Categories
Jelajah Masyarakat & Budaya Sejarah

Gapura Bajang Ratu Trowulan

Titik berikutnya yang saya kunjungi setelah Candi Wringin Lawang dan Kolam Segaran, saya melipir ke Candi Bajang Ratu. Ngomongin Bajang Ratu, berarti ngomongin Jayanegara dan ini lah beberapa hal menariknya.

Pertama. Bajang artinya kecil/muda. Ratu artinya raja. Konon adalah sebutan bagi Jayanegara, raja kedua Kerajaan Majapahit, yang naik tahta di usia yang sangat muda. Lahir 1294, dinobatkan 1309, berarti sekitar lima belas tahun ya usianya.

Kedua. Menurut pemandunya, bangunan ini tidak tepat disebut candi, mengingat sebenarnya ini adalah sebuah gapura paduraksa (gapura beratap) menuju ke sebuah bangunan suci. Apabila merujuk pada kebiasaan organisasi bangunan masa itu, gapura ini harusnya berada di posisi tengah, penghubung antara gapura bentar di bagian luar dan bangunan suci di bagian dalam. Sayangnya, hingga saat ini belum ditemukan kedua bangunan lainnya dan belum diketahui juga apakah ini karena keduanya sudah runtuh atau justru belum selesai dibangun.

Ketiga. Dugaan bahwa bangunan ini belum selesai dibangun sangat kuat, dengan ditemukannya sebuah relief yang hanya ada di dinding satu sudut bangunan, sementara ketiga sudut lainnya kosong.

Keempat. Bangunan ini tidak dibuat dalam rangka penobatan raja, melainkan dua belas tahun setelah wafatnya Jayanegara, setelah berkuasa selama sembilan belas tahun. Dibangun oleh Tribhuwana Tunggadewi, raja/ratu ketiga Majapahit, suksesornya Jayanegara.

Kelima. Jayanegara mati muda diusia 34 tahun. Masa pemerintahan Jayanegara adalah masa pergolakan di awal sejarah Majapahit. Naik tahta sebagai raja yang berstatus putra selir, Jayanegara harus menghadapi beberapa kali pemberontakan dari pihak yang tidak terima. Tragisnya, ia tewas tidak di dalam empat pemberontakan yang terjadi melainkan saat situasi sudah tenang, di dalam istana, di tangan tabibnya sendiri, Ra Tanca.

Kontroversi kematian Jayanegara ini menarik. Melibatkan banyak nama, termasuk Gajahmada yang saat itu belum bergelar Mahapatih. Gajahmada diduga otak dari rencana pembunuhan ini, namun menggunakan kemarahan Ra Tanca yang istrinya digoda oleh Jayanegara. Ya, Jayanegara dikenal memiliki perilaku yang kurang baik dan tak cakap memerintah.

Mendengar cerita ini, lagi-lagi saya tersenyum kecut. Ini kesekian kalinya saya mendengar peseteruan perebutan tahta di Nusantara. Di Banten, sambil memandang reruntuhan keraton yang nyaris rata tanah saya juga mendengar cerita serupa.

Btw, meski tak sebesar Gapura Wringin Lawang, bangunan ini juga cukup besar. Tingginya mencapai 16 meter, dasarnya sekitar 11 x 10 meter.

Bandingkan dengan ukuran saya..

Seperti rata-rata bangunan lain di Trowulan, Gapura Bajang Ratu dibuat dari bata merah yang disusun dan direkatkan dengan metode gosok tempel. Ada sedikit penggunaan batu andesit di bagian dasar celah gapura.

Sisi barat bangunan

Ini adalah sisi bangunan yang dindingnya tanpa relief. Saya lupa memotret dinding yang ada relief Sri Tanjungnya.

Di bagian atas gapura, terdapat ukiran relief Kala, hingga ke puncaknya. Menurut kepercayaan, Kala pada relief gapura memiliki fungsi sebagai pelindung dan penolak dari marabahaya (roh-roh jahat). Simbol cakar pada kanan-kiri kepalanya sebagai bentuk ancaman terhadap kejahatan yang akan mengusik kesakralan dan kesucian bangunan.

Tapi saya menangkap sebuah pesan lain di sini. Di sebuah monumen yang mengenang kematian seorang raja, Kala yang merupakan simbolisasi dari waktu, menjadi sebuah lonceng atau pengingat bagi manusia. Bahwa kehidupan manusia akan ‘dimakan’ oleh waktu. Penggambarannya yang seram, semacam ‘mengancam’ manusia untuk takut kalau keberadaannya di dunia yang terbatas usia menjadi satu hal yang sia-sia.

Gapura Bajang Ratu terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Tak sulit mencarinya, arahan dari google maps sangat tepat.

Berada dalam lingkungan berarea luas, sayangnya kita tak bisa memarkirkan kendaraan di dalam. Saat sepi seperti kemarin saya leluasa memarkirkan tepat di luar pagar area. Tersedia juga area parkir yang dikelola warga.

Lingkungannya terawat rapi dan bersih. Saat saya berkunjung, tak ada tiket masuk, cukup donasi sukarela. Kalau butuh dipandu, juru pelihara akan siap membantu, termasuk menceritakan kisah-kisah tentang gapura ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *