Categories
Jelajah Kuliner Masyarakat & Budaya

Nasi Uduk Betawi Rawa Belong

Siapa yang ngga kenal nasi uduk?

Rasanya ngga ada orang yang tinggal di Jakarta yang ngga kenal nasi uduk. Makanan khas Betawi yang sejatinya merupakan hasil persilangan dua budaya, yaitu Melayu dan Jawa.

Pengaruh Melayu datang saat orang-orang Melayu di Malaka masuk ke Batavia saat Malaka jatuh ke tangan Portugis. Pengaruh Jawa masuk saat penyerangan Batavia oleh Kesultanan Mataram. Mereka yang hijrah ke Batavia ini tak meninggalkan tradisi makanan mereka, nasi lemak dan nasi gurih, hingga akhirnya membentuk budaya kuliner baru, Nasi Uduk Betawi.

Kali ini saya mau cerita tentang Nasi Uduk Rawa Belong. Kawasan ini bisa jadi lebih terkenal sebagai pusat perdagangan bunga segar terbesar di Jakarta. Tapi, sebagai salah satu kantong pemukiman suku Betawi yang masih cukup besar, maka tak heran kalau makanan khas Betawi relatif mudah dijumpai di sini.

Di ujung barat Jalan Palmerah Barat, menjelang persimpangan pertemuan dengan Jalan Rawa Belong dan Raya Kebayoran Lama, dapat kita jumpai deretan pedagang kaki lima yang berjualan nasi uduk.

Salah satu di antaranya adalah Nasi Uduk Bang Sahal, langganan saya.

Nasi Uduk Bang Sahal

Lokasi warungnya tak jauh dari Nasi Uduk Bang Udin yang sudah lebih dulu kondang seantero Jakarta Raya. Namun lidah saya lebih cocok dengan masakan Bang Sahal yang pelanggannya juga banyak yang berasal dari luar wilayah Rawa Belong.

Menu andalannya ini, nasi uduk semur jengkol.

Yang menurut mereka para penggemar jengkol, rasanya benar-benar lezat. Bumbu semurnya meresap ke dalam jengkol yang pulen dan bisa dinikmati tanpa terganggu dengan baunya. Tapi jangan minta pendapat saya ya, jujur saja saya belum tertarik mencobanya 😁.

Tak usah khawatir buat yang ngga suka jengkol. Beragam lauk lain juga tersedia untuk mendampingi lauk standar tempe orek dan bihun goreng.

Antara lain ayam goreng serundeng, empal daging, semur telur dan tahu, telur balado, babat dan paru goreng, hingga tempe tepung dan bakwan jagung. Semuanya enak, bahkan makan nasi uduk tanpa lauk, bertabur bawang goreng saja, juga sudah enak! Rasa dan wangi rempah berpadu dengan gurih santan, tanpa menimbulkan rasa enek.

Tersedia juga menu ketupat sayur Betawi. Ketupatnya buatan sendiri, sama sekali tidak keras. Sayurnya berisi potongan buncis dan kacang panjang berkuah santan pekat berwarna kemerahan. Taburan kerupuk dan bawang goreng standarnya, biasanya orang menambahkan lauk telur dan sedikit kuah semur.

Menu lain yang pernah saya coba, Soto Betawi Rawa Belong. Sedikit berbeda dengan soto betawi lain yang pernah saya cicipi, sotonya juga berkuah kemerahan. Isiannya bisa pilih daging ayam, sapi atau jerohan. Dilengkapi dengan emping melinjo dan taburan daun bawang.

Soto Betawi Rawa Belong

Jadi nasi uduk Betawi tuh kaya gini?

Ngga semuanya begini sih. Nasi Uduk di Betawi pada mulanya muncul di daerah Kebon Kacang, yang bahkan hingga kini masih terkenal sebagai salah satu sentra kuliner nasi uduk di Jakarta. Di wilayah ini, nasi uduk umumnya disajikan dalam bentuk kepalan kecil berbungkus daun pisang. Disertai beragam lauk seperti ayam, tahu dan tempe, ati ampela, paru yang kesemuanya digoreng.

Kalau makan di Kebon Kacang, saya malah nyaris ngga pernah ketemu tempe orek, bihun goreng dan semur-semuran. Menarik ya, jadi pengen cari tahu lebih lanjut kan, jangan-jangan ada aliran nasi uduk yang lain lagi 😁.

Kalau kebetulan melintas di Palmerah Barat dan mau mampir, di google maps nampaknya ada kesalahan posisi dan sebagian foto-fotonya ngga sesuai. Posisi tepatnya bersebelahan dengan Nasi Uduk Bang Udin (yang juga muncul di peta). Nomor telepon yang bisa dihubungi 0821-2303-9481. (dicantumkan sudah seijin pemilik nomor) 😊

Buka sore hari, jam 17.00 – dini hari. Ada tempat makannya. Tapi makan di mobil atau take away akan lebih baik karena selama PSBB belum diijinkan makan di tempat. Jangan lupa tetap patuhi protokol kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *