Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya Sejarah

Cerita dari Ujung Menteng, Batas Timur Jakarta

Dalam rangka #mengenalkembaliindonesia, khususnya Jakarta, kemarin saya bikin quiz kecil-kecilan di IG story.

Tugu Batas Kota, Ujung Menteng Jakarta Timur

Follower saya keren euy, 62% menjawab dengan benar. Ini adalah salah satu batas kota (eh tepatnya batas provinsi ya 😁) Jakarta di sisi timur. Tepatnya di Jalan Sri Hamengkubuwono IX atau yang lebih dikenal dengan Raya Bekasi, Ujung Menteng, Cakung, Jakarta Timur.

Tugu Batas Kota Jakarta tampak di kejauhan dari gerbang kota Bekasi

Posisinya tak jauh dari gerbang komplek Harapan Indah, Bekasi. Kalau diteruskan ke arah barat menuju Jakarta, kita akan melintasi wilayah Cakung, tembus ke Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulogadung. Terus lagi, ke Cempaka Putih. Terus lagi, lihat di peta 😁.

Nah, hal pertama yang terlintas di pikiran saya, kenapa namanya Ujung Menteng ya? Mentengnya kan di tengah kota, ujungnya kok jauh bener di sini. Saat saya cek di peta, jaraknya sekitar 18 kilometer.

Lalu mulai deh, browsing cari-cari informasi soal sejarah atau asal usul nama Ujung Menteng ini. Dan ngga nemu! Informasi cukup valid yang saya temukan hanya menyebutkan nama Ujung Menteng d/h Oedjoeng Menteng, sudah digunakan dalam peta sekitar tahun 1800an.

Tapiiiii, ada yang menarik. Ada sebuah blog yang menceritakan tentang asal-usul Cakung dan sekitarnya berdasarkan kisah yang dituturkan secara turun temurun oleh warga.

Salah satunya menyebutkan, bahwa Ujung Menteng dulunya bernama Ujung Benteng yang pengucapan sehari-harinya terpelesetkan oleh warga. Ujung Benteng sendiri maksudnya adalah ujungnya benteng. Berarti ada bentengnya dong?

Memang ada!

Jalan Benteng, Rawa Terate Cakung

Kalau kamu cek di peta, akan ketemu nih Jalan Benteng, tempat sisa-sisa reruntuhan benteng yang dulu digunakan sebagai basis pertahanan sisi timur Batavia.

Dalam sebuah artikel terbitan merdeka.com disebutkan bahwa dulu Cakung adalah jalur utama keluar masuk Jakarta menuju Bekasi. Posisi ini menjadikan Belanda merasa perlu membangun basis pertahanan dan pemeriksaan di sini.

Ah yayayaa, meski data pendukungnya tidak banyak dan belum tentu valid, rasanya sudah mulai masuk akal buat saya. Semacam menemukan kepingan puzzle yang terserak.

Hari itu, kepinginnya saya sekalian mau cari di mana posisi tepat reruntuhan bentengnya. Menurut info di artikel di atas masih ada dan dihuni warga. Tapi karena tiba-tiba sakit kepala menyerang (halahh 🙈😄), rencana itu saya batalkan. Saya akhirnya memutuskan belok cari makan di sebuah supermarket asal UEA yang cukup terkenal di Cakung.

Lain kali saya kembali lagi, masih penasaran, nunggu proyek pembangunan tol Cakung Kelapa Gading beres dulu kali ya? Pas lewat kemarin, pas matahari lagi lucu-lucunya dan debu lagi semangat-semangatnya terbang kesana kemari.

Suasana pembangunan tol

Masih lama doongggg? 😆😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *