Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya Sejarah

Kelenteng Han Tan Kong, Cileungsi

“Ren, bisa bantu ke Kelenteng Cileungsi ngga?”, seorang kawan tiba-tiba menghubungi saya hari Minggu pagi kemarin.

Hah? Kelenteng Cileungsi? Hampir sepuluh tahun tinggal di kawasan Cibubur, baru ini tahu ada kelenteng. Saya dikirimi profilnya, cek di google maps, dua belas kilometer saja dari rumah saya di Ujung Aspal.

Kelenteng Han Tan Kong, Jalan Kampung Pasar Lama, Cileungsi, Kabupaten Bogor. Belum habis keterkejutan saya, mengetahui keberadaannya, rasa ingin tahu langsung tersulut, begitu baca alamatnya. Pasar Lama, wah menarik nih, jadi teringat sama yang di Tangerang.

Setelah menyelesaikan urusan, saya minta ijin, berhubung saat ini masih dalam masa transisi, apakah boleh saya mampir berkunjung? Syukurlah pihak pengurus menyambut baik, saya diperkenankan masuk (dengan tetap memperhatikan prosedur kesehatan) dan dipandu.

Hal pertama yang saya tanyakan tentu saja adalah usia kelenteng ini. Di catatan sebelumnya, saya menceritakan tentang kehidupan di Cileungsi masa kolonial. Sebuah catatan menyebut angka tahun 1887 sebagai awal pencatatan inventaris perkebunan karet. Kalau merujuk pada itu, bisa jadi Cileungsi sudah ‘hidup’ selama 133 tahun.

Sayangnya, tak ada catatan mengenai keberadaan kelenteng ini. Dokumen-dokumen semua terbakar habis pada kerusuhan tahun 1960an. Hmmm pasca 65 kah? Tak ada yang bisa memastikan. Semua cerita tentang kelenteng hanya mengandalkan ingatan dan cerita yang disampaikan secara turun temurun.

Salah satu cerita yang saya dapatkan, kelenteng ini sudah ada sejak 1818, namun berada di lokasi lama, tak jauh dari lokasi sekarang. Karena kecil, makin lama makin tak dapat membendung umat yang semakin banyak. Akhirnya dipindahkan ke sebuah tanah yang dihibahkan oleh leluhur sebuah keluarga yang hingga kini tinggal di sebelah kelenteng.

Sempat dikelola oleh masyarakat, saat ini kelenteng dikelola oleh sebuah yayasan, dan seperti kelenteng lainnya, menjadi tempat ibadah pemeluk keyakinan Tao, Konghucu dan Buddha, bernama resmi Vihara Dharma Bakti.

Sesuai dengan namanya, dewa utama di kelenteng ini adalah Han Tan Kong, yang merupakan dewa rezeki. Han Tan Kong memiliki banyak pengikut yang cukup besar di Cileungsi. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan mata pencarian etnis Tionghoa di masa itu.

Saya yang tak terlalu paham dengan dewa-dewa dalam budaya Tionghoa sempat bertanya pada seorang teman yang pengetahuannya cukup banyak soal ini. Darinya saya tahu, ia adalah seorang jenderal besar yang hidup di masa Dinasti Zhou. Memiliki seekor tunggangan harimau, setelah ditaklukkan oleh Sang Jenderal.

Kalau saya ngga baca nanya soal ini, saya pikir sosok macan yang tampak punya porsi cukup besar di kelenteng ini masih berkaitan dengan kultur Sunda, peninggalan Prabu Siliwangi. Ternyata bukan 😁😁.

Selain Han Tan Kong sebagai dewa utama, di kanan kiri altar utama ada altar bagi dewa-dewa lainnya.

Satu hal yang selalu menarik di sebuah kelenteng, sering kali saya jumpai ada tokoh lokal yang dihormati dengan dibuatkan altar khusus dalam komplek. Di Lasem ada altar untuk Raden Panji Margono, di Bogor ada kelenteng yang punya ruang persembahan untuk tokoh-tokoh agama Islam dan Sunda. Sepertinya ini terkait dengan kultur Tionghoa yang menghormati leluhur, orang-orang yang berjasa pada masyarakat.

Demikian juga di kelenteng ini, ada area khusus penghormatan untuk Aki Jenggot, yang kalau saya lihat figur dalam pahatannya, bukan etnis Tionghoa. Sebutannya juga Aki, dan tempat penghormatannya disebut keraton. Sayangnya, lagi-lagi tak banyak cerita yang bisa digali dari tokoh ini.

Kunjungan saya hari itu, ditutup dengan obrolan dengan Pak Herman, juru kunci Keraton Aki Jenggot.

Beliau seorang peranakan asli Kampung Cileungsi. Ketika saya tanya, “Jadi, Bapak ini orang Sunda apa orang Cina?”. Beliau menjawab sambil tertawa lebar, “Cina Cileungsi lah saya, jadi orang apa aja, yang penting jadi orang baik”. Pembawaannya yang riang dan hangat, membuat saya nyaman meski sedang sesaat menjadi minoritas. Saya memang terus menerus berlatih menempatkan diri jadi minoritas, supaya tahu bagaimana harus bersikap saat jadi mayoritas.

Oh ya, soal Pasar Lama, nanti saya cerita lagi. Masih di seri Kenalan Lagi Sama Cileungsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *