Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya

Marunda, Bukan Cuma Rumah Si Pitung

Kalau saya amati post di Instagram tentang Jakarta, sebagian besar isinya adalah foto-foto cantik di tengah kota. Atau di area-area yang sudah terkenal (baca: mainstream). Ngga salah sama sekali, downtown-nya Jakarta memang punya buuaaaaanyak spot cantik kok.

Cuma, jangan sampai lupa, Jakarta itu gede banget! Banyak sekali sisi Jakarta yang menyimpan spot menarik dan juga memainkan peran penting dalam pergerakan roda kehidupan di Jakarta.

Biar ngga lupa, satu kawasan yang akan saya jelajahi dalam perjalanan kali ini adalah salah satu sisi terluar Jakarta, Marunda.

Peta wilayah Marunda

Marunda adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Cilincing. Posisinya di ujung paling utara sekaligus paling timur Jakarta, berbatasan dengan Laut Jawa di sisi utara, Kabupaten Bekasi di timur, Kelurahan Rorotan di selatan dan Kelurahan Cilincing di sisi barat. Uniknya, kawasan Marunda ada juga yang masuk wilayah administratif Kabupaten Bekasi lho. Dan punya latar belakang sejarah yang menarik juga. Semoga kapan-kapan bisa main-main ke sana.

Yang paling dikenal oleh sebagian besar orang (termasuk saya 😁) di Marunda bisa jadi Rumah Si Pitung, beserta Masjid Al Alam, Pantai Marunda dan STIP Marunda yang berdekatan dalam satu area. Namun Marunda tak hanya itu. Ada apa lagi sana? Berikut di antaranya:

1. Kawasan Berikat Nusantara

Area KBN Marunda

Definisi kawasan berikat atau bonded zone dari salah satu website adalah tempat menimbun barang impor dan/atau barang yang berasal dari tempat lain dalam daerah pabean guna diolah atau digabungkan, yang hasilnya terutama untuk diekspor. Tapi jangan tanya lebih lanjut ya, saya ngga paham sama sekali 😄.

2. Muara Kanal Banjir Timur

BKT adalah nama beken dari Kanal Banjir Timur

Saya selalu penasaran, ke mana larinya aliran Kanal Banjir Timur ini. Kemarin niatnya mau sampai ujungnya banget, sayang kondisi lalu lintas mengarah ke sana sedang tak bersahabat. Saya akhirnya hanya sampai ke Weir 3 atau Pos Duga Air 3 Marunda.

Weir terakhir sebelum muara

Dalam kondisi cuaca bersahabat, kanal ini tampak tenang, berbanding terbalik dengan sebuah video di Instagram yang menunjukkan kondisi saat hujan deras dan debit air besar. Lumayan ngeri, mengingat tak ada pembatas yang cukup tinggi di bibir jalan.

3. Lokasi latihan dayung

Dan di seputar Weir 3 ini ternyata jadi salah satu lokasi latihan atlet cabang olahraga dayung. Sayang kemarin ngga ketemu, salah saya juga, datang pas di siang bolong! 😄

Lokasi pembersihan sampah sungai

Sungguh lega, tak nampah sampah di kanal, justru ada pengerukan lumpur untuk mencegah pendangkalan yang bisa memicu banjir Jakarta.

Sebagai wilayah yang memang kental sekali suasana industrinya, konsekuensi jalan-jalan ke kawasan ini adalah suasana panas, berdebu dan tak jarang macet oleh antrian panjang truk pengangkut kontainer.

Tantangan lainnya bisa jadi perkara transportasi publik. Jujur saja saya hanya pengguna transportasi publik kelas pemula, tanpa pengalaman berkelana ke daerah pinggiran dengan transportasi publik. Berdasarkan pengamatan saja, kok nampaknya cukup sulit ya ke sana tanpa kendaraan pribadi. Ngga nampak ada Transjakarta, hanya angkot, itu pun jarang.

Saat cek di Trafi, menuju Marunda harus berulang kali naik turun pindah moda. Dan waktu tempuhnya cukup lama, lebih dari dua jam! Pilihan kendaraan pribadi saya rasa akan lebih baik. Khusus untuk bikers, ekstra hati-hati ya. Jaket, masker tahan debu, sunglasses mutlak diperlukan.

Tapi jangan menyerah dengan tantangan, serunya #ceritatentangjakarta sungguh tak tergantikan! 😉😉

One reply on “Marunda, Bukan Cuma Rumah Si Pitung”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *