History, Travelling

TMP Nasional Utama Kalibata

Hari Minggu lalu, saya berkesempatan ke satu tempat di Jakarta yang sudah lama ingin saya kunjungi. Tapi karena ngga ada moment-nya, ngga juga kesampaian. Lucunya, ketika akhirnya kesampaian pun, jadinya tanpa moment alias tanpa rencana. Lha wong sekalian lewat, sekalian habis meeting di Kalibata City Square.

Voila! Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.

Sebelas menit berjalan kaki, sampai lah saya di lokasi. Di gapura utama yang besar itu, tampak di sisi gambar di bawah, saya celingak-celinguk cari satpam, dan ngga nemu. Ya sudah lah, dengan pedenya saya masuk aja.

Plaza depan TMP Kalibata

Di area ini, saya memandang lepas ke arah selatan, nampak plaza utama berpilar putih dengan lambang Burung Garuda. Kalau pemakaman selalu diidentikkan dengan suasana seram, maka tidak demikian dengan TMP ini. Tampak asri dan menentramkan. Yang langsung terlintas di benak saya adalah prosesi pemakaman Ibu Ani Yudhoyono beberapa bulan lalu. Suasana asri dan tentram ini tentulah sekaligus menambah suasana sakral dan haru.

Suasana asri di TMP Kalibata

Dari sini, saya berbelok ke kanan, tampak bangunan yang saya pikir akan ada satpam berjaga. Ternyata ngga ada juga, sepiiiiii sekali. Saya pikir, karena hari Minggu. Tertarik dengan dinding lebar yang nampak penuh dengan tulisan di sisi barat, saya teruskan langkah ke sana. Dugaan saya itu adalah daftar nama pahlawan yang dikebumikan di TMP Kalibata. Dan benar, dinding ini berisi daftar nama pahlawan yang wafat sejak tahun 1945. Meski TMP ini sendiri baru diresmikan pada 10 November 1954, pasca dipindahkan dari Ancol atas perintah Presiden Soekarno.

Deretan nama pahlawan

Di sini, pengunjung akan dapat menemukan nama Suratmi, yang tentu akan kita pikir, pahlawan ‘biasa’ yang tak pernah kita kenal. Beda lagi kalau saya menyebutnya Ratmi B-29 kan? Yaaaa, saya juga baru tahu kalau komedian perempuan ini seorang pahlawan!

Nama Ibu Ainun di antara nama pahlawan lain

Di bagian tahun 2010, tentu saja akan kita temukan salah satu Indonesia’s sweetheart, Ibu Negara kita, Ibu Hasri Ainun Habibie, yang begitu menginspirasi. Tak lengkap rasanya kalau saya tak sekalian menziarahi makamnya ya. Dibantu bapak penjaga makam, saya menemukannya, posisinya berdekatan dengan makam Ibu Ani Yudhoyono.

Makam Ibu Ani dan Ibu Ainun

Tergetar hati saya, menjumpai kedua makam tersebut dipenuhi bunga. Memang nampak layu, karena menurut pak penjaga, Pak Habibie akan menggantinya setiap Jumat. Beliau sendiri yang akan datang selama sedang berada di Jakarta dan dalam kondisi sehat. Apabila tidak, maka akan ada perwakilan keluarga. Demikian juga dengan keluarga Pak SBY yang rutin bergantian hadir. Memang, berdoa untuk ahli kubur bisa dari mana saja, tak harus di depan pusara. Namun pusara makam adalah semacam pengganti, pelepas rindu pada mereka yang telah mendahului kita. Menabur bunga tak lain hanya sebagai cara menyatakan cinta dan rindu.

Tak jauh dari makam kedua Ibu Negara ini saya melihat makam yang tampak agak berbeda, ada lima makam yang bagian bawahnya dicor beton. Penasaran, saya datangi. Dan ternyata, ini adalah makam lima Pahlawan Revolusi. Jend. Ahmad Yani, Letjen Suprapto, Letjen M.T. Haryono, Letjen Siswondo Parman dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo. Kok cuma lima? Karena blok ini adalah blok untuk pahlawan Muslim.

Makam lima Pahlawan Revolusi

Sedangkan makam Mayjen D.I. Panjaitan dan Kapten Pierre Tendean, ada di blok seberang, bersama dengan pahlawan non-Muslim lainnya.

Makam dua Pahlawan Revolusi

Tentu saja masih banyak makam nama-nama besar lainnya, yang tak akan mungkin akan selesai diziarahi dalam sehari. Ada lebih dari 9000 jasad yang dikebumikan di sana. Suatu saat, saya akan kembali berziarah, ke makam tokoh-tokoh perintis kemerdekaan kita. Agus Salim, Sutan Sjahrir, Adam Malik, dan nama-nama besar lainnya.

Oya, kalau kamu melihat lampu warna merah dan putih di dekat pusara makam, itu adalah lampu penerang yang dinyalakan setiap Malam Renungan Suci 16 Agustus. Di saat semua lampu penerangan utama dipadamkan, hanya lampu kecil ini yang akan dinyalakan. Ahhh, saya jadi pengen ikut hadir di acara itu kapan-kapan. Semoga ada kesempatan.

Kalau ada kesempatan, berkunjung lah ke sana. Beri penghormatan pada mereka yang telah banyak berjasa pada negeri ini. Selain itu, ada juga area dimana pengunjung bisa memberi makan rusa. Jangan kuatir, bapak-bapak penjaga kebersihan makam ini akan sangat membantu mengarahkan pengunjung yang kebingungan tak tahu arah hehehe. Mereka juga yang akhirnya memberi tahu saya, bahwa seharusnya pengunjung tak diperkenankan masuk dari gerbang utama. Melainkan harus dari pintu samping di sisi barat dekat dengan area parkir mobil, sekaligus meninggalkan tanda pengenal bagi pengunjung yang tak memiliki sanak keluarga yang dimakamkan di sana.

Jam berapa baiknya berkunjungnya? Pagi atau sore hari akan lebih baik, menghindari panas terik. TMP Kalibata resminya tutup pukul 18.00, namun apabila ingin berkunjung di malam hari, boleh juga. Pak penjaga makam siap membantu. Mereka tak meminta imbalan kok, tapi berbagi sedikit rejeki tanda terima kasih pasti akan diterima dengan suka cita.

Bapak penjaga makam

Lelah keliling makam, kamu bisa nyebrang untuk kulineran. Banyak sekali tempat makan dan aha, yang kondang di wilayah ini adalah Loksem Durian! Ada sepanjang waktu, tapi di musim durian pasti akan semakin berlimpah. Wanginyaaaaaa kemana-mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *