Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya Sejarah

Stasiun Cirebon Kejaksan

Melanjutkan cerita tentang sehari di Cirebon lalu, saya akan memulai cerita perjalanan ini dari pintu masuk kota Cirebon. Dan karena perjalanan saya hari itu menggunakan kereta api, let’s say hi to Stasiun Cirebon Kejaksan.

Cirebon memiliki dua buah stasiun kereta api. Stasiun Prujakan melayani kereta ekonomi. Sedangkan Stasiun Cirebon melayani kereta eksekutif, bisnis dan ekonomi premium, salah satunya adalah Kereta Tawang Jaya Premium relasi Jakarta – Semarang yang saya tumpangi kemarin.

Gerbong Kereta Tawang Jaya Premium

Bagi sebagian wisatawan, stasiun mungkin hanya tempat transit moda transportasi. Begitu sampai tujuan, langsung geret koper menuju hotel atau lanjut ke destinasi wisata di kota tujuan. Tapi tidak bagi saya, stasiun itu sendiri sudah destinasi wisata.

Begitu turun kereta, kesan pertama yang saya rasakan, Stasiun Cirebon ini meski tak terlalu besar tapi nyaman, rapi, teratur dan bersih. Ada terowongan yang memungkinkan penumpang berpindah peron tanpa harus menyeberangi rel.

Di lobby stasiun, saya terpesona dengan plafon ruangan yang tinggi dengan deretan jendela kaca patri berwarna-warni, dilengkapi sejumlah roster atau lubang ventilasi. Selain untuk keindahan, kaca patri juga berfungsi sebagai penerangan alami ketika cahaya matahari masuk ke dalam. Sedangkan pada malam hari pencahayaan bersumber dari lampu gantung antik yang terletak di tengah ruangan. 

Di dalam lobby stasiun yang indah, saya membayangkan, siapa saja yang memenuhi ruangan ini dan seperti apa ya kira-kira suasana di masa awal stasiun berusia 108 tahun ini.

Stasiun Cirebon diresmikan pada 3 Juni 1912. Sesaat setelah diresmikannya perpanjangan jalur kereta dari Cikampek ke arah timur oleh Staatssporwegen, maskapai kereta api milik negara, masa itu.

Kalau dibaca dari sejarahnya, Stasiun Cirebon merupakan stasiun yang dibangun seiring dengan menjamurnya industri gula di sepanjang jalur utara Jawa, dari Semarang hingga Cirebon. Jalur Semarang Cirebon sendiri dibangun oleh maskapai kereta api swasta Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij.

Mungkin saja, para penumpang masa itu didominasi para pengusaha gula, atau orang-orang yang pekerjaannya berkaitan dengan manisnya gula ya?

Keluar dari lobby, di selasar luar stasiun kembali saya terpesona. Tak hanya rapi di bagian dalam. Area luarnya pun tertata rapi dan cantik.

Payung-payung hias digantung, menciptakan perpaduan harmonis dekorasi masa kini dan anggunnya bangunan bergaya art deco, yang menjadi tren di masa lalu.

Papan-papan penunjuk arah juga sangat banyak membantu mengarahkan para penumpang. Saya acungkan dua jempol untuk Kepala Stasiun Cirebon dan jajarannya deh.

Stasiun Cirebon Kejaksan

Di luar, sambil menanti kendaraan yang akan mengantarkan saya dan kawan-kawan jalan-jalan di Cirebon, saya menyempatkan diri memotret tampak depan bangunan stasiun. Kali ini saya agak sedikit kesal, cantiknya bangunan stasiun harus terhalang kabel-kabel yang menjuntai tak beraturan.

Kalau kita lihat, di sisi kiri dan kanan, tampak tulisan Cirebon. Namun di masa kolonial, di sisi kiri bertuliskan kaartjes, loket yang melayani penumpang dan di sisi kanan bertuliskan bagage, loket yang melayani barang-barang.

diambil dari dianrentcarcirebon(dot)com

Stasiun Cirebon masa kini tak jauh beda nampaknya. Bagian depan masih jadi parkir kendaraan. Meski jumlahnya jauh lebih sedikit di masa lalu. Semoga bangunan stasiun yang juga sudah menjadi cagar budaya ini tetap lestari. Salam dari Cirebon!

Stasiun Cirebon masa kini

PS: ini late post yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *