Categories
BPN Ramadan 2021 Hobi Pengembangan Diri

My Highest Achievement

Pencapaian itu perlu ngga sih?

Kalau buat saya sih perlu. Hasil psikotes menunjukkan saya tergolong orang dengan need of achievement yang tinggi. Dan seingat saya, sejak remaja saya memang sudah hobi menentukan target-target yang harus saya capai, lalu bekerja ekstra keras untuk mendapatkannya.

Saya ingat betul gimana dulu mati-matian belajar supaya bisa tembus UMPTN, magang kerja waktu kuliah sekedar membuktikan kalau saya sanggup make money sendiri, kerja keras hingga bisa dipromosikan ke posisi yang cukup prestige hanya dalam beberapa bulan pertama masa kerja, dan semua saya lakukan dengan senang hati.

Setiap periode waktu, saya bertanya pada diri sendiri, pencapaian terbesar apa yang sudah saya raih? Dan itu terus saya lakukan, bahkan hingga sekarang. Bedanya, seiring waktu, bentuk pencapaiannya yang berubah.

Jaman sekolah, kuliah, bentuk pencapaian terbesar tentu saja prestasi akademik maupun non akademik. Tembus UMPTN, IPK, jadi pengurus OSIS, aktif di kegiatan sampai level nasional bahkan internasional.

Saat masuk dunia bekerja, ukuran tingginya pencapaian kebanyakan yang berhubungan dengan jabatan dan materi yang menyertainya. Take home pay-nya tembus angka berapa, saya bisa beli apa aja, punya apa saja. Begitu jadi ibu, bentuknya berubah lagi. Anak harus gimana, sekolah di mana, punya prestasi apa.

Lalu semua mulai berubah sebelas tahun yang lalu, saat sahabat saya wafat tak terduga di usia yang super muda. Saat itu, saya yang juga sedang banyak belajar mengenal diri untuk lebih mengenal Tuhan merasa, apa sebenarnya yang saya cari?

Sering sekali saat itu saya bertanya ke diri saya sendiri. Kalau kelak saya tiada, yang mana yang lebih saya inginkan, diingat sebagai orang yang sukses atau orang yang bermanfaat?

I found my turning point..

Sejak saat itu semua berubah. Bukan lalu jadi santai hidup tanpa target dan kerja keras. Semua tetap. Saya tetap membutuhkan target-target tertentu untuk panduan arah melangkah. Mimpi diubah jadi target. Target diubah jadi rencana. Rencana diubah jadi tindakan.

Yang berbeda, kalau dulu semua untuk saya, semua untuk keluarga, menjadi seberapa banyak ini bisa bermanfaat untuk orang sekeliling saya, lebih besar lagi, untuk bangsa dan negara.

Target-target tak lagi berupa angka atau benda. Menaklukkan diri sendiri adalah salah satunya. Tahun 2019, pencapaian terbesar saya adalah berani mengalahkan rasa ragu untuk all out, membesarkan Citta, termasuk terjun di urusan sales/marketing yang dulunya tak pernah berani saya lakukan.

Tahun 2020, saya berproses dari manusia yang hanya bisa bekerja dengan benda/data, jadi bisa ketemu manusia, ngobrol, nego, sampai bisa closing a deal.

Tahun 2021 beda lagi sepertinya. Tempaan pandemi, kesempatan bertahan bahkan bertumbuh meski lambat sementara banyak yang hancur, membuat saya semakin punya bentuk pencapaian yang berbeda.

Jadi kalau hari ini ditanya apa pencapaian terbesar saya?

Saya mulai bisa me-manage diri saya menjadi pribadi yang mudah merasa cukup. Yang saya kejar, yang saya dapat, sebisa-bisanya untuk lebih banyak manfaatnya buat lebih banyak orang. Doakan istiqomah ya! 🙏🏻

Entry untuk challenge 30 hari menulis di blog selama Ramadhan 1442H. #BPNRamadan2021 #Day4 #latepost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *