Categories
Relationship Self Improvement Society

Galakan Yang Ditegur dari Yang Negur. Kenapa?

Hari ini medsos dibuat heboh sama video viral bapak-bapak yang marah besar karena penumpang mobil yang kebetulan istrinya diminta pindah ke tempat duduk belakang sesuai ketentuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Aturan Dishub masing-masing pemerintah daerah memang merupakan turunan dari Permenkes tentang pengendalian penyebaran pandemi. Dan saya ngga berminat membahas sisi ini.

Pertanyaan banyak orang setelah melihat video tadi adalah, “kok bisa sampai marah besar ya perkara gitu aja?”

Jadi begini, sangatlah wajar sebenarnya bagi seseorang untuk merasa terganggu saat menerima teguran. Kita akan merasa adanya potensi ‘ancaman’ terhadap otonomi kita sebagai individu yang hidup dengan cara yang sesuai dengan nilai dan kepercayaan yang kita pegang. Tingkat terganggunya ini yang bervariasi sekali. Ada yang cuma level sebel, ada juga yang sampai level ngamuk.

Dan bukan cuma sekali ini terjadi kan. Sudah sangat sering kita lihat, orang ditilang terus ngamuk, tetangga ditegur sesama tetangga ngamuk, bahkan suami/istri ditegur pasangannya juga bisa ngamuk. 🙈

Kenapa?

Karena ada orang-orang yang over sensitive of feeling controlled. Ia merasa orang yang menegurnya bermaksud mengontrol / menguasai dirinya. Ya memang ada, jenis orang-orang manipulatif yang selalu berupaya mengendalikan orang-orang di sekitarnya dengan berbagai macam alasan, tapi kan tidak demikian dengan penilangan, (rata-rata) teguran tetangga dan pasangan. Hehehe…

Pertanyaan berikutnya kenapa ada orang yang over sensitive terhadap teguran dan bereaksi dengan marah?

Self-awareness yang rendah

Orang yang mengenal dirinya dengan baik, biasanya selalu ada dalam kondisi dimana dirinya selalu berupaya memperhatikan pikiran, perasaan dan perilakunya, serta apa dampaknya terhadap orang lain. Ia punya kendali penuh atas dirinya. Dan yang paling mudah dilihat pada orang dengan kesadaran diri yang tinggi adalah, bagaimana ia tetap dapat merespon keadaan dengan baik bahkan dalam situasi dan kondisi yang kurang baik.

Kurang percaya diri

Kepercayaan diri yang rendah adalah bahan bakarnya keraguan diri. Keraguan diri membuat seseorang sering berpikir orang lain lebih pintar, hebat, berkuasa, dan lain sebagainya. Dan ia akan dikuasai oleh orang lain.

Sebaliknya, orang yang percaya diri, tak mudah melihat orang lain sebagai ancaman.

Masa lalu yang belum selesai

Masa kecil adalah masa dimana kita tak punya kendali penuh atas diri kan. Dan sayangnya sebagian dari kita melewati masa kecil yang tak sebaik orang lainnya. Bisa jadi pola pengasuhan masa kecil tidak mendorong seseorang untuk tumbuh dalam kemandirian. Harus berpikir, merasa, berperilaku, sesuai dengan arahan orang tua atau figur pengasuhnya.

Kondisi demikian punya efek panjang, ada orang ngasih pendapat berbeda aja, dia bisa defense setengah mati. Apalagi ditegur!

Endapan masa kecilnya itu memicu kemarahan, karena seperti diseret kembali ke masa kecil yang penuh kontrol.

Kesimpulannya?

Saya menulis ini bukan untuk menilai si bapak dari Bogor itu ya, kan ngga kenal. Tahu kejadiannya juga cuma lewat sepotong video.

Ini untuk pembelajaran bersama, termasuk saya, siapa tahu masih suka emosi jiwa ngerasa ngga terima kalau ditegur orang. Coba cek tiga hal yang saya tulis di atas.

Yang merasa belum mengenal dirinya, kenalan. Yang merasa kurang kepercayaan dirinya, tingkatkan. Yang punya masa lalu kurang menyenangkan, berdamailah.

Kalau merasa perlu bantuan ahlinya, cari.

Demi kesehatan mental dan kesejahteraan hidup bersama 😊.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *