Categories
Masyarakat & Budaya

Tugu Kujang dan Lawang Salapan, Landmark Kota Bogor

“Eh, kok cantik amaattt”, ujar saya saat melihat bangunan ini bernuansa merah putih. Sambil berusaha mengingat-ingat, tahun-tahun lalu dihias begini juga ngga sih?

Meski berdomisili di wilayah Bekasi, saya lebih sering ke tengah kota Bogor daripada ke Bekasi. Tapi kok semacam baru sekali ini melihat pemandangan macam begini 😁😁.

Yang pernah berkunjung ke Bogor, pasti pernah lihat dua bangunan ini. Tapi sudah tahu namanya belum?

Buat yang belum tahu, yang berada di sisi depan, bangunan tugu setinggi 25 meter ini bernama Tugu Kujang, landmark-nya kota Bogor sejak 1982. Dibangun pada masa pemerintahan Walikota Bogor Ahmad Sobana, karena pada saat itu, Bogor belum memiliki tugu/monumen spesifik yang menjadi icon kota.

Dinamai Tugu Kujang karena di puncaknya berdiri tegak sebuah kujang, yang menghadap ke arah Istana Bogor. Kujang dipilih menjadi simbol karena dianggap sudah sangat erat sebagai bagian kehidupan masyarakat Sunda yang ibukotanya terletak di Pakuan Pajajaran, yaitu wilayah Bogor sekarang.

Di masa awal, kujang menjadi peralatan sehari-hari masyarakat untuk bercocok tanam. Kemudian setelah digunakan oleh kerajaan, kujang juga memiliki nilai pusaka. Semacam keris di budaya Jawa.

Di sisi belakang, bangunan berpilar sepuluh itu namanya Tepas Salapan Lawang Dasakreta.

Tepas artinya beranda, salapan artinya sembilan, lawang artinya pintu, dasakreta adalah konsep kuno dari Kerajaan Pakuan Pajajaran yang bernilai luhur, tentang sepuluh bagian tubuh manusia yang harus dijaga agar tak berperilaku buruk.

Bentuknya mengadaptasi pilar di Istana Bogor, diapit dua rotunda bangunan kecil yang mengadaptasi monumen Lady Raffless di Kebun Raya Bogor, dan tiap pilarnya ditopang bunga teratai, yang banyak tumbuh di Kebun Raya Bogor.

Berdirinya Lawang Salapan ini merupakan dukungan pemerintah pusat melalui program kerja Kementerian PUPR terhadap keberadaan Kota Bogor sebagai sebuah kota pusaka. Tujuannya untuk mengembangkan potensi kota-kota pusaka (heritage cities) di Indonesia.

Dan berdirinya Lawang Salapan ini bisa jadi sedikit melegakan sebagian warga Bogor yang sempat dilanda keresahan setelah Tugu Kujang sempat kehilangan wibawa setelah dbangunnya sebuah hotel di seberangnya, dengan ukuran yang jauh tinggi.

Sebuah tulisan berbahasa Sunda Kuno terpampang di bagian atas pilar.

Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga’.

“Segala hal di masa kini adalah pusaka masa silam dan ikhtiar hari ini adalah untuk masa depan.”

Waaaaa, jadi selain sebagai beranda penyambut tamu-tamu yang berkunjung ke Bogor, juga sebagai pengingat bagi kita semua, untuk memuliakan sejarah sebagai landasan belajar dalam membangun hari ini demi masa depan yang lebih baik.

Selamat berkunjung ke Bogor!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *