Culinary, Cultural, Travelling

Sate Bandeng Khas Serang

Udah sampai Serang Banten, ngga lengkap kalau ngga nyobain kuliner khasnya sekalian. Sate Bandeng! Nyammm…

Sate Bandeng khas Serang

Sebenarnya ada kuliner khas Serang lainnya, tapi pilihan saya jatuh ke si milkfish ini. Pilihan Sate Bandeng di Serang pun buanyaakk, saya coba satu yang paling banyak direkomen sebagai yg otentik. Dan yang bintangnya paling banyak juga di google review. Sate Bandeng Ibu Hj. Mariyam, Kaujon, Serang.

Saya cek alamat, cek peta, meluncur.. Dalam perjalanan, yang muncul dalam bayangan saya adalah akan nemu sebuah restoran, atau setidaknya depot yang besar dan ramai pengunjung. Khas pusat oleh-oleh gitu deh.

Ternyata, salah besar!

Sate Bandeng Bu Mariyam ini hanya di sebuah rumah, di jalan yang tak terlalu besar, masih masuk gang pula.

Jalan Kaujon, dimana Sate Bandeng Bu Mariyam berada

Tapi, soal ramainya, saya ngga salah. Selang satu menit dari foto yang saya ambil di atas, pembeli berdatangan. Dan terpaksa parkir memadati sisi jalan Kaujon ini.

Pembeli mulai ramai berdatangan

Yuk lah, masuk. Dengan pedenya saya masuk, dalam kondisi setengah lapar, berharap bisa langsung duduk dan makan. Tapiiiiii, ternyata saya salah lagiiii! Tempat ini tak menyediakan tempat makan. Benar-benar cuma menjual sate bandeng, di mana pembeli hanya come and go.

Dan kagetnya lagi, begitu tiba, saya dihadapkan pada kenyataan (halahhh), bahwa sate bandeng hanya tersedia untuk para pembeli yang sudah memesan sebelumnya. Oh no, rupanya saat itu, tanggal 8 Juni 2019, beberapa hari setelah Lebaran adalah peak season. Menyadari sudah tak bisa beli, saya akhirnya minta ijin untuk melihat-lihat dan memotret area produksi di samping rumah saja.

Area pembakaran bandeng

Tepatnya, ini adalah area pembakaran bandeng, tempat memanggang bandeng-bandeng yang sudah diproses sebelumnya. Dilepas dari kulit, diolah dagingnya lalu dimasukkan lagi dalam kulit. Di area pemangganggan ini, bandeng dilapis sekali lagi dengan adonan isi, lalu dibakar dengan bara arang. Wanginyaaaa..

Proses membalur bandeng dengan adonan

Proses membakarnya sendiri tak terlalu lama, hanya sekitar 10-15 menit. Saat adonan sudah mulai nampak memadat dan muncul noda bakar kehitaman, berarti sudah matang.

Sate bandeng dibakar dengan arang

Sate Bandeng ini rupanya sajian ningrat lho. Warisan kuliner Kasultanan Banten, sejak abad 16. Masa itu, juru masak kraton galau, mau menyajikan olahan bandeng yang banyak dihasilkan di Banten, tapi ragu karena ikan bandeng terkenal buanyaakk duri halusnya. Cerita sejarahnya bisa dibaca di sini. Kagum lho saya, masa itu, kreativitas kuliner kita sudah di level itu!

Ngobrol punya ngobrol dengan pak mandor pembakaran, akhirnya beliau berbaik hati membolehkan saya membeli empat sate bandeng meski belum masuk antrian pemesanan. Mungkin beliau kasihan lihat jauh-jauh dari Jakarta, masa ngga bisa ngincipin haha.. 😄😄

Dapet juga, yeaayy!

Oya, sate bandeng ini sebenarnya ada dua varian rasa. Yang original, seperti yang saya beli ini. Dan yang pedas, berwarna merah dan yang lebih banyak dijajakan di etalase kaca. Mungkin karena warna merahnya lebih displayable 😄😄.

Dan ketika saya incip, rasanya gurih dan nyanten banget. Enak. Bahkan enak untuk dicemilin begitu saja, tanpa harus dimakan dengan nasi.

Sajian bandeng kali ini melengkapi rangkaian olahan bandeng Nusantara yang sudah pernah saya cobain.

  • Bandeng Presto Semarang
  • Bandeng Asap Sidoarjo
  • Otak-otak Bandeng Gresik dan Juwana

Ada satu lagi olahan bandeng yang masih belum keturutan cobain, Bandeng Lumpur khas Brebes. Mudah- mudahan bisa segera. Mau juga ngulang ke Serang untuk cobain sate bandeng merah atau olahan produsen yang berbeda.

Btw, dari sekian olahan bandeng itu favorit saya masih Otak-otak Bandeng Gresik, lebih cocok dengan selera lidah saya.

Kamu? Suka yang mana?

Atau punya rekomendasi olahan bandeng yang lain? Share yaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *