ko Bio a.k.a Vihara Maha Brahma a.k.a Kelenteng Pulo Geulis.

Kelenteng Phan Ko Bio Bogor

Saya disambut oleh Pak Abraham, pegiat budaya di Pulo Geulis. Masih di halaman depan, saya sudah menangkap kesan berbeda. Dan Pak Bram, begitu beliau akrab dipanggil, dengan fasih menjelaskan keistimewaan kelenteng ini.

1. Kelenteng Phan Ko Bio merupakan kelenteng tertua di Bogor. Seratusan tahun lebih tua, dibanding Kelenteng Hok Tek Bio a.k.a Vihara Dhanagun di Jalan Suryakencana. Ini berdasarkan catatan bahwa pada saat pulau ini ditemukan dalam sebuah ekspedisi Ciliwung oleh Abraham Van Ribeck di tahun 1703, kelenteng ini sudah berdiri.

2. Kalau diperhatikan warna-warna di area depan kelenteng, tidak seperti warna yang biasa saya temui di kelenteng lain yang didominasi warna merah dan kuning. Rupanya warna biru dimaksudkan sebagai simbol keteduhan. Tak hanya itu, di depan, terdapat pula payung khas Sunda yang menunjukkan kedua budaya mampu berdampingan dengan selaras di sini.

Area depan kelenteng

3. Meskipun kelenteng ini relatif kecil, namun dewa yang yang menjadi tuan rumah adalah Phan Ko, dewa tertinggi, dewa alam semesta. Ini menarik, karena sedikit berbeda dengan kelenteng-kelenteng lain yang pernah saya datangi. Rata-rata tuan rumahnya adalah dewa laut, bumi, rejeki dan sebagainya. Penjelasannya belum saya dapatkan. Kawan-kawan yang lebih paham boleh berkomentar di bawah ya.

Altar utama

4. Di dalam kelenteng, tak hanya ada altar untuk ibadah umat Konghucu dan Budha, namun ada sebuah batu monolitik besar yang diyakini sebagai Petilasan Embah Raden Mangun Jaya, karuhun atau leluhur masyarakat Sunda.

Batu petilasan Embah Raden Mangun Jaya

Batu ini pun konon memiliki keistimewaan, yaitu bertumbuh, bisa membesar. Percaya atau tidak, dulu terdapat jarak antara batu dengan tembok kecil pembatasnya. Semakin ke sini, semakin merapat. Batu-batu ini diyakini sudah digunakan sebagai tempat pertanda , bahkan sebelum kelenteng didirikan.

5. Kalau di foto sebelumnya nampak warna hijau di ruang belakang yang juga tak pernah saya jumpai di kelenteng lain, ini lah isinya.

Petilasan Eyang Jayadiningrat dan Embah Sakee

Sebuah ruangan yang difungsikan sebagai musholla, lengkap dengan perlengkapan sholat dan mengaji bagi umat Muslim. Batu-batu besar yang berada dalam ruangan ini juga sudah lama ada, petilasan dari Eyang Jayadiningrat dan Embah Sakee, tokoh penyebaran agama Islam di masa itu.

6. Di halaman samping, terdapat tempat wudhu, saya rasa ini lah satu-satunya kelenteng yang secara khusus menyediakan tempat berwudhu.

Benda-benda bersejarah

Di sampingnya terdapat sebuah makam Embah Imam yang juga merupakan leluhur penyebaran agama Islam di Bogor. Juga terdapat benda-benda tua, di antaranya patung harimau yang dalam bahasa Sunda disebut Maung, simbol kegagahan dan keberanian, yang sejak masa Kerajaan Pajajaran hingga kini menjadi icon masyarakat Sunda. Ada patung kura-kura, simbol ketekunan dan panjang umur. Ada yoni, yang kerap dikunjungi umat Hindu.

Menutup penjelasannya, Pak Bram menyampaikan, sebagian masyarakat Islam bisa jadi tak menyepakati adanya tampilan Islam di sini. Antara Islam dan kepercayaan lain pun berbeda. Tapi setidaknya, kita semua bisa belajar, bahwa Pulo Geulis telah sejak lama menjadi simbol toleransi, berbagai aliran kepercayaan mampu hidup berdampingan dan saling menghargai sejak dulu hingga kini. Ibarat air dan minyak dalam satu wadah. Bersatu, tapi tak perlu saling tercampur aduk.

Ah, hari ini saya belajar lagi, toleransi sebenarnya bukan barang baru di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *