Cultural, History, Travelling

Denyut Palmerah, Dulu hingga Kini

Lanjutan dari kisah awal mula berdenyutnya kehidupan di Palmerah…

Setelah Hartsinck membuka kawasan perkebunan di Palmerah, tentu saja pertanyaan saya berikutnya adalah ke mana ia menjual hasil kebunnya? Apakah Pasar Palmerah ada kaitannya? Apakah pasar ini ada sejak masa rumah perkebunan Hartsinck berdiri? Saya tak menemukan informasinya.

Informasi lebih meyakinkan justru soal sebuah kelenteng di belakang pasar. Kelenteng Hian Thian Siang Tee.

Dari sekian banyak kelenteng yang saya kunjungi, lokasinya selalu di antara dua ini, pesisir atau pasar. Alasannya karena para pendatang dari Tionghoa ini adalah pedagang.

Pengurus kelenteng kemarin menginformasikan kelenteng ini telah berusia 200an tahun, kalau dihitung mundur dari tahun ini, setidaknya di tahun 1820, kelenteng ini sudah berdiri.

Cocok banget timeline-nya. Landhuis Grogol berdiri 1790an, kelenteng 1820an. Maka saya berasumsi, pasar Palmerah kira-kira usianya sekitar itu juga. Argumen saya tentu saja, ngapain juga ada komunitas Tionghoa di seputar Palmerah kalau tak ada aktivitas perdagangan di sekitarnya? Jangan langsung percaya ya.. saya bukan sejarawan 😁😁.

Ukurannya yang tak sebesar kelenteng di area Glodok, membuat saya menduga, bisa jadi jumlah anggota komunitas Tionghoa juga tak sebesar di area Glodok.

Meski tak besar, banyak juga yang beribadah di sini. Di area depan, tergantung deretan lampion bertandakan nama ‘pemilik’nya.

Lampion-lampion ini dipasang selama setahun penuh, dimulai dari beberapa hari sekitar Hari Raya Imlek. Lampion adalah simbol pengharapan si pemilik akan jalan terang sepanjang setahun ke depan di setiap hajatnya. Bisa berkait dengan rejeki, kesehatan, anak, doa untuk orang tua yang baru wafat dan sebagainya.

Kembali lagi ke soal Pasar Palmerah. Mau tua atau tidak, faktanya, Pasar Palmerah menjadi sentra perdagangan yang berperan penting hingga sekarang.

Kalau kamu berkesempatan lewat, kamu bisa melihat pasar ini ramai dari pagi hingga malam. Pedagang tumpah hingga ke jalan, menempati trotoar yang juga masih berantakan. Macet adalah sebuah keniscayaan di Pasar Palmerah.

Yang terakhir dari rangkaian terbentuknya peradaban Palmerah kalau dilihat dari tahunnya adalah, Stasiun Palmerah.

Menurut laman KAI, Stasiun Palmerah mulai dirintis pada tahun 1891, karena semakin ramainya lalu lintas perdagangan di kawasan ini. Untuk itu, dikembangkanlah jalur baru yang merupakan pecahan dari jalur Batavia Tangerang, dan mulai beroperasi sekitar tahun 1899-1900.

Meski bangunan baru yang super keren sudah berdiri, bangunan lama di sisi barat tetap dipertahankan. Saya ngga sempat mengambil gambar, hanya sempat menikmatinya dari balik kaca Circle K yang berada tepat di seberangnya.

Dalam rentang waktu satu abad, cikal bakal Palmerah bertumbuh. Terus bertumbuh hingga kini. Bahkan menjadi semakin ramai. Seiring perkembangan jaman, Palmerah juga berubah.

Dulu, Palmerah merupakan satu wilayah batas terluar Batavia yang ditandai dengam sebuah paal atau patok berwarna merah.

Sekarang, Palmerah menjadi sebuah wilayah yang saat ini terpecah dalam tiga wilayah administratif.

  • Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Termasuk di dalamnya, stasiun, pasar dan kelenteng.
  • Kelurahan Palmerah, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat. Termasuk di dalamnya, Polsek Palmerah, ex Landhuis Grogol
  • Kelurahan Grogol Utara, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Tentu saja tak dapat kita temui lagi patok berwarna merah, meski namanya abadi hingga kini.

Kembali ke pertanyaan awal di tulisan sebelumnya. Apa hubungan dengan Palputih. Palmeriam, bahkan ada Palsigunung Cimanggis Depok?

Kapan-kapan saya telusuri lagi untuk dapat ceritanya..😁😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *