Categories
Jelajah Sejarah

Cerita dari Kembang Kuning Surabaya

Bisa jadi benar kata seorang kawan dulu. Penduduk asli suatu kota sering kali justru cenderung tak mengenal kotanya dengan baik. Tiap hari pergi kesana kemari tanpa nyasar, tahu landmark-nya kota, tempat-tempat yang lagi hits, membuat orang merasa cukup mengenal kotanya.

Demikian juga saya. Saat dalam perjalanan menuju Ereveld Kembang Kuning kemarin saya dibuat takjub. Sudah tahu (dari peta) sih, saya akan melewati komplek Makam Kristen Kembang Kuning. Tapi sungguh tak menyangka akan menyaksikan pemandangan seperti ini. Deretan makam berjajar rapi terbelah jalan yang tak terlalu besar di kawasan yang cukup berbukit.

For your info, ini pertama kalinya saya masuk komplek makam Kembang Kuning. Padahal saya tinggal di Surabaya selama hampir seperempat abad. Dan jaraknya hanya tiga kilometer saja dari rumah masa kecil saya di Jalan Petemon Timur, masih satu kecamatan! 😁

Begitu masuk gerbang, sesaat saya merasa antara berada di komplek bong (makam Tionghoa) di lahan berbukit yang pernah saya jumpai di perjalanan menuju Magelang dan Museum Prasasti Jakarta. Tentu saja ini tak mengherankan, karena meski awalnya digunakan untuk makam orang-orang Belanda, saat ini banyak etnis Tionghoa yang dimakamkan di sini.

Kawasan yang sering disebut Cemoro Sewu oleh masyarakat Surabaya ini merupakan komplek pemakaman yang cukup besar, luasnya mencapai 15 ha.

Bisa dilihat dalam tangkapan layar citra satelit di googlemap, warna hijau menunjukkan area Ereveld Kembang Kuning, yang memang dipenuhi hamparan rumput hijau.

Sementara hamparan warna kecoklatan itu bukan tanah gersang, deretan bangunan makam dan nisan yang sedemikian rapat membentuk warna demikian dilihat dari atas.

Kalau kita ikuti jalan masuk, di tengah komplek makam akan kita jumpai bundaran kecil.

Awalnya, saya pikir itu hanya bundaran penanda perempatan. Belok kiri akan menuju Ereveld Kembang Kuning, ke kanan ke bagian belakang Krematorium Abi Praya, lurus menuju kawasan pemukiman, Pakis Sidokumpul.

Ternyata, bundaran berpatung ini bukan sekedar penanda. Ini adalah jantungnya Makam Kembang Kuning, tempat dikebumikannya Gerrit Jan Dijkerman, Walikota Surabaya yang kedua.

G.J. Dickerman bersama arsitek kenamaan G.C. Citroen, bersama-sama membangun infrastruktur Surabaya yang jejaknya masih bisa kita lihat hingga sekarang. Yang paling penting tentu saja Balai Kota Surabaya, lalu RS Darmo, viaduct Jalan Pahlawan. Mereka berdua bersama-sama pula dikebumikan di Kembang Kuning.

Eh jadi Kembang Kuning udah tua ya? Lumayan, meski bukan yang tertua di Surabaya. Dalam sebuah jurnal saya membaca bahwa pernah ada empat pemakaman Belanda di Surabaya.

Berdasarkan peta tahun 1787, pemakaman pertama ada di wilayah Jembatan Merah. Wajar sekali, karena wilayah ini adalah wilayah Oud Soerabaia. Makam seperti tradisi masyarakat Belanda, berada di halaman gereja, lazim disebut kerkhof.

Peta tahun 1825 menunjukkan makam Belanda di Jembatan Merah dipindahkan ke wilayah Krembangan, yang pada tahun 1866 akhirnya lenyap juga dari peta. Jejak bekas makamnya pada masa sekarang sudah tidak ditemukan, kecuali toponim jalan Krembangan Makam.

Di peta tahun 1866, letak
permakaman Belanda hanya berada di Peneleh. Baru di peta tahun 1930, selain permakaman Belanda yang ada di Peneleh, terdapat pemakaman lain di Kembang Kuning. Berbeda dengan pemakaman di Peneleh yang sudah tidak digunakan lagi, makam Kembang Kuning masih aktif sampai sekarang.

Cerita tentang Kembang Kuning rupanya tak hanya tentang ereveld dan makam Kristen. Rasanya hampir semua orang Surabaya tahu, apa yang kita lihat di siang hari, akan berbeda dengan malam. Di siang hari, yang nampak kalau bukan keluarga yang sedang mengunjungi makam kerabatnya, para penjaga dan tukang bersih-bersih makam, bisa jadi puluhan kambing yang bahkan ‘bertahta’ di atas bangunan makam.

Di malam hari, dulu semasa masih tinggal di Surabaya, saya kerap membaca berita kawasan ini kerap jadi area transaksi seks, tampaknya masih berlangsung hingga sekarang. Berita serupa yang saya baca tadi terbitan November 2019. Merasakan perasaan miris yang sama dengan saya?

Selain cerita tentang makam dan penyakit sosial tadi, Kembang Kuning juga masih menyimpan cerita lain. Tapi lain kali saja saya tulis lagi. Biar punya alasan jalan-jalan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *