Cultural, History, Travelling

Landhuis Grogol a.k.a Gedong Tinggi, Awal Denyut Nadi Palmerah

Bahkan sebelum jadi warga Jakarta, saya sudah mengenal Palmerah, lewat Majalah Bobo, bacaan saya sejak SD. Belakangan, Palmerah sering jadi perhatian karena stasiunnya yang bertransformasi jadi super keren.

Tapi ada apa saja sebenarnya di Palmerah? Kenapa namanya Palmerah? Apa hubungannya sama Pal Putih, Palmeriam, dan pal-pal lainnya di Jakarta? Saya dan kawan-kawan Klub Tukang Jalan menelusuri Palmerah akhir minggu lalu, dan akan memulai menceritakannya dari sini.

Gedong Tinggi Palmerah a.k.a Landhuis Grogol

Denyut kehidupan di Palmerah berawal saat Andries Hartsinck, seorang petinggi VOC, membangun sebuah rumah perkebunan tak jauh dari Kali Grogol, pada tahun 1790. Saat itu wilayah Palmerah merupakan wilayah ommelanden yang masih berupa hutan, dua jam berjalan kaki dari Batavia.

Kok bangun rumah jauh-jauh dari kota?

Alasannya sama seperti sekarang, kondisi kota semakin padat, bising dan tak sehat.

Rumah ini dibangun dengan gaya arsitektur Indische, dengan ciri khas pilar besar di bagian depan, berlangit-langit tinggi, berjendela dan pintu besar sebagai usaha untuk menyesuaikan dengan iklim tropis. Dan memang, bangunan berdesain seperti ini terasa sejuk, bahkan hingga sekarang.

Bangunannya masih berdiri kokoh, dan sekarang digunakan sebagai Kantor Polsek Palmerah. Halaman luasnya berubah menjadi lapangan parkir dan bangunan penunjang kegiatan Polsek. Sementara lahan perkebunannya berubah menjadi pemukiman padat penduduk.

Saat berada di beranda, saya seperti dibawa ke masa lalu. Suasananya mirip dengan suasana rumah Nyai Ontosoroh di film Bumi Manusia. Dari beranda, nampak Jalan Palmerah Barat yang juga sudah tua, dibuat untuk menghubungkan rumah ke pasar (sekarang Pasar Palmerah) dan stasiun (sekarang stasiun Palmerah). Bukti rumah perkebunan ini membawa pengaruh pada perkembangan lingkungannya.

Landhuis Grogol bukanlah satu-satunya rumah perkebunan yang dibangun oleh Hartsinck sebagai tuan tanah penguasa Palmerah. Beberapa ratus meter di depannya, ada sebuah rumah yang kala itu disebut sebagai:

Landhuis Djipang

Dikelilingi persawahan dan peternakan luas, rumah ini dilengkapi dengan sebuah menara lonceng, yang berfungsi sebagai penanda waktu awal dan akhir bekerja para budak.

Sayangnya, Landhuis Djipang ini sudah diruntuhkan tak bersisa pada tahun 1996. Seorang warga yang sempat saya temui, menceritakan pengalaman masa kecilnya bermain di rumah tersebut, ia mengingatnya sebagai rumah besar dan ada sebuah lokomotif tua di halaman depannya.

Lonceng yang pernah menjadi penanda awal denyut kehidupan di Palmerah ini bukan hanya tak lagi berhenti berdentang.

Sempat tersisa dan disimpan di sebuah Balai Warga yang hanya selemparan batu dari kantor Kompas Gramedia, lonceng ini sekarang hilang, tak tahu di mana rimbanya. Warga sekitar pun tak lagi tahu, ada cerita apa di balik riuh kesibukan Palmerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *