Categories
Jelajah Sejarah

Ereveld Kembang Kuning, Surabaya

Tanpa diduga, bisa berkunjung juga ke Ereveld Kembang Kuning. Ereveld ketiga yang sudah saya kunjungi. Sama sekali ngga direncanakan, ya karena ke Surabaya kemarin memang bukan untuk jalan-jalan sih. Mumpung kemarin itu pas ada urusan di seputar Kembang Kuning, sediakan waktu sedikit lah, mampir.

Mirip dengan Ereveld Menteng Pulo yang untuk menuju ke dalamnya harus melintasi kompleks makam (TPU Menteng Pulo). Untuk menuju Ereveld Kembang Kuning ini saya juga harus melewati kompleks makam yaitu Makam Kristen Kembang Kuning.

Satu kemiripan lagi antara Ereveld Kembang Kuning dan Ereveld Menteng Pulo, karena sama-sama terletak di tengah kota, saat berada di dalamnya, kita bisa melihat gedung-gedung tinggi melatarbelakangi pemandangan.

Bedanya, kalau di dua ereveld sebelumnya kendaraan diparkir di halaman, kemarin mobil saya dipersilakan masuk. Mungkin karena di luar pagar, tak ada lahan parkir yang memadai karena mepet sekali dengan makam Kembang Kuning. Atau karena jarak dari gerbang ke pendopo penerimaan tamu cukup jauh? 😁😁

Area parkir

By the way, bagi yang belum tahu, ereveld adalah taman (makam) kehormatan untuk korban Perang Dunia Kedua di Indonesia. Ada tujuh ereveld di Indonesia, Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol di Jakarta, Ereveld Pandu di Kota Bandung, Ereveld Leuwigajah di Cimahi, Ereveld Candi dan Ereveld Kalibanteng di Semarang, dan Ereveld Kembang Kuning di Surabaya. Seluruhnya berada dalam pengelolaan Oorlogsgravenstichting Indonesia

Ereveld Kembang Kuning (dan seluruh ereveld lainnya) ini, meski pagar tingginya selalu tertutup rapat bisa dikunjungi kok. Setiap hari jam 7.00 – 17.00. Tinggal datang (tanpa perlu mengurus ijin dll dsb), pencet bel, petugas akan menyambut dan memandu kita selama kunjungan.

Sesuai dengan namanya, taman kehormatan, berada di dalamnya benar-benar membuat kita merasa sedang berada di taman, bukan makam, saking indah dan nyamannya.

Seperti ereveld lainnya, yang dimakamkan di sini bukan hanya korban perang berkebangsaan Belanda, banyak juga orang Indonesia, dan meski berada di seputar makam Kristen, tak hanya pemeluk agama Kristen yang dimakamkan di sini, melainkan beragam agama. Dari Kristen, Islam, Budhha, Yahudi, hingga Konghucu, yang masing-masing ditandai dengan bentuk nisan yang berbeda. Bukan pula hanya korban usia dewasa, nisan berukuran kecil menunjukkan bahwa yang disemayamkan adalah anak-anak. Sedih ya?

Bukan hanya mereka yang gugur di area Surabaya dan sekitarnya pula yang dimakamkan di sini. Banyak diantaranya yang dipindahkan dari Tarakan, Kupang, Ambon, Balikpapan, Makassar dan New Guinea, dalam rangka pengurangan jumlah ereveld dari 22 menjadi 7 saja.

Salah satu monumen berkaitan dengan korban perang di New Guinea

Nah, yang menjadi ciri khas Ereveld Kembang Kuning adalah, Monumen Karel Doorman.

Penunjuk arah menuju monumen Karel Doorman

Siapakah Karel Doorman itu?

Pasca jatuhnya Singapura dan Manila, Surabaya menjadi pangkalan Angkatan Laut besar terakhir di kawasan Asia Tenggara. Dari pelabuhan laut ini lah, pada 26 Februari 1942, kapal-kapal perang Belanda, Inggris, Amerika dan Australia, di bawah kepemimpinan Laksamana Muda K.W.F.M Karel Doorman, berangkat untuk menggagalkan pendaratan Jepang di Jawa Timur. Dalam pertempuran melawan armada Jepang ini, tiga kapal perang Belanda tenggelam.

Monumen Karel Doorman

Monumen di atas adalah monumen yang menyedihkan. Di bagian depan, dibuatkan replika peti bertuliskan De Onbekende Zeeman, alias pelaut yang tidak dikenal.

Sebenarnya bukan sama sekali tidak dikenal, 915 nama prajurit korban pertempuran Laut Jawa itu diabadikan dalam sebuah plakat, banyak di antaranya adalah nama-nama Indonesia lho. Tak dikenal di sini maksudnya karena jasad para prajurit itu tenggelam di dasar laut, tak ditemukan, hingga saat ini.

Plakat nama korban pertempuran Laut Jawa

Eh tapi mereka itu kan bukan pahlawan bangsa? Mereka ada di pihak ‘musuh’, ngapain berkunjung ke sana?

Hehehe… Saya belum memahami betul tentang bagaimana dinamika bergabungnya orang Indonesia dalam angkatan perang Hindia Belanda. Yang jelas saat ini tak ada lagi musuh.

Ereveld ini menjadi semacam mata rantai yang menautkan untaian masa lalu dan masa kini. Yang membuat kita mengingat dan mengambil pelajaran, bahwa perang tak meninggalkan apa-apa selain kerusakan besar serta kesedihan mendalam bagi keluarga korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *