Culinary, Cultural, Travelling

Malabar Mountain Coffee, Serunya Belajar Kopi Langsung di Tempatnya!

Saya kenalan sama kopi sejak masa anak-anak. Karena segelas kopi selalu terhidang untuk almarhum ayah saya setiap pagi. Kopi hitam, tubruk, yang wanginya menyeruak ke penjuru rumah, sekaligus memenuhi rongga hidung saya tentu saja.

Kenal sudah lama, bertemannya baru di akhir bangku SMA, masa melek malam, mempersiapkan UMPTN.

Makin ke sini, makin ke sini, semakin akrab. Kopi tak lagi hanya sebagai pusat suplai kafein untuk membuat saya terjaga. Tapi juga semacam bagian dari pusat kendali mood saya hari itu. Memulai hari rasanya ngga lengkap tanpa aroma kopi. Mau pergi pun, saya siapkan kopi dalam tumbler.

Kopi juga jadi minat baru, bukan cuma untuk diminum. Saya jadi suka mempelajari sejarahnya, jenis-jenisnya, proses dari hulu ke hilirnya, semacam from tree to cup gitu. Dan itu dimulai setelah berbincang dengan seorang teman kerja asal Amerika Serikat, yang sedang tinggal di Jogja untuk program rehabilitasi pasca gempa tahun 2006

Ia berkata, betapa beruntungnya bisa tinggal dalam periode cukup lama di Indonesia, jadi bisa puas menikmati kopi nusantara. Saya ngobrol seru campur malu, karena dia jauuuuuhhh lebih mengenal jenis-jenis single origin coffee dari Indonesia.

Dan, lebih dari satu dekade pasca obrolan itu, saya baru bisa merasakan minum kopi, yang sebagian proses tree to cup-nya saya lihat sendiri. Di mana? Malabar Mountain Coffee, Pangalengan, Bandung.

Tentu saja yang saya maksud dengan tree to cup di sini bukan menunjuk pada biji kopi yang sama. Belum mungkin lah yaaa, proses jemurnya saja ada yang sampai 40 hari… kudu magang dulu di situ kalau saya bener-bener pengen merasakan tree to cup yang sebenarnya. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Perjalanan sebagian dari proses tree to cup yang sebetulnya saya sederhanakan dari seed to cup (saya kutip dari NCA USA) dimulai dari:

1. Pemetikan cherries

Untuk yang belum tahu, buah kopi berwarna merah ini disebutnya coffee cherry.

Saya beruntung, meski tiba di akhir masa panen, masih bisa ketemu cherry merah yang bisa dipetik. Ngga semua cherry matang berwarna merah, contohnya kopi yellow caturra.

Saya sempat diajari juga cara memetik buah kopi yang benar.

Setelah petik, saya dipersilakan untuk nyeruput buah kopi daaaaannn… sumpah norak banget, saya baru tahu kalau buah kopi itu rasanya manis. Kalah sama luwak! ๐Ÿ™ˆ

Kemudian saya buka untuk lihat bagian dalam buah, yang ternyata seperti ini.

O ya, masa panen raya kopi di MMC ini antara Juni s/d September, di mana Juli Agustus adalah puncaknya. Kalau tertarik menyaksikan kebun kopi memerah siap panen, datang lah di bulan-bulan ini.

2. Penjemuran kopi

Ini sebenarnya bagian kecil dari rangkaian proses pengolahan kopi. Cara prosesnya pun beragam, natural, honey, washed, dll, yang bisa dipelajari di sini.

Yang saya lihat kemarin, proses natural.

Setelah penjemuran, masih ada proses lain hingga dihasilkan green bean atau biji kopi, yang siap untuk masuk proses roasting atau sangrai. Semua proses itu tak bisa saya lihat, karena sedang tak berlangsung. Jadi, langsung lompat ke:

3. Penggilingan kopi

Proses grinding tak mesti dilakukan oleh prosesor kopi. Kita pun bisa melakukannya sendiri di rumah, karena saat ini sudah banyak dijual beraneka grinder sesuai kebutuhan dan kemampuan.

4. Penyeduhan

Proses seduhnya kemarin secara manual / manual brew dengan metode V60. Hasilnya ini:

Diminum begitu saja, tanpa gula, susu, dan tambahan-tambahan lainnya.

Meminum kopi secara apa adanya ini, membuat indera pengecap kita bisa merasakan perbedaan rasa kopi, bahkan hasil seduhan dari jenis kopi yang sama sekali pun.

Contohnya yang disajikan ini, sama-sama Kopi Malabar, yang satu diproses secara natural, yang satu lagi secara full washed. Rasanya beda banget.

Kopi yang diproses secara natural, teorinya akan menghasilkan sentuhan rasa fruity. Rasa buah apa yang dihasilkan, konon tergantung pada tanam peneduh yang tumbuh di sekitar pohon kopi.

Kopi Kintamani misalkan, saya bisa merasakan aroma-aroma jeruknya karena memang ditanam bareng jeruk. Kopi Temanggung kadang terasa bau tembakau. Bahkan ada yang mencium aroma durian atau cabe di kopi-kopi tertentu.

Saya ngerasain apa? Salak!

Ngawur yaaaa, mohon maklum, saya bukan ahli icip kopi. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™ˆ

Bahagia betul saya hari itu. Bisa belajar lebih banyak, langsung di tempatnya. Dengan sambutan hangat dari Pak Asep, pengelola MMC, ditambah lagi bonus suasana sejuk di saung dan pemandangan indah jelang senja di Malabar. Tiada duanya!

Malabar Mountain Coffee ini bukan kedai kopi, melainkan ‘pabrik’ alias produsen kopi spesialti.

Jadi, meskipun mereka menyediakan kopi, tidak ada menu-menu manis a la cafe yang biasa ditemui. Semua tanpa gula. Sebagai bentuk edukasi bagaimana cara minum kopi yang sehat. Kalau ingin berkunjung ke sana, bisa ikuti petunjuk jalan di sini.

Nah, kalau mau yang a la cafe, silakan berkunjung ke kedainya, Malabar Mountain Cafe di Bogor.

Btw, jangan bingung ya, kalau menemukan Kopi Malabar Indonesia juga di Pangalengan. Memang ada dua pengolahan kopi di sana. Keduanya pegiat kopi yang sama-sama berjuang secara kontinyu mengibarkan kopi Nusantara, khususnya Malabar, ke panggung kopi dunia.

Selamat jalan-jalan, saya mau lanjut nyeruput kopi Malabar yang kali ini saya seduh sendiri di rumah.

Jaya lah kopi Nusantara!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *