History, Travelling

Cadas Pangeran, Rute Cadas Jalur Daendels

Masih dalam rangkaian #telusurjalurdaendels (versi saya), yang kemarin sudah diawali dengan perjalanan menuju Titik Nol Kilometer Anyer. Kali ini, saya menyelesaikan penggalan kedua, (yang dilakukan secara tak berurutan), Sumedang-Cirebon.

“Lho, Jalur Daendels bukannya Pantura mbak?”, tanya seorang teman kemarin.

Iya, sebagian besar. Anyer-Jakarta ada di Pantura. Jakarta menuju Cirebon, lewat Bogor, Puncak, Bandung, Sumedang, Palimanan, Cirebon. Dari Cirebon lanjut ke timur dengan posisi jalan tetap di sisi utara Pulau Jawa.

Hari itu, setelah menyelesaikan kegiatan kerja di Universitas Padjajaran, Jatinangor, saya segera mengarahkan kendaraan masuk ke jalur cadas Sumedang-Cirebon. Jatinangor adalah titik paling barat Kabupaten Sumedang yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Jangan salah lagi ya, Unpad itu di Sumedang, bukan di Bandung. Hehehehe…

Di penggalan Sumedang Cirebon ini, terdapat satu titik penting dalam sejarah Jalan Raya Pos. The legendary Cadas Pangeran! Jalur horor yang banyak memakan korban jiwa dalam proses pembangunan karena kondisi alam yang berat, membelah pegunungan bertanah cadas dengan tenaga manusia!

Cadas Pangeran

Kalau cuma lihat foto gini, memang ngga terlalu nampak kehororannya. Cobalah menelusuri jalurnya, merasakan tanjakan-tanjakannya. Yang meski menurut saya ‘baru’ masuk golongan jalan yang membutuhkan skill sedang, akan cukup membuat kita sanggup membayangkan, seberapa cadas jalur ini.

Seorang teman yang juga seorang rider pun berkomentar, “Gue juga ogah lah kalo malem melintasnya.” . Itu mah saya juga ogahhh.. Hehehe…Sebuah tugu dibangun sebagai pertanda dan pengingat akan sejarah pembangunan jalan ini.

Pangeran Kornel dan Mas Galak

Dibuat berdasarkan cerita rakyat (Babad Sumedang), tentang pertemuan Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX a.k.a Pangeran Kornel yang menyalami Daendels, alias Tuan Marsekalek alias Jenderal Mas Galak dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang hulu keris, sebagai simbol perlawanan.

Meski peristiwa dalam cerita rakyat ini masih debatable, karena tak ada bukti tertulis yang membuktikan bahwa peristiwa ini benar terjadi. Saya bisa memahami andai Sang Bupati memang benar melawan.

Medan yang sulit masih bisa kita lihat sampai sekarang. Tanjakan dan kelokan membuat siapa pun yang berniat melalui jalur ini harus memiliki skill mengemudi yang cukup baik. Terlebih bila harus terjebak antrian panjang, efek truk yang berjalan lambat Sambil menyusuri jalan, saya bisa membayangkan betapa sulitnya membelah gunung tanpa peralatan berteknologi memadai.

Yang menarik, apakah jalur ini akan tetap jadi pilihan setelah adanya Trans Jawa? Dugaan saya sih masih, ngga kaya jalur Jakarta Bandung via Purwakarta yang menjadi sepi pasca dibangunnya Tol Cipularang. Kemarin saat menepi dan berfoto, saya sempat ngobrol dengan Teteh-teteh pemilik kios peyeum di sisi jalan, jalur ini masih ramai dilalui. Terutama bagi mereka yang hendak menuju Cirebon dari Bandung, lewat tol harus memutar balik cukup jauh.


Kalau kamu lewat, jangan lupa mampir ke Cadas Pangeran. Foto-foto, belajar sejarah, dan tentu saja belanja peyeum. Hitung-hitung ikut menggerakkan ekonomi lokal kan? 😊😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *