Categories
Jelajah Sejarah

Gelora Bung Karno Jakarta

Agustus 2020.

Akun Facebook dan Instagram saya kompak memunculkan kenangan tentang kemeriahan suasana Asian Games 2018.

Masa di mana kebanggaan saya sebagai orang Indonesia menjadi berlipat kali lebih besar dari biasanya.

Dua tahun berlalu, masih melekat kuat memori yang justru membuat makin rindu. Dan berkunjung ke Gelora Bung Karno atau GBK menjadi salah satu cara untuk membunuh rindu. Senyam senyum sendiri, seakan kembali merasakan atmosfer serupa.

Sambil mengenang suasana Asian Games 2018, sekalian yuk, kita kenalan (lagi) sama si GBK ini. Berikut fun fact yang seru untuk diketahui:

Pertama. Kalau tidak pernah ada sanggahan dari menterinya, bisa jadi GBK akan bernama Pusat Olahraga Bung Karno. Sanggahan ini muncul karena istilah “pusat”, dianggap tidak sesuai dengan jiwa/spirit olahraga yang dinamis. Sang menteri mengusulkan sebutan Gelanggang Olahraga, yang disingkat Gelora.

Menariknya, yang mengusulkan nama tersebut bukanlah menteri yang terkait dengan kepemudaan atau olahraga, melainkan Menteri Agama, KH. Saifuddin Zuhri, ayahanda Menteri Agama era Presiden Jokowi 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin.

Kedua. Nama Gelora Bung Karno pernah diubah di masa pemerintahan Soeharto, menjadi Gelora Senayan. Banyak pihak menduga, ada upaya de-Soekarnoisasi pada langkah ini. Baru pada era Gus Dur, nama Gelora Bung Karno dikembalikan.

Ketiga. GBK sempat akan dibangun di area Bendungan Hilir, namun ditolak Fredrich Silaban, arsitek yang terlibat membidani lahirnya GBK, dengan pertimbangan kawasan tersebut rawan banjir.

Keempat. Penggusuran besar-besaran pertama di Jakarta terjadi di masa pembangunan GBK ini. Total ada empat kampung. Petunduan, lokasi di mana stadion utama GBK berada. Senayan, dulunya bernama Wangsanayan. Kebon Kalapa dan Bendungan Udik. Warga yang digusur dipindahkan ke Tebet, tepatnya di area Tebet Timur Dalam. Yang masa itu masih berupa area perkebunan buah-buahan dengan kondisi tanah becek di musim hujan, hingga warga perlu sepatu boot untuk bisa melaluinya.

Namun demikian, menurut artikel yang saya baca, warga menerima ganti rugi yang cukup baik. Dan langsung bisa menempati hunian yang telah disiapkan.

Kelima. GBK saat diresmikan menjadi stadion terbesar di Asia, dengan fitur spesial konstruksi atap baja temu gelang, yang membentuk satu lingkaran penuh. Desain ini yang membuat biaya pembangunan GBK menjadi cukup besar, yang tentu saja mendapatkan kritikan tajam dari sebagian masyarakat karena dianggap menghambur-hamburkan uang hasil utang pinjaman Uni Soviet.

Jawaban Bung Karno terhadap kritik itu sungguh menarik,

“Memberantas kelaparan memang penting, akan tetapi memberi makan jiwa yang telah diinjak-injak dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan mereka, ini pun penting.”

Ya bener juga 😁😁. Andai Bung Karno ngga ngotot waktu itu, meski sekarang tak lagi jadi yang terbesar, kita belum tentu punya stadion semegah dan semembanggakan ini.

Memasuki usia ke-58 tahun ini, area GBK masih dan semakin cantik. Ringroad seputar stadion utama masih jadi favorit warga Jakarta untuk berolahraga.

Warga bisa jogging, bersepeda, bersepatu roda, sekedar berjalan kaki sambil dorong stroller bayi juga pemandangan yang banyak dijumpai. Bahkan yang sedang tak berminat olahraga pun bisa bersantai di cafe yang nyaman.

Fasilitas pendukung seperti toilet, tempat ibadah, minimarket, locker, shower room juga tersedia. Info lebih lanjut mengenai locker dan shower room, bisa dibaca di sini.

Waktu favorit untuk berkunjung ke GBK tentu saja di pagi atau sore hari saat akhir pekan. Di masa pandemi di mana Jakarta masih memberlakukan pembatasan sosial, pengunjung yang hendak masuk area GBK pun dibatasi jumlahnya hingga menimbulkan antrian panjang.

Jadi, yang mau berkunjung ke GBK, persiapkan pengaturan waktu yang baik, dan jangan lupa untuk tetap patuhi protokol kesehatan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *