Categories
Cultural History Travelling

Kenalan (lagi) Sama Cileungsi

Kenal Cileungsi ngga?

Saya mengenalnya pertama kali di seputar 90-an, pertama kali lewat, waktu liburan keluarga roadtrip ke Taman Safari Cisarua. Dari daerah Pengasinan, Rawa Lumbu Bekasi, lewat Raya Narogong, bablas terus ke Citeureup, baru masuk Tol Jagorawi dari situ. Jalur itu dipilih karena relatif lebih singkat dibanding kalau kami harus ke Cawang dulu untuk masuk tol. Jaman itu Tol JORR belum ada ya gaes 😄😄.

Cileungsi di masa awal saya hijrah ke Jakarta (coret) tahun 2000an, rasanya seperti daerah yang baru dibuka untuk kawasan pemukiman. Asumsi saya, karena Cibubur makin padat, maka pembangunan kawasan pemukiman harus semakin ke arah timur. Sampai sekarang pun masih demikian, kalau kalian berkesempatan melintasi Jalan Alternatif Cibubur, pasti bisa lihat bentangan puluhan spanduk promosi perumahan di sepanjang jalan.

Asumsi saya tak sepenuhnya benar. Sebagai kawasan komplek perumahan bisa jadi Cileungsi memang baru dikembangkan. Tapi usianya sudah jauhhh lebih tua.

Jalan Raya Narogong ini misalnya, mulai dibuka tahun 1980an, saat sebuah pabrik semen besar dibangun di kawasan Citeureup. Raya Narogong memainkan peran penting sebagai jalur penghubung Bekasi-Bogor.

Jadi usia Cileungsi sekitar empat puluh tahunan? O tidaaakk, Cileungsi sudah ‘hidup’ sejak masa kolonial.

Seorang tuan tanah bernama Agustijn Michiels, dikenal juga sebagai Mayor Jantje, adalah pemilik lahan ribuan hektar di kawasan yang dulu bernama District Tjilengsie, bagian dari Afdeeling Buitenzorg alias Bogor.

Saya menemukan sebuah catatan, Nationaal Archief Ministerie Van Onderwijs, Cultuur, en Wetendschap, berisi inventaris perusahaan Pak Mayor, Michiels-Arnold, Cultuur-en Handelmaatschappij te Amsterdam, yang menyebutkan dalam rentang 1887-1957 total lahan yang dikuasai seluas 17.260 ha, hanya di wilayah Cileungsi saja! Belum termasuk yang di Kelapa Nunggal, Cipamingkis, hingga Citeureup.

Gambar di atas adalah perbandingan wilayah Kelurahan dan Kecamatan Cileungsi (12 Kelurahan termasuk Cileungsi) di masa kini. Kecamatan Cileungsi merupakan salah satu sisi terluar Kabupaten Bogor, yang berbatasan dengan Kota dan Kabupaten Bekasi.

Kalau lihat iklan di atas, sebagian besar lahan itu bisa jadi berupa perkebunan karet. Yang sepertinya merupakan komoditi dengan nilai yang terbilang besar, sampai-sampai rumah dan kantor administrasinya semegah ini.

Sayangnya bangunan ini sudah runtuh, berubah jadi pemukiman warga di Jalan Singa Rante. Tak jauh dari Polsek Cileungsi, Jalan Alternatif Cibubur. Saya kesulitan menemukan jejak bangunan masa kolonial di Cileungsi, browsing sana sini, baca buku, baru nemu satu. Kapan-kapan akan saya kunjungi.

Saya juga belum nemu lagi ada ngga ya sisa perkebunan karetnya? Berapa kali lewat, berjibaku dengan panas dan debu industri yang tebalnya ngga main-main, saya malah setengah ngga percaya kalau kawasan ini dulunya perkebunan. Mungkin saya kurang jauh mainnya hehehe…

Berarti kesimpulannya Cileungsi berusia sekitar 130an tahun, kalau melihat catatan inventaris tadi? O tidak jugaaa, saya baru tahu ada kelenteng dan jejak pemukiman komunitas Tionghoa yang lebih tua. Saya ceritakan di post berikutnya ya.

Tungguin.. 😁😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *