Cultural, History, Travelling

Ke Madiun, Saya (akan) Kembali…

Apa yang terlintas di benakmu saat terlintas kata Madiun?

Iseng-iseng saya bertanya di story Instagram kemarin. Dan jawaban terbanyak adalah pecel!! Berikutnya brem.

Jawaban ini tentu saja tak mengejutkan. Madiun memang sangat termasyhur dengan pecelnya, meski sebenarnya, tak hanya Madiun kota yang punya pecel sebagai kuliner khasnya. Sedangkan brem, cemilan manis berbahan dasar sari ketan ini, sudah jadi oleh-oleh andalan dari Madiun sejak saya kecil.

Saya sendiri, selain pecel, yang teringat pertama kali adalah kereta. Yaapp, karena di sana ada PT. INKA, pabrik kereta kebanggaan Indonesia. Selain hal-hal tersebut, ada satu hal yang pasti masih melekat dalam benak tentang madiun. Ya, hanya seorang teman yang asli Madiun, yang menyebut nama partai terlarang yang dua kali gagal memberontak di Indonesia ini.

Ahyayaya, sejarah kelam memang tak mudah dihapus. Sebagai orang asli Madiun, teman saya ini mungkin sudah kenyang kotanya dihubung-hubungkan dengan organisasi satu ini.

Saya berkunjung ke Madiun, bulan Juli lalu, dalam perjalanan kembali ke Jakarta lewat Tol Trans Jawa. Sejak ada TTJ, Madiun memang jadi relatif lebih mudah dikunjungi, karena jarak antara exit Madiun menuju kota tak jauh. Berbeda dengan dulu, saat melintas di jalur selatan, pengendara akan menempuh jarak lebih jauh dan waktu sedikit lebih lama untuk mencapai pusat kota.

Tujuan saya ke Madiun kemarin tentu saja untuk menuntaskan penasaran pada oleh-oleh kekinian Bluder Cokro. Bukan penasaran sama rasanya, karena sudah beberapa kali dapat oleh-oleh dari kawan baik yang sedang tinggal di sana. Saya penasaran pengen ngintip kaya apa penampilan outletnya, seperti apa perusahaan ini bertumbuh menjadi brand oleh-oleh kekinian yang mampu mendesak pemain-pemain lama.

Saat mencapai GT Madiun, suasana yang terasa, cenderung sepi.. khas kota kecil, berbeda saat exit di Solo misalkan.

Kami masih berada di wilayah administratif Kabupaten Madiun rupanya, masih 13 kilometer menuju tujuan. Meluncur lurus mengikuti jalur utama ke selatan, barulah kami tiba di Kota Madiun setelah menemui Monumen Lori PG Rejo Agung di sisi kiri jalan.

Olrait, titik menarik pertama… Pabrik Gula Redjo Agung Baru. Yang ternyata ada hubungannya sama cerita Radja Goela dari Semarang.

Bukan barang baru banget sih sebenarnya, saya sudah lama tahu ada pabrik di situ, tapi dulu saya belum sedetil sekarang kalau jalan-jalan. Berjalan menyusuri Jalan Yos Sudarso (kata gmaps), ah, suasana kota kecil memang menyenangkan ya, terutama buat saya yang sehari-hari berada di belantara metropolitan. Bikin betah.

Deretan rumah tua menawan mata, ah, nanti pulangnya kudu foto-foto lah, begitu pikir saya. Sekarang bablas Cokro dulu.

Oya, sebelum ke Cokro, saya mau mampir ke kios gethuk lindri di Jalan Sudirman, seberang KCU BCA Madiun. Kok tau-tauan kios gethuk segala? Salahkan kawan saya…. yang pernah posting di medsosnya, saya sebagai fangirl gethuk pasti tergoda 😁😁.

Untuk menuju Jalan Sudirman, saya berjalan luruuuss, menyusuri Jalan Yos Sudarso, tak lama, spot menarik kedua, PT. INKA, di sisi kiri jalan. Wah, gerbong LRT yang sedang ditunggu-tunggu warga Cibubur dan Bekasi diproduksi di situ kabarnya.

Maju sedikit, di persimpangan ujung jalan Yos Sudarso sebuah lokomotif tua dipajang di Taman Kereta Api Madiun, tak jauh pula dari Stasiun Madiun.

Masih di persimpangan yang sama, nampak kantor Polres Madiun Kota, yang kalau dilihat-lihat gedungnya kok nampak tua juga, mulai penasaran, bekas apa ini sebelum jadi kantor? Hahahahaha, mohon maaf kalau terlalu ngasal. Suasana tampak meriah, maklum saja, kami melintas beberapa hari setelah Hari Bhayangkara.

Memasuki Jalan Pahlawan, mulai terasa suasana pusat kota.

Daaaann, kejutan pertama, kok ada gedung cantik gaya kolonial begini?

Ternyata ini Gedung Bakorwil. Belum selesai kagetnya, tahu-tahu nongol lagi kejutan kedua di sisi kanan jalan, Gereja Katolik Santo Cornelius.

Disambung kejutan ketiga, Balai Kota Madiun! Yang sayangnya ngga sempat terfoto. Wah..wah..wah…. tiga gedung tua bergaya kolonial di tempat yang berdekatan, jejak kolonial pasti lumayan besar di sini. Pikiran saya mulai sibuk ingin mencari tahu. Eh, Cokro sama gethuk apa kabar Bubu? 🙊🙊

Ini dia gethuk-nya, ternyata enak beneran.

Di Jakarta, sudah sulit mencari penjual gethuk, apalagi yang rasanya masih otentik begini, hanya manis alami berpadu dengan gurihnya kelapa muda parut, tanpa bau-bau essence yang justru merusak rasa.

Tuntas, saya lanjut ke Cokro. Karena sebagian Jalan Sudirman searah, saya harus lewat jalan yang belum saya lewati sebelumnya.

Masih beberapa kilometer menuju Cokro, saya kembali menemukan hal-hal menarik, seperti banyaknya gereja dan bangunan bernuansa Katolik, ini semua pasti ada ceritanya.

Dan benar saja, sesampainya saya di Jakarta, saya browsing soal Madiun, malah sampai akhirnya dikirimi buku tentang Madiun. Saya jadi tahu, bahwa putaran sejarah Madiun tidak dimulai 101 tahun yang lalu sesuai usia kotanya. Mundur ke 1830an? Saat Belanda mulai masuk Madiun pasca Perang Diponegoro? Kurang jauhhhh… Ngobrolin Madiun harus sekalian sama kabupatennya, yang cerita sejarahnya sudah berusia 451 tahun, bahkan lebih mundur lagi ke masa Kerajaan Gegelang / Glangglang.

Sambil dadah-dadah ke rumah-rumah dinas PG Rejo Agung Baru yang saat ini lebih banyak kosong, saya membatin.

Kunjungan kemarin memang bukan kunjungan pertama saya ke Madiun. Namun yang pertama kali menyulut rasa ingin kembali, ke Bumi Retno Dumilah, secepatnya.

Lho..lho, iya kembali sih kembali, cerita Cokronya mana?

Nanti yaaaa, terpisah! 😂😂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *