Categories
Cultural History

Jilakeng, Jejak Prostitusi di Jakarta

Kalau saya ditanya, mana red light district di Jakarta, saya pasti akan jawab MaBes. Bukan Markas Besar yang di Cilangkap ya. Tapi kawasan Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat.

Sepertinya memang ini yang paling mencuat namanya dari lokasi-lokasi ‘merah’ di Jakarta. Lokasi-lokasi? Memang ada berapa?

Yang akan segera melintas dalam ingatan saya selain Mabes adalah, Alexis yang sempat ramai diberitakan (akan) ditutup, lalu (sebagian kecil) area Little Tokyo di kawasan Blok M, Kalijodo yang penutupannya bikin heboh, Senen, juga Kramat Tunggak, yang terakhir ini bisa jadi tak semua orang tahu, karena sudah ditutup di puncak kejayaannya pada tahun 1999, setelah dua puluh sembilan tahun beroperasi. Belum lagi salah satu apartemen di bilangan Kalibata yang terkenal di urusan prostitusi online.

Perlu diingat, tidak ada red light district legal di Jakarta. Tapi mau bilang ilegal kok ya susah juga, tadi sempat baca liputan tahun 2016, ada lebih dari 10 lokasi prostitusi aktif yang tak tersentuh aparat di Jakarta dan kota penyangganya. Empat di antaranya ada di dekat tempat tinggal saya malah. Hayo looo… 🙈🙈

Mangga Besar, ternyata punya sejarah panjang , demikian pula dengan prostitusi di Jakarta yang nyaris sama tuanya dengan usia kota ini.

Praktik pelacuran kalau ditelusuri ke belakang, sudah ada sejak jaman VOC, tahun 1700an. Prostitusi pertama di Jakarta bernama Macao Po, lokasinya di depan Beos (Stasiun Jakarta Kota sekarang). Saat itu, pusat kota di Jakarta memang berada di sana, itu lah kenapa kita sekarang menyebutnya sebagai Kota Tua. Pelacurnya didatangkan langsung dari Macao, dan masyarakat menyebutnya cabo, berasal dari kata caibo (bahasa Tionghoa) yang kurang lebih artinya adalah ‘wanita malam’.

Setelah Macao Po, yang merupakan wilayah prostitusi kelas atas, muncul Gang Mangga, pelacurnya beragam etnis dari Tionghoa hingga pribumi. Tempat ini begitu ramai dan terkenal, namun karena murah, maka faktor kesehatan tak pernah menjadi pertimbangan. Penyakit seksual menyebar dari sini, sampai-sampai ada istilah penyakit gang mangga! Bisa nebak kan, di mana lokasi Gang Mangga ini sekarang?

Selain Gang Mangga, ada lagi pesaing baru lokasi prostitusi, di Glodok, yang terkenal dengan sebutan soehian. Sudah ditutup di awal abad 20an karena sering terjadi keributan. Uniknya, meski sudah lenyap, kata soehian tak pernah lenyap dalam dialek Betawi. Sering dengar kan, orang bilang “Dasar suwe lu”, itu dari kata suwean (serapan dari soehian) yang maknanya sialan, sumpah saya juga baru tahuuuuuu…

Dari Macao, Gang Mangga hingga Soehian, meski hingga hari ini masih ada yang beroperasi, tak ada jejak bangunan yang bisa kita lihat. Yang masih bisa kita lihat sekarang adalah di area berikut ini.

Saya ceritakan dari buku Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi,

Kawasan Jilakeng, satu dari benih prostitusi di Jakarta, yang jejaknya (berupa bangunan) masih bisa kita lihat sampai sekarang.

Tak ada lagi nama Jilakeng di Jakarta, bahkan yang lahir besar di Jakarta pun belum tentu tahu. Sekarang sebagian orang mengenalnya sebagai Kawasan Toko Tiga, di area Jalan Perniagaan, Roa Malaka, Jakarta Barat.

Jilakeng berasal dari kata “ji lak keng”, artinya dua puluh enam bangunan. Saat ini tepatnya berada di Jalan Perniagaan Barat, tak jauh dari pusat perbelanjaan Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat.

Rumah di sudut pertemuan Jalan Perniagaan Barat dan Perniagaan Raya ini satu dari lima rumah yang tersisa di kawasan Jilakeng.

Lantai bawah rumah-rumah di masa itu, tahun 1800an, umumnya digunakan sebagai ruang madat dan judi, sedangkan lantai atas untuk prostitusi.

Para pria menuang tuak untuk para penjudi, ditemani pelacur yang tampil dengan busana ala penari cokek, mereka umumnya perempuan peranakan pribumi atau kiau seng, ayah Tionghoa, ibu pribumi. Saking termasyhurnya arena judi dan madat ini, sampai terkenal sebagai Las Vegasnya Batavia.

Praktik prostitusi sudah sangat lama sirna di wilayah ini, orang-orang lebih mengenal rumah ini sebagai bekas Toko Obat Lay An Tong. Bekas nama toko ini masih bisa kita lihat di salah satu sisi temboknya. Pewarisnya, yang sudah lanjut usia menyatakan, di masa mudanya kawasan Jilakeng sudah menjadi sentra obat, perdagangan produk logam dan bahan bangunan.

Kalau nanti masa pandemi ini sudah mereda, situasi sudah (me)normal dan relatif aman, tempat pertama yang saya akan kunjungi sepertinya ini. Atau ajak suami temenin saya menyusuri Mangga Besar ya? Hahahahhahhhh… 😄😄

Teman-teman yang pengen lihat juga sisa-sisa bangunan tua Jilakeng tapi ragu jalan sendirian, bisa ikutan jalan bareng Klub Tukang Jalan, rute Perniagaan.

Nanti yaaaaa, sabar dulu. Sekarang kalau ngga harus bekerja, ngga perlu-perlu amat, lebih baik #dirumahaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *