Cultural, History, Travelling

Sejarah Panjang di Pulo Geulis

“Saya yakin Pulo Geulis ini merupakan tempat istimewa, karena ngga mungkin ada kelenteng yang dibangun di sembarang tempat.”

Tutur Pak Bram, tokoh Pulo Geulis memulai obrolan kami sore itu.

Pulo Geulis memang tak setenar tempat-tempat lain di Bogor, namun Pulo Geulis menyimpan cerita sejarah yang sangat panjang.

Kelenteng Phan Ko Bio sudah ada pada saat pulau ini ditemukan kembali oleh Van Ribeck dalam Ekspedisi Ciliwung. Fakta terdapatnya batu-batu besar di area Kelenteng Phan Ko Bio membuat kuat dugaan bahwa jauh sebelum kelenteng berdiri, Pulo Geulis telah menyimpan cerita tradisi megalitik.

Pulo Geulis juga diyakini sebagai tempat peristirahatan keluarga istana dan beberapa kegiatan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Berdiri di Jembatan Pemuda, penghubung pulau dan Jalan Riau, Baranangsiang, memandang aliran Sungai Ciliwung yang terbelah pulau, saya bisa menangkap sisa-sisa keindahan di tempat ini.

Dan di masa yang lebih baru, Pulo Geulis juga merupakan cikal bakal pecinan di kota Bogor. Saya juga baru tahu setelah bercakap dengan salah seorang pemilik toko di Suryakencana ketika numpang berteduh saat akan menyaksikan pawai Cap Go Meh dua tahun lalu.

“Pecinan Bogor dulunya di Pulo Geulis, belakang pasar, kelentengnya juga lebih tua dibanding Dhanagun”, ujarnya. Itu lah awal mula ‘perkenalan’ saya dengan Pulo Geulis.

Pergeseran kawasan pecinan ke area Suryakencana dimulai pasca De Grote Postweg a.k.a Jalan Raya Pos a.k.a Jalan Daendels dibuka. Dimana Suryakencana adalah sepenggal dari jalan legendaris itu. Dulunya bernama Handelstraat, berubah nama menjadi Jalan Perniagaan di masa kemerdekaan, lalu berubah lagi menjadi Suryakencana hingga kini.

Meski sudah bergeser ke Suryakencana, masyarakat keturunan Tionghoa masih menjadi 40% penduduk yang tinggal di Pulo Geulis, berdampingan dengan 60% orang Sunda dan suku lainnya.

Keindahan alam Pulo Geulis masa Pakuan Pajajaran bisa jadi sudah tinggal cerita. Namun Pulo Geulis berhasil menciptakan keindahan baru, hidup damai berdampingan dalam harmoni keberagaman.

Pulo Geulis juga sedang disiapkan menjadi sebuah Desa Wisata. Kalau nanti kamu berkesempatan mengunjunginya, kamu bisa melihat sendiri, bagaimana warga didukung komunitas sejarah dan Pemerintah Kota membenahi wajah kampung ini.

Meski sempit, jalanannya bersih.

Gang kampung Pulo Geulis

Rumah-rumah dicat rapi, dinding kosong dihiasi mural dan penunjuk jalan!

Dinding penunjuk jalan

Penunjuk jalan memang diperlukan kalau blusukan ke sini. Jalanan berkelok macam labirin. Namun kalau masih tersesat juga, jangan ragu untuk bertanya. Warga setempat sangat ramah dan membantu.

Favorit saya?

Sepenggal gang tak jauh dari kelenteng yang menyimpan deretan mural berisi sejarah Pulo Geulis.

Juga Jembatan Pemuda, yang akan membawa kita ke Jalan Riau, “merahputih”nya benar-benar jadi closing yang berkesan mendalam.

Jembatan Pemuda

Sempatkan berkunjung juga ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *