Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya Sejarah

Menembus Lorong Waktu, Menuju Cileungsi Kala Itu

Masih dari Cileungsi, cerita kali ini tentang perkenalan saya dengan keluarga Pak Acang. Pemilik rumah tua yang sejak awal masuk kawasan Kelenteng Han Tan Kong, mata saya sudah tertambat ke sana.

Rumah tua ini bagian depannya dipayungi pohon sawo besar, yang bisa jadi usianya juga sudah setua rumahnya. Saat saya datang, sedang tak banyak berbuah. Warna coklat yang menyembul dari daun-daun rimbunnya ternyata hanya lah daun-daun kering dari ranting yang patah.

Sementara di bagian kanannya terdapat kebun pisang yang cukup luas, dan di antara batang-batang pohonnya, ayam-ayam kampung peliharaan keluarga berseliweran. Persis suasana di kampung almarhun mbah putri saya di Gombong, Kebumen.

Sisi kiri rumah ada jalan tak terlalu lebar, menuju sisi belakang rumah yang tampak agak seram. Sebuah bangunan yang juga nampak tua berdiri di situ, dipayungi beringin yang sama besarnya dengan si pohon sawo. Menurut cerita Pak Acang, leluhurnya membuat bangunan itu untuk ‘menampung’ makhluk halus yang harus ‘dipindahkan’ dari rumah mereka. Saya yang memang punya antena agak sensitif soal ‘beginian’ langsung bergidik, langkah kaki pun saya hentikan, tak usah dilanjutkan mengarah ke belakang lah.

Eh, by the way Pak Acang itu siapa?

Beliau adalah generasi ketiga pewaris tanah di samping kelenteng di kawasan Pasar Lama Cileungsi. Leluhurnya memiliki tanah sangat luas, yang sebagian akhirnya dihibahkan untuk dibangun kelenteng. Kakeknya, asli Tiongkok bagian selatan, yang bermigrasi ke Hindia Belanda.

Kok bisa nyangsang di Cileungsi? Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, Cileungsi bukan hanya sekarang saja menjadi kawasan penyangga Jakarta. Sejak dulu ia sudah berperan menjadi penyangga Batavia. Cerita detail mengapa akhirnya banyak orang Tionghoa tinggal di sini masih tanda tanya buat saya. Dugaan saya, karena banyaknya orang Belanda tinggal di daerah itu, komunitas Tionghoa menjadi pedagang yang memenuhi kebutuhan komunitas Belanda. Mirip dengan cerita munculnya komunitas Tionghoa di kawasan Pasar Baru Jakarta. Atau di Pondok Cina, Depok.

Komunitas Tionghoa ini besar kemungkinan berdagang di Pasar Lama yang sekarang menjadi SMAN 1 Cileungsi. Kawasan Pecinan sekarang bisa ditelusuri jejaknya selain dari keberadaan kelenteng juga dari banyaknya warga Peranakan Tionghoa yang tinggal di sana.

Saya perhatikan, yang duduk ngobrol di warung kopi rata-rata berwajah oriental. Mereka juga banyak yang merupakan pemeluk agama Buddha. Pak Acang ini salah satunya.

Rumah kediaman Pak Acang bisa jadi jejak penting sisa Pecinan di Cileungsi selain kelenteng itu sendiri. Di kanan kirinya sudah tak saya temukan lagi bangunan setua rumah beliau yang diperkirakan usianya sudah mencapai 150 tahunan.

Saya tak paham rumah ini bergaya arsitektur apa. Bentuknya sama sekali berbeda dari rumah-rumah di kawasan Pecinan yang sering saya lihat dengan bentuk atapnya yang khas. Sedangkan rumah ini lebih mirip bangunan joglo Jawa di Kotagede.

Dari depan bangunannya terlihat simetris. Demikian pula susunan ruang di dalamnya. Fasad depan memiliki dua buah jendela yang sama persis di sisi kanan dan kiri, di balik jendela adalah kamar dengan bentuk dan ukuran yang sama persis juga.

Memasuki rumah, kita akan langsung disambut altar yang berada di tengah ruangan semacam foyer. Di kanan kirinya ada dua buah pintu. Di baliknya terdapat ruang keluarga, ruang makan di sisi kanan dan dapur di sisi kiri yang lagi-lagi berpola simetris.

Pak Acang mempersilakan saya masuk sampai ke dalam. Semakin ke bagian belakang rumah, semakin terasa suasana tuanya meski sebagian bagian rumah sudah direnovasi. Bangunan ini berdinding kayu untuk penyekat ruang di bagian dalamnya. Sedangkan dinding luar berbahan batu bata. Semua masih asli, kecuali rangka atap beranda yang terbuat dari bambu, gentengnya juga masih asli.

Lantainya hanya dari semen yang akhirnya nampak mengkilap saking tua dan seringnya ‘menerima’ gesekan. Awalnya saya pikir itu tegel karena ada garis-garisnya. Rupanya, garis-garis itu dibuat/dicetak dengan tambang ijuk, kalau kita lihat lebih dekat akan nampak bentuknya. Termasuk garis-garis yang tak lurus, yang mungkin saat proses pembuatannya si tukang ngantuk atau kurang minum air putih 😄.

Di beranda ini kami ngobrol panjang. Sungguh sebuah pengalaman menyenangkan, saya yang tak mereka dikenal disambut hangat, dipersilakan masuk, disuguhi minuman dan cerita tentang Cileungsi jaman dulu, bahkan cerita-cerita keluarga.

Saya jadi tahu, Cileungsi baru dialiri listrik pada tahun 1985. Dulu tak ada SMA Negeri di sana, dan anak-anak harus melanjutkan sekolah ke Cibinong kalau berminat melanjutkan pendidikan menengah tingkat atas. Dulu toleransi berjalan begitu baik, etnis Tionghoa bisa hidup berdampingan dengan harmonis, Imlek dan Lebaran jadi perayaan bersama di kampung, sekarang mulai pudar, bahkan untuk perayaan-perayaan semacam Cap Go Meh saja harus dikawal aparat keamanan karena penolakan sebagian warga.

Saya menikmati sejenak menyusuri lorong waktu, meninggalkan suasana kawasan Cibubur yang semakin terasa modern. Komplek perumahan besar, mall, jalan raya yang super sibuk dilalui mobil-mobil keluaran terbaru. Semua berubah hanya dengan menyusuri sepotong jalan kecil ini dan menemukan suasana berbeda di ujungnya.

Saya juga jadi tahu, Cileungsi dulu punya struktur kota yang mirip dengan kota-kota lain di Jawa yang berkonsep catur gatra. Punya alun-alun, yang dikelilingi masjid, pasar, bangunan pemerintahan lengkap dengan penjara. Lain kali saya cerita lagi soal jejak kota lama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *