Categories
Hobi Jelajah Kuliner

Rumah Kopi Ranin, Bogor

Namanya sudah saya kenal sejak 2018 kalau ngga salah. Waktu saya browsing cari-cari tempat ngopi di Bogor. Dan kalau ngga salah ingat, lokasinya dulu masih di tengah kota Bogor.

Beberapa hari lalu, fotonya muncul di explore tab akun Instagram saya. Kok nampak asik ya tempatnya. Cek cek, lokasinya ada di Dramaga, wilayah yang cukup akrab karena masuk area kerja tim riset saya, selain itu jaraknya hanya empat kiloan saja dari rumah kakak ipar yang sudah lama tak kami kunjungi. Sip lah, sekali jalan, bisa dua urusan sekaligus.

Kembali ke awal perkenalan saya dengan Rumah Kopi Ranin, (selanjutnya akan saya sebut Ranin saja ya). Meski pada akhirnya saat itu saya belum tertarik berkunjung, Ranin sempat menarik perhatian saya karena konsepnya yang tidak hanya cafe /kedai kopi, tapi juga memperkenalkan kopi nusantara specialty grade kepada pelanggannya.

Hal menarik kedua adalah, Ranin bukan sekedar jualan kopi, tapi juga memposisikan diri sebagai mitra para petani kopi. Dalam blognya, Ranin menyebutkan salah satu strategi bisnisnya adalah membangun mutual network dengan petani yang tanpa mereka tak mungkin ada biji kopi berkualitas baik untuk diproses dan disajikan. Konsep kemitraan yang saling menguatkan ini mirip dan sama menariknya dengan Kopi Sarongge di Cianjur.

Rabu siang, dari Ujung Aspal, saya dan pak suami berangkat setelah dzuhur. Jarak yang tertera di peta 46 kilometer. Posisinya ada di Jalan Alternatif IPB Desa Cikarawang, alias jalan tembus/jalur dalam, dari dan menuju kampus IPB Dramaga via Cifor, tanpa harus melewati Raya Dramaga yang macetnya kadang suka ngga kira-kira. Ngga jauh juga dari Danau Situgede.

Akses menuju lokasi merupakan jalan aspal yang bisa dilalui kendaraan roda dua dan empat dengan nyaman. Di beberapa titik, ada sedikit penyempitan jalan hanya meminta pengendara roda empat berjalan bergantian, tidak terlalu mengganggu. Dan senangnya, dalam perjalanan, kita akan bisa melihat deretan pemandangan hijau, dari kebun jagung, talas, sedikit sawah, cukup menyegarkan mata.

Mudah-mudahan akan mampu bertahan lama, mengingat saat ini sudah berdiri bangunan aparthouse yang cukup besar menggantikan lahan hijau tadi.

Aparthouse yang kebanyakan dihuni mahasiswa IPB

Posisi di googlemaps cukup akurat, namun mendekati titik tujuan, kami nyaris kebablasan karena tak melihat bangunan apa-apa. Dan ternyata, kedai ini semacam berada di lembah yang diapit tebing. Jalan masuknya cukup menurun, tapi tidak sulit, area parkirnya cukup untuk kira-kira 6-7 mobil, kalau untuk motor ngga masalah. Saya lupa nanya kemarin, gimana kalau pengunjung sedang ramai, apakah tersedia alternatif tempat parkir lain. Kalau ada info, nanti saya update. Gambarannya bisa dilihat di sini.

Pintu masuk Ranin

Selamat datang di Ranin, kita masih harus menuruni tangga batu yang asli baru nyampai situ aja sudah bikin saya betah. By the way, tangga ini perlu dipertimbangkan untuk yang akan mengajak orang tua atau yang punya masalah dengan lutut. Meski pasti akan hepi-hepi aja karena akan seger sama ijo-ijoan di kanan kiri.

Dan jreng-jreng… Empat puluh enam kilometer tadi ngga berasa begitu mata disuguhi pemandangan ini.

Karena masih terik, tak ada pengunjung yang duduk di area taman. Kami semua di rumah panggung utama. Sebuah rumah kayu, yang mengharuskan pengunjung melepas alas kaki, dan saya santai-santai aja, karena bersih dan nyaman.

Ada banyak meja tersedia, saya memilih duduk di meja persis di depan para barista bekerja. Dan kedai ini bukan cuma asal memilih slogan. Saya sangat terkesan dengan hangatnya para barista yang mengajak berkenalan. Lalu menyebut nama dalam percakapan selanjutnya. Dan tidak hanya itu, kami diajak ngobrol soal kopi apa yang kami sukai, umtuk kemudian menawarkan kopi yang tersedia. Selayaknya seorang orang yang ingin menjamu sahabatnya dengan pilihan terbaik.

Pilihan pak suami jatuh ke kopi hitam robusta Kepahiang, saya seperti biasa cappucino saja, pakai house blend coffee pasti. Ditambah sepiring pisang uli goreng.

Dan tak hanya itu, kopi single origin pak suami dilengkapi dengan kartu informasi tentang cita rasa kopinya. Sebuah artikel Koran Tempo menyebutkan hal ini sebagai proses edukasi cita rasa kopi Nusantara. Supaya pelanggan tak hanya bisa menjawab “enak, mantap” 😁

Rupanya pemilik Ranin ini serius ingin memperkenalkan cita rasa kopi Nusantara dengan membuat Peta Citarasa dan Aroma Kopi Indonesia.

Indera pengecap saya tak secanggih itu juga bekerjanya, tapi tetap menarik juga untuk belajar mengenali rasa/aroma khas tertentu dalam satu jenis kopi. Kopi Kepahiang ini misalnya, ada rasa tembakaunya. Lalu, kemarin kami sempat diberi segelas tester kopi Nating Toraja yang langsung seperti berasa gula aren dan pandan saat diseruput.

Untuk pengunjung yang berminat membeli kopi untuk dibawa pulang, ada Galeri Rasa. Sayangnya stok kopi di rumah masih cukup banyak. Di kunjungan berikutnya saya akan coba.

Kurang lebih 1,5 jam kami menikmati kopi dan suasana di sana. Bener-bener betah, sebagai pecinta robusta kami seneng banget karena ngga semua kedai menyediakan. Suasana dan fasilitasnya nyaman, baristanya super bersahabat. Pasti mau ke sana lagi!

Selamat berkunjung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *