Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya

Kalimalang, Kini

Hampir dua dekade lalu, sekitar 2002-2004, saya pernah sedemikian akrab dengan Kalimalang, sebelum pindahan ke Jogja, saya tinggal di daerah Pekayon, Bekasi.

Jalan Inspeksi Kalimalang adalah salah satu akses untuk para komuter dari wilayah Kota/Kabupaten Bekasi pulang pergi menuju Jakarta tanpa lewat tol. Tiap pagi dan sore, jalan ini selalu padat. Dan akan menjadi lebih padat, saat menjelang arus mudik dan balik Lebaran.

Sekarang, sejak rumah geser ke wilayah Ujung Aspal, saya jadi sering lewat Kalimalang lagi. Dan suasananya sudah jauuuuhh berbeda. Pilar-pilar mangkrak sudah berubah jadi Tol Becakayu, jalannya lebih lebar, sungainya sendiri juga sudah lebih rapi, dan di kolong tol banyak dimanfaatkan warga sebagai lahan berkebun.

Kebun di tepi Kalimalang

Tertarik banget sama kegiatan mereka ini, akhirnya kemarin saya mampir, Kenalan dengan dengan salah seorang pemilik kebun. Dan yang paling membuat saya penasaran adalah ini:

Kol tumbuh di kota

Tahu kan ini tanaman apa? Yaaaaapp, ini kol alias kubis, yang biasanya hanya saya lihat di daerah-daerah yang cukup tinggi. Ternyata kol bisa tumbuh di kota, dan menurut petaninya, sudah pernah panen. Ini sedang menuju panen kedua, beliau mempersilakan saya mampir lagi kalau tiba waktunya.

Selain kol, beragam jenis sayur dan buah ditanam, di antaranya: sawi hijau, cabe, jagung, pepaya, kemangi, kangkung, singkong dan lain-lain.

Mendengar cerita bahwa kebun-kebun ini disiram dengan air sungai Kalimalang, saya ketawa sendiri, teringat cerita tentang Kalimalang.

Kalimalang = kali yang melintang. Karena tak seperti umumnya aliran sungai di Jakarta yg arahnya utara selatan menuju muara di Laut Jawa. Kalimalang ini mengalir dengan arah timur barat. Kok bisa begitu?

Karena Kalimalang adalah sungai buatan. Yang dibuat untuk tujuan irigasi di wilayah Bekasi dan suplai air minum di wilayah Jakarta. Seiring perubahan jaman, Kalimalang lebih berfungsi sebagai penyuplai bahan baku air bersih.

Dikutip dari kompas.id

Nama aslinya adalah Saluran Tarum Barat. Bendungan Curug yang merupakan hulu Kalimalang, membagi aliran Sungai Citarum menjadi dua saluran induk irigasi, yakni Tarum Barat dan Tarum Timur. Saya sudah pernah juga ke hulunya, sekalian mlipir wiskul ke Pepes Walahar.

Kalau Tarum Barat mengalir ke arah barat sepanjang 68,67 kilometer dari Klari hingga Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Maka Tarum Timur mengalir ke timur sepanjang 67,37 kilometer.

Dulu sempat memainkan fungsi irigasi, sekarang kembali lagi, meski dalam skala yang lebih kecil. Eh tapi bukan tidak mungkin ya, kalau urban farming ini diseriusi, bisa jadi Kalimalang akan kembali seperti dulu, fungsi utamanya kembali sebagai saluran irigasi.

Sempat saya lihat plang nama atau pertanda kebun-kebun yang mulai diurus secara lebih serius, beberapa ada pendampingan dari mahasiswa KKN IPB. Semoga berkelanjutan, memang tak akan serta merta jadi penyangga ketahanan pangan di Jakarta, setidaknya akan menginspirasi untuk memulai bercocok tanam dan penyangga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Semoga ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *