Cultural, Travelling

Mercusuar Cikoneng, Titik Nol Anyer Panarukan

Menemukan (lagi) file Laporan Jurnalistik Ekspedisi Anjer Panaroekan-nya Kompas jelas jadi trigger awal rasa penasaran untuk menelusuri jalur ini.

Sampul laporan liputan Kompas

Jalur sepanjang nyaris 1100 kilometer ini sudah saya penggal dalam beberapa rencana perjalanan. Secara ngga mungkin banget kaaann, mau menempuhnya dalam sekali jalan.

Dan penggalan pertama saya mulai kemarin, di Titik Nol Anyer Panarukan.

Titik Nol Anyer Panarukan

Yang meskipun masih diperdebatkan, titik ini diyakini sebagai tempat mendaratnya Herman Willem Daendels di Indonesia, juga titik pencanangan pembangunan jalan De Groote Postweg / Jalan Raya Pos yang legendaris itu.

Dahulu, di titik ini berdiri Mercusuar Cikoneng Lama, yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Di lokasi kita bisa melihat sebagian pecahan pondasi menara suar lama.

Monumen Mengenang Letusan Gunung Krakatau

Memandang laut lepas di dermaga Mercusuar Cikoneng ini sangat menenangkan. Saya sangat menikmati suara debur ombak, semilir hembus angin sembari membayangkan seperti apa ya suasana kedatangan Pak Daendels dulu. Dan ketika berbalik badan, mata menatap Mercusuar Cikoneng Baru dengan takjub. Mercusuar yang berdiri sejak 1885 ini masih berdiri tegak dan kokoh. Dipandang dari sisi mana pun rasanya selalu terlihat cantik. Dan begitu melangkah mendekat ke pintu masuk, ketika saya harus mendongak untuk menatap puncak menara setinggi 75.5 meter ini, kemegahannya semakin terasa.

Penasaran dong… Masuk yuk! 😁

Di hari libur, menara suar berusia 134 tahun, yang sekarang dikelola oleh Distrik Navigasi, Dirjen Hubla, boleh dimasuki pengunjung. Namun dari 17 lantai yang ada, pengunjung hanya bisa naik hingga lantai 14 saja. Tak bisa hingga ke puncak, di mana lampu suar berada.

Siapkan kaki dan napas yang kuat. Total 252 anak tangga yang harus dilewati. Pastikan juga kamu ngga punya phobia ketinggian, bisa beradaptasi dalam ruang yg pengap. Karena makin ke puncak, ruang dalam menara semakin menyempit, tak ada sirkulasi udara yang baik, karena seluruh jendela tidak bisa dibuka.

Tapi apa yang bisa kita lihat dari atas bisa jadi pelipur lelah dan pengap. Saya ngga nyesel udah naik ke atas. Buat yang ngga sanggup, tenang, bisa di lantai 1 dan 2 aja untuk baca-baca informasi tentang mercusuar-mercusuar lain.

Btw, ini mercusuar pertama yang saya kunjungi. Dan ngiler pengen mengunjungi yang lainnya. Kamu pernah ke mercusuar mana?

📆 Juni, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *