Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya

Sentra Anggrek di Tangerang Selatan – 1

Beberapa waktu lalu, saya sempat post di akun Instagram soal pembagian ‘wilayah kekuasaan’ pedagang bunga di Rawa Belong.

Penasaran dari mana datangnya anggrek yang ‘dikuasai’ pedagang Betawi, saya mulai cari-cari informasi. Dan ternyata, anggrek di Pasar Bunga Rawa Belong, seperti halnya dengan bunga-bunga jenis lain, ada dua macam, lokal dan impor.

Keduanya, baik lokal maupun impor sama-sama merupakan anggrek potong jenis Dendrobium sonia, berwarna ungu atau putih. Yang impor, berasal dari Thailand. Bentuknya sama persis dengan yang lokal, hanya saja ukuran kelopak bunganya lebih besar, serta batangnya lebih kokoh dan panjang.

Anggrek impor ini juga dikemas dengan lebih baik dalam plastik pembungkus lengkap dengan klasifikasi ukuran. Perhatikan juga bagian pangkal tangkainya yang dikemas dalam kapsul berisi air untuk menjaga kesegarannya.

Sementara anggrek lokal, selain ukurannya lebih kecil. Pengemasannya nyaris tak ada. Hanya diikat karet gelang per sepuluh tangkai, lalu dibungkus lembaran koran bekas.

Anggrek lokal ini menurut para pedagang disuplai oleh petani anggrek dari Tangerang Selatan. Waaa, jadi penasaran dong lihat kebunnya.

Dan ini lah catatan perjalanan saya berburu anggrek ke Tangerang Selatan.

Pedagang Rawa Belong hanya menyebut Serpong dan Pamulang, tepatnya di mana tak ada yang tahu. Andalkan browsing dan tanya sana-sini, akhirnya nemu Restoran Kampung Anggrek, asumsi saya, kalau ada bau-bau anggreknya besar kemungkinan pasti sudah satu area. Dan benar saja, sentra anggrek yang saya cari, ada di Kampung Buaran, tepatnya di Jalan Niban Rimin, persis di samping kanan restoran ini.

Baru masuk, tak lama saya menemukan kebun pertama. Karena penasaran, saya lanjutkan dulu menyusuri jalan, mencari apakah ada kebun lainnya. Hingga nyaris di ujung jalan yang tembus ke Raya Pusiptek belum kelihatan lagi kebun lainnya. Tanya-tanya warga sekitar, rupanya sebagian kebun berada di dalam, harus masuk gang dulu untuk mencapainya. Ragu dengan ukuran jalannya, kali ini saya skip dulu deh daripada ribet. Saya putuskan kembali ke kebun pertama.

Kebun ini cukup luas, sayangnya sedang tutup sementara karena kerusakan separuh lebih tanamannya akibat salah semprot obat tanaman. Sebagian sisanya merupakan anggrek dendro berwarna putih. Lumayan lah, masih ada yang bisa dilihat.

Dan benar, dari sini lah anggrek potong lokal di Rawa Belong berasal. Rata-rata petani anggrek di kawasan ini, menanam anggrek jenis dendro sonia.

Sebagian besar dijual berupa anggrek potong, tapi ada juga berupa tanaman dalam polybag. Rata-rata dijual seharga 35-50 ribu per polybag, tergantung ukuran dan kualitasnya.

Dan dua buah tanaman sudah berpindah ke rumah saya, saya beli seharga 75 ribu saja. Lumayan murah untuk tanaman yang sudah banyak calon bunganya, sebagian sudah mekar sekarang.

Sudah tuntas penasaran dari mana datangnya anggrek potong ini? Beluuumm. Masih ada satu jenis anggrek yang sekarang sudah dijadikan salah satu ikonnya Tangerang Selatan. Anggrek Vanda Douglas, yang ditanam di Pamulang.

Mari meluncur ke sana!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *