Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya Sejarah

Gedung Kesenian Jakarta, Dari Seni kembali ke Seni

Kalau kamu penikmat seni, pasti kenal deh sama gedung-gedung kesenian yang ada di Jakarta. Beberapa nama yang paling familiar menurut saya adalah Teater Kecil dan Besar, serta Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki. Ciputra Artpreneur mungkin, yang lebih kekinian. Tapi tentu saja belum lengkap kalau kamu belum pernah nonton pertunjukan di Gedung Kesenian Jakarta.

Kenapa?

Karena selain bisa nonton pertunjukan seni yang merupakan salah satu unsur budaya, kamu juga bisa menikmati gedung itu sendiri sebagai unsur kebudayaan juga.

Bangunan yang tahun depan akan genap berusia 200 tahun ini telah menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban di Indonesia.

Perlu lah kita (ya kalau kamu ngga mau, saya aja 😁) berterima kasih pada Herman William Daendels yang punya ide membangun sebuah gedung kesenian untuk melengkapi kawasan Weltevreden yang ia proyeksikan menjadi jantung Batavia setelah kota lama dalam benteng di utara semakin tak sehat lingkungannya.

Meski baru pada saat Sir Thomas Stamford Raffles berkuasa gedung kesenian ini bisa direalisasikan, pemikirannya itu cukup membuat saya termangu di bagian depan gedung.

“Gila, dua ratus tahun lalu, orang udah mikirin gedung kesenian di Jakarta! Bukan perkantoran dan perbelanjaan semata-mata”

Saat pertama kali dibangun tahun 1814, belum berbentuk seperti ini, menurut info yang saya baca, gedungnya lebih sederhana. Terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia, diberi nama Municipal Theatre.

Setelah Inggris hengkang, Mayor Schultze bersama firma Lie A Gie membangun ulang gedung ini di lokasi yang sama dengan konsep yang lebih mewah, kemudian diresmikan pada tanggal 7 Desember 1821 dengan nama Stadtsschouwburg.

Pasca pemerintahan kolonial tumbang, perjalanan baru gedung ini dimulai. Sempat jadi markas militer Jepang, pusat pergerakan kemerdekaan, kampus, hingga bioskop, akhirnya di tahun 1980an fungsi aslinya dikembalikan.

Kemewahan gedung ini akan semakin dapat dirasakan kalau kamu masuk, dan menikmati pertunjukan. Suasana yang tak akan ditemukan di gedung pertunjukkan lain di Jakarta.

Saya beberapa kali berkesempatan nonton pertunjukan seni. Musik, teater, tari kontemporer, balet, sampai ketoprak. Pokoknya kamu harus coba!

Tapi kan mahal beli tiketnya? Ah ngga selalu kok, beragam banget. Bahkan kedutaan-kedutaan negara sahabat sering juga bikin acara budaya mereka, dan seringnya malah gratis! Setelah pandemi berlalu, coba mulai pantengin info-info, saya juga mau lagi kok. Sampai ketemu di GKJ ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *