Cultural, History, Travelling

Karangantu, Dulu Berjaya Sekarang Terlupa

Sebut pelabuhan di Banten yang kamu kenal!

Kalau pertanyaan itu kita lontarkan, saya yakin sebagian orang akan menyebut Merak. Dalam setahun, setidaknya dua kali pemberitaan tentang pelabuhan ini begitu ramai. Saat libur Idul Fitri dan akhir tahun. Sedangkan untuk pelabuhan kapal pengangkut kontainer, mungkin Port of Banten di Ciwandan yang banyak dikenal.

Tapi tahukah kamu, sejarah mencatat, Banten pernah memiliki sebuah pelabuhan internasional, tertua dan terbesar di pulau Jawa, Pelabuhan Karangantu!

Banten sudah menjadi pintu keluar masuknya para pedagang internasional yang berlayar ke Nusantara sejak lima abad yang lalu. Semakin ramai pasca jatuhnya Malaka, yang membuat para pedagang Muslim mengalihkan perdagangannya ke Selat Sunda karena enggan berniaga dengan Portugis.

Karangantu mencapai masa kejayaan di masa Sultan Maulana Hasanuddin, penguasa pertama Kesultanan Banten, kerajaan maritim yang mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomian. Pedagang dari Cina, Arab, Gujarat, dan Persia yang berlayar mencari komoditi ke Nusantara menjadikan Banten sebagai tempat transit karena lokasinya yang strategis.

Begitu ramainya hingga Cornelis de Houtman mencatatnya sebagai pelabuhan yang ramainya menyamai Pelabuhan Amsterdam, saat Belanda pertama kali mendarat di Nusantara di pelabuhan ini. Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen juga pernah membuat catatan soal kapal-kapal Tiongkok yang membawa barang dagangan senilai 300.000 real di Karangantu, beberapa peninggalannya dapat kita lihat di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, tak jauh dari kompleks Masjid Agung Banten Lama dan Keraton Surosowan.

Karangantu meredup sejak dikuasainya Sunda Kelapa, yang kemudian dijadikan pusat perdagangan oleh VOC di Nusantara. Kemudian perlahan hancur setelah perebutan kekuasaan di Kesultanan Banten antara Sultan Ageng Tirtayasa dan anaknya sendiri, Sultan Haji.

Kini, Karangantu bernama Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, sebuah pelabuhan perikanan ‘biasa’. Tak lagi bisa kita temui kapal-kapal dagang besar, melainkan kapal nelayan sederhana yang berlabuh di perairan yang dangkal.

Suasana Pelabuhan Karangantu saat ini

Pelabuhan yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Kelautan dan Perikanan ini sedang berbenah. Saat saya berkunjung Maret 2019 lalu, Pemkot Serang baru saja meresmikan kedai pesisir untuk mengembangkan potensi wisata Karangantu.

Kedai pesisir berada di sisi kanan jalan dermaga tempat warga berekreasi. Sementara di sisi kiri, kita akan jumpai kapal rakyat berjejer.

Selain kulineran di kedai pesisir, di dermaga yang sekarang terkenal dengan sebutan Pantai Gope (karena tarif masuk kendaraan roda dua senilai Rp 500), pengunjung bisa memancing, bersepeda, bersantai menunggu senja atau hunting foto. Bisa juga menyeberang ke Pulau Panjang dan Pulau Lima atau sekedar menyusuri Teluk Banten dengan kapal bermotor bertarif Rp 20.000/orang sambil berusaha merasakan sensasi berlayar bagai saudagar di masa lalu.

Berada sekitar 3 km dari kompleks Situs Banten Lama, 1,5 km dari Stasiun Karangantu,

Stasiun Karangantu, bagian dari rute Rangkasbitung Merak

dan ‘hanya’ 120an km dari Jakarta, Karangantu tak seberapa jauh untuk jadi alternatif tujuan wisata.

Pintu keluar tol menuju Banten Lama dan Karangantu

Sampai bertemu di Karangantu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *