Categories
Jelajah

Glamping Lakeside Rancabali Ciwidey

Kalau kita search #jelajahbandung atau #jelajahciwidey, ada satu tempat wisata yang pasti akan muncul akhir² ini. Apakah itu?
Yesss, Glamping Lakeside Rancabali, Ciwidey, Kab. Bandung yang kondyaaaaangg banget Phinisi Restonya.
Saat bertugas ke Bandung kemarin, penasaran juga kan saya. Sempat ragu karena sama sekali ngga tahu medan dan harus nyetir sendiri, tapi ya sudah lah, sikaaatt, namanya juga berpetualang 😁.
Saya mengawali perjalanan dari wilayah Setrasari, tempat saya menginap. Masuk GT Pasteur sekitar pukul 10.05, menuju Pasir Koja, lalu bablas via tol baru, Tol Soroja! Uhuuuuuyyy…


Perjalanan menuju Soreang yang dulunya selalu makan waktu antara 1.5-2 jam, kali ini saya tempuh dalam 7 menit saja! Bayangkan… Belum lagi bonus pemandangan yang tentunya jauh lebih menyenangkan dibandingkan Raya Kopo yang padat itu.
Dan ternyata, menuju lokasi relatif mudah kok. Petunjuk arah banyak, saya pakai gmaps ngga meleset sedikitpun. Selepas Tol Soroja, kita akan sampai di pusat kota Soreang, jalanan masih cukup lebar. Namun selepas alun-alun, jalanan mulai menyempit. Karena kemarin hari Minggu, wajar kalau jalanan cukup padat. Tapi so far so good, masih lancar, hanya sedikit terhambat antrian panjang di sekitar Pasar/Terminal Cibeureum. Lepas itu jalanan kembali lancar.

Kondisi jalan juga cukup bagus, beberapa spot agak bumpy tapi ngga mengganggu. Tanjakan/turunan juga ngga ada yg sulit. Kalau istilah saya, cuma tanjakan gigi tiga, ngga butuh skill nyetir advanced untuk melaluinya 😁

Satu-satunya yg perlu diperhatikan adalah, di hari libur, jalanan yg tidak terlalu lebar ini cukup padat. Selain harus berbagi jalan dengan sesama kendaraan bermotor, juga ada komunitas cycling yg speednya jangan disamain sama mobil. Tapi rata² mereka paham etika kok. Aman lah..
Sepanjang perjalanan menuju Glamping Lakeside saya mendapat kesan bahwa pariwisata di wilayah itu cukup berkembang. Sepanjang jalan kita akan melihat banyak tempat wisata, hotel, restoran dengan berbagai kelas. Minimarket banyak ditemui. Demikian juga SPBU, total ada 4 SPBU yang saya temui, salah satunya (pom bensin terakhir sebelum lokasi tujuan) cukup besar.

Akhirnya, sekitar pukul 11.00 saya memasuki wilayah Rancabali, waktunya memanjakan mata dengan hamparan kebun teh milik perusahaan Walini. Hijaaaauu dimana-mana.

Jangan terlalu ngebut, setelah menemukan papan penanda besar bertuliskan Situ Patenggang di sisi kiri, akan terlihat patung phinisi dan papan nama Glamping Lakeside di sisi kanan.

Masuk saja, gerbang loket tiket akan segera terlihat. Kemarin karena ngga ambil paket saya membayar tiket masuk Rp 20.000, parkir Rp 5.000 dan deposit kartu akses masuk Rp 10.000 yang dikembalikan saat keluar.

Setelah melewati loket, saya bergegas menuju resto, maklum lah, terlalu penasaran hehee.. dan begitu pandangan saya menyapu arah danau, masya Allah, breathtaking, saya ngga mampu melukiskannya dengan kalimat. Lebih baik nikmati foto-fotonya saja ya 😊
Pemandangan ke arah kapal

Pemandangan dari atas kapal

Pas tengah hari saat saya berada di atas phinisi, matahari tepat di atas kepala, menjadikan area haluan kapal yang jadi tempat favorit pengunjung restoran menjadi panas dan tak bisa ditempati. Ramai pengunjung hanya berfoto saja.


Beruntung, saya menemukan satu meja kosong di lantai dua buritan kapal. Kalau berkunjung di tengah hari, bagian ini adalah spot terbaik karena terlindung dari terik matahari. Dari area ini kita bisa melihat deretan tenda-tenda glamping alias glamorous camping yang tampak nyaman. Suatu saat nanti, pengen juga merasakan menginap di sana. Menikmati sunset dan sunrise pasti akan sangat menyenangkan.


Saya tak memesan makanan, hanya minum es teh manis, karena antrian kasir cukup panjang, sementara saya tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama mengantri. Sekitar satu jam saya berada di sana, maunya sih lebih lama, tapi hari itu juga saya harus pulang dan semakin sore/malam tol menuju Jakarta pasti makin padat. Lagi pula, saya sudah berencana untuk mampir ngopi di satu kedai yang sempat mencuri perhatian di jalan tadi.
Pemandangan arah pulang

Selain itu, akan banyak kita temui penjual strawberry, baik asongan maupun kios. Saya memilih menuruti intuisi untuk belanja di pedagang kios saja. Dan syukurlah, dapet yang jujur. Kualitasnya cukup baik, harganya juga masuk akal. Dua kantong besar strawberry (lebih dari 2 kg), saya tebus dengan Rp 60.000 saja.


Sambil jalan pulang, mampir lah saya di kedai kopi yang saya sebutkan tadi. Namanya Kedai Kopi Gunung. Sebenarnya di sepanjang jalan saya sempat melihat 2-3 kedai kopi. Tapi ini yang benar-benar menarik ingin saya kunjungi. Satu karena warnanya yang kuning. Kedua karena kedai ini tampak cozy. Duduk santai di bangku kayu, menikmati silir angin sejuk, menghirup wangi dan menyesap hangatnya kopi sambil mengamati kesibukan sekitar. Surga dunia!


Kedai kopi ini hanya menyajikan kopi seduh manual ya, jadi penikmat kopi-kopi fancy jelas tidak akan bahagia hehehe. Biji kopinya juga kebanyakan asli Jawa Barat, bahkan bener-bener lokal, dari lereng Pegunungan Patuha dan Pangalengan. Saya pilih kopi Malabar dari Pangalengan yang disajikan dengan vietnam drip. Perfecto!
Dan, berakhir lah cerita perjalanan saya.
Perjalanan yang ingin saya ulang lagi di hari kerja. Supaya bener-bener bisa menikmati suasana yang jauh dari kebisingan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *