Cultural, History, Travelling

Denyut Palmerah, Dulu hingga Kini

Lanjutan dari kisah awal mula berdenyutnya kehidupan di Palmerah... Setelah Hartsinck membuka kawasan perkebunan di Palmerah, tentu saja pertanyaan saya berikutnya adalah ke mana ia menjual hasil kebunnya? Apakah Pasar Palmerah ada kaitannya? Apakah pasar ini ada sejak masa rumah perkebunan Hartsinck berdiri? Saya tak menemukan informasinya. Informasi lebih meyakinkan justru soal sebuah kelenteng di… Continue reading Denyut Palmerah, Dulu hingga Kini

Cultural, History, Travelling

Landhuis Grogol a.k.a Gedong Tinggi, Awal Denyut Nadi Palmerah

Bahkan sebelum jadi warga Jakarta, saya sudah mengenal Palmerah, lewat Majalah Bobo, bacaan saya sejak SD. Belakangan, Palmerah sering jadi perhatian karena stasiunnya yang bertransformasi jadi super keren. Tapi ada apa saja sebenarnya di Palmerah? Kenapa namanya Palmerah? Apa hubungannya sama Pal Putih, Palmeriam, dan pal-pal lainnya di Jakarta? Saya dan kawan-kawan Klub Tukang Jalan… Continue reading Landhuis Grogol a.k.a Gedong Tinggi, Awal Denyut Nadi Palmerah

Cultural, History, Travelling

Karangantu, Dulu Berjaya Sekarang Terlupa

Sebut pelabuhan di Banten yang kamu kenal! Kalau pertanyaan itu kita lontarkan, saya yakin sebagian orang akan menyebut Merak. Dalam setahun, setidaknya dua kali pemberitaan tentang pelabuhan ini begitu ramai. Saat libur Idul Fitri dan akhir tahun. Sedangkan untuk pelabuhan kapal pengangkut kontainer, mungkin Port of Banten di Ciwandan yang banyak dikenal. Tapi tahukah kamu,… Continue reading Karangantu, Dulu Berjaya Sekarang Terlupa

Cultural, History, Travelling

Ke Madiun, Saya (akan) Kembali…

Apa yang terlintas di benakmu saat terlintas kata Madiun? Iseng-iseng saya bertanya di story Instagram kemarin. Dan jawaban terbanyak adalah pecel!! Berikutnya brem. Jawaban ini tentu saja tak mengejutkan. Madiun memang sangat termasyhur dengan pecelnya, meski sebenarnya, tak hanya Madiun kota yang punya pecel sebagai kuliner khasnya. Sedangkan brem, cemilan manis berbahan dasar sari ketan… Continue reading Ke Madiun, Saya (akan) Kembali…

History, Travelling

De Javasche Bank Building Surabaya

Juli kemarin, tiba-tiba pekerjaan saya mengarah ke timur. Dari yang awalnya hanya ke Cirebon, tahu-tahu bergeser sampai Solo. Setiba di Solo, seorang teman di Surabaya langsung manas-manasin, "Solo Surabaya tuh cuma tiga jam lho."Hahahaha, tau aja, kalau saya tuh ngga bisa liat aspal, bawaannya pengen ngegas. Tak pikir (terlalu) panjang, ya sudahlah, Surabaya here I… Continue reading De Javasche Bank Building Surabaya

History, Travelling

Cadas Pangeran, Rute Cadas Jalur Daendels

Masih dalam rangkaian #telusurjalurdaendels (versi saya), yang kemarin sudah diawali dengan perjalanan menuju Titik Nol Kilometer Anyer. Kali ini, saya menyelesaikan penggalan kedua, (yang dilakukan secara tak berurutan), Sumedang-Cirebon. "Lho, Jalur Daendels bukannya Pantura mbak?", tanya seorang teman kemarin. Iya, sebagian besar. Anyer-Jakarta ada di Pantura. Jakarta menuju Cirebon, lewat Bogor, Puncak, Bandung, Sumedang, Palimanan,… Continue reading Cadas Pangeran, Rute Cadas Jalur Daendels

Cultural, History, Travelling

Sejarah Panjang di Pulo Geulis

"Saya yakin Pulo Geulis ini merupakan tempat istimewa, karena ngga mungkin ada kelenteng yang dibangun di sembarang tempat." Tutur Pak Bram, tokoh Pulo Geulis memulai obrolan kami sore itu. Pulo Geulis memang tak setenar tempat-tempat lain di Bogor, namun Pulo Geulis menyimpan cerita sejarah yang sangat panjang. Kelenteng Phan Ko Bio sudah ada pada saat… Continue reading Sejarah Panjang di Pulo Geulis

History, Travelling

TMP Nasional Utama Kalibata

Hari Minggu lalu, saya berkesempatan ke satu tempat di Jakarta yang sudah lama ingin saya kunjungi. Tapi karena ngga ada moment-nya, ngga juga kesampaian. Lucunya, ketika akhirnya kesampaian pun, jadinya tanpa moment alias tanpa rencana. Lha wong sekalian lewat, sekalian habis meeting di Kalibata City Square. Voila! Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata. Sebelas menit… Continue reading TMP Nasional Utama Kalibata

Cultural, History

Kelenteng Phan Ko Bio, Pulo Geulis, Bogor

Setelah menyeberangi jembatan Pulo Geulis yang saya ceritakan kemarin, kami berjalan menyusuri jalan kampung dan tak lama berjalan kami sampai di icon wilayah ini, Kelenteng Phan Ko Bio a.k.a Vihara Maha Brahma a.k.a Kelenteng Pulo Geulis. Saya disambut oleh Pak Abraham, pegiat budaya di Pulo Geulis. Masih di halaman depan, saya sudah menangkap kesan berbeda.… Continue reading Kelenteng Phan Ko Bio, Pulo Geulis, Bogor

History, Travelling

De Tjolomadoe, Karanganyar, Solo

Colo artinya gunung. Maka nama Colomadu adalah semacam harapan, agar hasil produksi pabrik gula yang didirikan tahun 1861 oleh Mangkunegaran IV ini menghasilkan gunungan hasil produksi. Dan harapan ini tak salah. Pabrik ini pernah berjaya, bahkan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Namun pergerakan jaman membawa banyak perubahan. Kawasan sekitar pabrik yang dulunya tanah subur… Continue reading De Tjolomadoe, Karanganyar, Solo