Categories
History Travelling

Museum Pos Indonesia, Bandung

Berulang kali ke Bandung, berulang kali pula saya ingin berkunjung ke museum ini, tapi ngga pernah kesampaian. Apa pasal?

kalau berfotonya di jaman dulu, bisa jadi itu pedati, bukan mobil

Saya ceritakan, sambil sekalian menceritakan hal-hal menarik dari Museum Pos Indonesia.

1. Jam bukanya agak berbeda dengan rata-rata museum lainnya.

Rata-rata museum yang saya kunjungi, liburnya di hari Senin dan harlibnas. Tapi Museum Pos Indonesia hanya buka setengah hari di hari Sabtu dan tutup di hari Minggu. Padahal kalau saya ke Bandung, di hari kerja waktu sudah habis untuk (tentu saja) kerja 😁. Maka, ketika awal Maret lalu ada tugas ke Gedung Sate, kesempatan untuk melipir ke sini tak mungkin saya lewatkan.

Jadi, catat ya, agendakan untuk berkunjung di hari dan jam kerja. Pengunjung hanya diwajibkan mengisi buku tamu, tanpa biaya.

2. Direncanakan sebagai bagian dari kompleks pusat pemerintahan Hindia Belanda.

Museum Pos Indonesia ini bersebelahan persis dengan Gedung Sate. Kalau sudah pernah ke Museum Gedung Sate atau membaca sejarahnya, pasti mengetahui, bahwa gedung yang saat ini menjadi Kantor Pusat PT. Pos Indonesia adalah satu dari (hanya) dua bangunan yang berhasil diselesaikan dalam rencana pembangunan Gouvernement Bedrijven alias komplek pemerintahan calon pengganti pusat pemerintahan di Batavia. Sayangnya (atau untungnya? 😁 kalau terbangun semua, bisa-bisa ibukota Indonesia sekarang ini di Bandung) kompleks ini gagal dibangun pemerintah Hindia Belanda karena krisis moneter.

Sebelum masuk ke museum, saya menyempatkan diri melihat bagian depan Kantor Pusat PT. Pos Indonesia dan kemegahannya memang membuat saya menghela napas panjang, persis seperti saat menikmati pilar-pilar megah dan gagahnya Gedung Sate, breathtaking…

fasad Kantor Pusat PT. Pos Indonesia

3. Sudah jadi museum sejak Indonesia belum merdeka

Tepatnya tahun 1933, dengan nama Museum Pos Telepon dan Telegrap (PTT), dikelola oleh Dinas PTT Hindia Belanda. Saat masa peralihan kekuasaan ke Jepang, museum ini terbengkalai, hingga tahun 1980 direvitalisasi dan berubah nama menjadi Museum Pos dan Giro pada tahun 1983. Lalu berubah lagi jadi Museum Pos Indonesia bersamaan dengan berubahnya nama Perum Pos dan Giro menjadi PT. Pos Indonesia.

pintu masuk museum

4. Menyimpan sejarah penting perkembangan pos di Indonesia.

Kalau ngga ke sini, saya ngga tahu, kalau PT. Pos Indonesia adalah salah BUMN dengan catatan sejarah yang cukup panjang. Kantor pos pertama didirikan di Batavia pada 26 Agustus 1746, berarti tahun ini keberadaan pos akan mencapai 274 tahun. Whoaaa…

Di lorong bagian depan ini, ada sebuah informasi mengenai Mas Soeharto, Kepala Jawatan PTT I, yang berjasa merebut kantor pusat PTT dari tangan Jepang tanpa pertumpahan darah pada tanggal 27 September 1945, dan diperingati sebagai Hari Bakti PTT atau Postel.

kisah Mas Soeharto

Sedihnya, Mas Soeharto tak ditemukan jejaknya hingga kini. Diduga wafat setelah diculik tentara pendudukan Belanda pada Agresi Militer II, tahun 1949 di Yogyakarta. Itu lah kenapa namanya diabadikan sebagai nama ruas jalan di Kecamatan Danurejan, Yogyakarta.

5. Berlokasi di basement gedung.

Untuk masuk ke ruang penyimpanan koleksi, saya harus menuruni anak tangga bersuasana tua.

menuju basement ruang pamer

Tapi tak perlu khawatir, penerangan dan pendingin ruangan cukup membuat suasana nyaman. Terasa kurang nyaman hanya apabila kita menjadi satu-satunya pengunjung di gedung itu, seperti saya kemarin. Sampai-sampai saya merasa perlu menyampaikan usul agar bisa ditugaskan satu orang pemandu atau setidaknya penjaga, untuk menemani pengunjung yang sendirian hahahahaa…

6. Menyimpan koleksi yang super berharga.

Kita bisa melihat koleksi barang-barang penunjang kegiatan pos dari masa ke masa.

Sebagian membuat saya senyum-senyum sendiri, karena pernah merasakan fungsinya.

Yang satu generasi dengan saya pasti sempat merasakan romantisme berkirim surat. Beli prangko, nyemplungin surat ke bus surat, antri di loket untuk mengirim paket, mengirim/mengambil kiriman wesel, atau menunggu suara motor pak pos membawa surat-surat cinta penting? 😁

siapa yang pernah ngerasain suasana ini?

Selain itu, museum ini juga menyimpan surat-surat emas, alias surat raja-raja Nusantara kepada para komandan dan jenderal penguasa masa kolonial. Dan tentu saja, ribuan prangko dari seluruh dunia. Koleksi surat dan prangko sengaja tak saya ambil fotonya, supaya kamu punya alasan untuk datang dan lihat sendiri.

7. Lokasinya sangat strategis.

Museum hopper kaya saya bisa hepi banget, di satu area lokasi ini saja, kamu tak hanya bisa mengunjungi Museum Pos Indonesia, tapi juga Museum Gedung Sate (lebih baik registrasi online dulu di website-nya) dan Museum Geologi. Semua bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki di bawah rimbunnya pohon dan sejuknya udara Bandung.

Selamat berkunjung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *