History, Travelling

De Javasche Bank Building Surabaya

Juli kemarin, tiba-tiba pekerjaan saya mengarah ke timur. Dari yang awalnya hanya ke Cirebon, tahu-tahu bergeser sampai Solo. Setiba di Solo, seorang teman di Surabaya langsung manas-manasin,

“Solo Surabaya tuh cuma tiga jam lho.”Hahahaha, tau aja, kalau saya tuh ngga bisa liat aspal, bawaannya pengen ngegas. Tak pikir (terlalu) panjang, ya sudahlah, Surabaya here I come!! Sekalian jemput anak lanang yang lagi liburan di sana, jadi kembali ke barat, saya ada teman jalan.

Dalam perjalanan ke Surabaya, baru saya mikir, mau kemana ya di sana. Surabaya Heritage Walk sudah sebagian, Museum Sampoerna sudah, mau ngider di Kota Tua-nya Surabaya kok ragu, panasnya Surabaya lagi lucu-lucunya eh. Ke gedung De Javasche Bank (DJB) saja lah, kalau ada sisa waktu nanti mikir lagi, cari destinasi yang lain.

Dan seperti ini penampilan gedung DJB, yang tahun ini berusia 109 tahun. Cuma maket aja udah cantik banget ya… aslinya apalagi! Saya ngga sempat motret langsung sisi depannya, karena bagian depan gedung ini sekarang sudah jadi sisi belakang. Selain harus berjalan memutar, area ini sudah dipenuhi angkot yang sedang ngetem.

Maket De Javasche Bank

Aslinya bagian depan gedung ini ada di sisi utara, di Jalan Garuda, namun saat ini pintu masuk gedung dipindahkan ke sisi selatan, berhadapan dengan area parkir. Kendaraan masuk dari Jalan Kasuari di sisi barat.Sebagian masyarakat Surabaya mengenalnya sebagai Museum Bank Indonesia, padahal tidak demikian. Satu-satunya Museum BI ya yang berada di wilayah Kota Tua Jakarta itu, the one and only.De Javasche Bank adalah bank sentral bentukan VOC di masa kolonial yang juga merupakan cikal bakal Bank Indonesia. Bagaimana cerita perjalanannya, bisa dibaca di sini.

Pintu masuk gedung saat ini

Setelah masuk, kita akan disambut meja resepsionis dan diminta mengisi buku tamu, serta follow dan mention akun media sosial Instagramnya hehehe… Lalu, kita akan memulai perjalanan dari bagian paling bawah dan paling menarik dari gedung, basement.

Kenapa menarik?Karena di sinilah dulu simpanan uang dan emas ditempatkan. Tentu saja yang akan kita jumpai adalah ruangan-ruangan bertingkat keamanan tinggi. Jeruji, pintu besi yang tebalnya se-saya, serius! Yang pernah berkunjung ke Museum Bank Indonesia Jakarta pasti pernah melihat pintu serupa ini.

Dan sistem CCTV jaman dulu, berupa cermin-cermin yang dipasang di sudut-sudut ruangan, yang memungkinkan satpam memantau seluruh ruangan dari pantulan-pantulan cermin, tanpa harus berkeliling ruangan.

Salah satu cermin di sudut ruang

Selain mengagumi ruangannya, ada koleksi mata uang kuno tersusun rapi dalam etalase, bermacam mesin yang digunakan di bank, seperti mesin penghitung uang, mesin pencetak hingga penghancur uang juga dipamerkan.Selanjutnya, melalui tangga batu, kita akan naik ke lantai satu.

Tangga menuju lantai utama

Lantai utama gedung yang akan segera membuat kita berdecak kagum. Suasananya sangat mirip dengan Museum Bank Indonesia, hanya lebih kecil. Pilar-pilar kokoh, langit-langit ruangan yang tinggi, lampu hias membuat ruangan ini nampak anggun dan berkelas.

Suasana ruangan utama

Yang spesial di ruangan ini.Pertama, kaca patri di langit-langit, ditambah jendela-jendela berukuran besar membuat ruangan terang benderang tanpa perlu penerangan tambahan. Eh, kaca patri ini masih asli dan belum pernah diperbaiki lho. Keren banget ya?

Kaca patri yang masih asli

Kedua, saya terkesan banget sama pintu masuk yang berbentuk pintu putar. Model pintu yang sekarang banyak kita temui di mal-mal besar di Jakarta.

Pintu putar

Di dalam ruang utama ini pula, kita bisa melihat ruangan-ruangan kayu yang bersekat dan berpintu. Dan rupanya ruangan ini adalah area transaksi.

Area transaksi
Area transaksi dilihat dari atas

Jadi, di masa itu, kalau kita mau berurusan dengan teller, kita harus masuk dalam sebuah bilik, lalu bilik tersebut kita kunci, kunci kita cabut dan bawa, barulah kita bertransaksi. Di dalam bilik, ada lagi sekat pembatas yang berjendela, seperti loket. Selesai bertransaksi, kita buka kunci bilik dan selesai. Rupanya demikian lah sistem pengamanan jaman dulu.

Di luar bilik, terdapat bangku tunggu yang terbuat dari kayu, berdesain memanjang dan sederhana. Sampai kemarin saya kunjungi, kondisinya masih utuh dan muluuuuuusss.

Bangku tunggu

Semua yang ada di ruang utama ini terasa begitu klasik. Mungkin ini juga sebabnya banyak orang menjadikan Gedung DJB sebagai tempat pemotretan foto-foto pre-wedding. Beberapa sempat saya lihat di akun medsos DJB, kamu mau coba? 😉Puas menikmati suasana di lantai utama, saya pun menuju lantai dua. Berbeda dengan tangga batu dari basement menuju ruang utama, tangga menuju lantai dua ini berupa tangga besi dengan pegangan kayu, sangat anggun!Nah ruangan di lantai dua ini aslinya adalah attic alias loteng. Ruangan yang memanfaatkan area di bawah atap. Entah dulu berfungsi sebagai apa, saya lupa menanyakan, namun sekarang area ini tempat instalasi kabel listrik dan pendingin udara.Meski hanya berisi kabel dan pipa, ruangan ini juga rapi dan bersih.

Kita bisa melihat kaca patri dari sisi atas, menerima sinar matahari dan meneruskannya ke bawah. Terdapat juga lubang-lubang yang mungkin adalah ventilasi udara. Menarik.

Jadi, jangan lupa mampir kalau lagi di Surabaya. Sekalian jelajah the legendary Kawasan Jembatan Merah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *